Senin, 02 September 2013

Proyek Restorasi Sharp Ace Bagian 3-2: Membersihkan Laras (Barrel Polishing) - Hasil

Beberapa waktu lalu saya melakukan pemolesan laras karena permasalahan akurasi yang memburuk diduga akibat proses bronir yang tidak apik. Pada postingan kali ini saya akan melaporkan hasil pengujian dengan menggunakan berbagai mimis untuk melihat pengaruh pekerjaan saya terhadap peningkatan akurasi. Saya sengaja memisahkan bagian ini karena saya membutuhkan waktu untuk mengumpulkan data. Dikarenakan kesibukan pekerjaan saya dan urusan rumah tangga, saya baru melaporkannya saat ini.
Sekedar mengingatkan kalau saya penembak pemula jadi banyak hal teknis mengenai menembak yang baru saya pelajari dan terapkan. Jangan harapkan hasil menembak yang bagus dari saya. Apalagi dengan faktor lingkungan yang tidak terkontrol seperti kecepatan angin, suhu, kelembapan, dan lain-lain. Semoga dengan banyaknya jumlah sampel, bisa memberi hasil akhir yang bisa dipercaya. Saya bukanlah peneliti bersertifikat dan bukan pula ahli statistik, jadi jangan percaya begitu saja dengan hasil kesimpulan data ini. Masalahnya pekerjaan ini mengenai jeroan laras yang buat kebanyakan penembak dianggap sakral.
Untuk informasi tambahan, restorasi tahap 3 ini sudah saya lakukan sebelum posting saya mengenai Having Fun @ Cirebon. Jadi mungkin saja pekerjaan ini yang membantu saya menghasilkan beberapa 1-shoot-scoring waktu itu.

Untuk kontrol pekerjaan pemolesan, saya melakukan uji tembakan sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan ini. Jarak waktu pengambilan sampel paling cepat 1 hari dan paling lama 3 hari antara dua kelompok perlakuan. Saya menembak tidak pada jam tembak yang sama. Saya melakukan uji tembak pada jarak 20 meter dengan 5x pompa. Saya menembak pada ketinggian 700 m dari permukaan laut yang diketahui lewat GPS ponsel. Khusus Crosman Premier yang lebih berat, saya gunakan 6x pompa. Saya tidak menggunakan kertas target yang resmi melainkan hanya kertas HVS 80 gms yang saya cetak dengan printer. Cara pengukuran group saya tidak bisa dikatakan benar karena saya masih mencari metoda ukur yang tepat. Saat laporan ini saya posting definisi center-to-center yang saya gunakan ialah mengambil tengah-tengah lubang yang dibuat oleh mimis pada kertas target, jadi menentukan di mana titik tengah lubang bisa saja salah. Alat ukur yang saya gunakan adalah jangka sorong manual. Saya menembak menggunakan penopang senapan dalam posisi duduk dan senapan diletakan di meja. Tidak ada perbedaan teknik menembak dalam dua kelompok perlakuan.
Saya membuat group yang terdiri dari 5 tembakan (5-shot-group). Untuk satu sesi menembak, saya membuat 6 group sehingga minimal saya telah menembak sebanyak 30 kali. Sebelumnya saya melakukan zeroing sebanyak 5 tembakan juga untuk setiap sesi menembak. Saya tidak mengeluarkan flyer (mimis yang mengenai kertas target jauh dari group) dalam perhitungan diameter group.
Inilah hasil yang saya peroleh.


Analisis amatiran saya akan data di atas menunjukkan bahwa secara umum terdapat peningkatan atau perbaikan dari akurasi senapan. Hal ini ditunjukkan dengan penyempitan diameter group pada semua jenis mimis yang diuji. Bahkan peningkatan sangat besar didapatkan pada mimis Crosman Premier 10,5 gr sebesar 42,82%. Signifikan? Biar urusan orang statistik saja.

Gambar 1. Hasil 5-shot-group Crosman Premier Domed 10.5 gr Cardbox Sebelum Pemolesan. Menyedihkan dan saya masih punya 1,180 biji lagi.

Data yang menarik juga ditunjukkan dari ukuran grup terkecil yang bisa didapatkan oleh RWS Superfield. Bertentangan dengan reputasi RWS Superdome yang populer, ternyata RWS Superfield bisa mengungguli akurasi RWS Supedome. Namun rupanya hasil ini tidak konsisten didapatkan sehingga rata-rata grouping RWS Superdome masih lebih unggul daripada RWS Superfield, walaupun group RWS Superdome sendiri tidak ada yang terlalu sensasional.

Gambar 2. Hasil 5-shot-group RWS Superfield 8.4 gr Setelah Pemolesan. Definisi "nitik" baru buat saya tapi sayangnya tidak terlalu konsisten.

Dari data ini hal menarik juga didapatkan bahwa perbaikan akurasi RWS Superdome didapatkan tidak terlalu banyak berubah setelah pemolesan dilakukan. Rupanya mimis ini lebih toleran dan pemaaf pada berbagai kondisi dalaman laras. Tidak heran mimis ini begitu populer di kalangan penembak tanah air dan manca negara, selain juga akan kenyataan bahwa harga mimis ini lebih murah dibandingkan merek impor lainnya.

Gambar 3. Hasil 5-shot-group RWS Superdome 8.3 gr. Favorit saya dan favorit banyak orang.

Kesimpulannya, mungkin pemolesan laras cara saya ini bisa memperbaiki akurasi pada laras yang baru atau laras yang baru dibronir ulang. Tapi kesimpulan pasti: saya tidak merusak senapan saya. Alih-alih saya justru memperbaiki/mengembalikan akurasi senapan ini. Dan hal itu membuat saya semakin menghargai senapan saya dan mengerti mengapa beberapa orang berlebihan menaksir nilai dan potensi laras senapan Sharp Ace generasi awal.
Terbuka untuk pertanyaan dan diskusi. Semoga bermanfaat.
Poskan Komentar