Rabu, 18 September 2013

Referat: Apa Itu Grouping dan Center-to-Center?

Posting ini adalah sari pembelajaran dari berbagai situs dan forum mengenai metoda penghitungan grouping mimis. Saya merasa perlu mempelajari metoda ukur grouping untuk memberikan pengertian yang benar, hasil yang dapat dipercaya, dan akhirnya keseragaman persepsi mengenai istilah center-to-center.

Bagaimana akurasi menembak dinilai? 
Pertanyaan ini yang menjadi pemikiran saya sewaktu memulai hobi menembak ini. Saya salah satu penikmat suguhan video di Youtube. Awalnya saya sangat terkesan dengan kemampuan para penembak di sana. Sasaran yang sangat jauh dan kecil dapat ditembak dengan tepat pada "sekali" percobaaan. Saya mulai berlatih untuk mendapatkan hasil yang serupa dengan senapan yang saya miliki. Banyak waktu dan mimis saya habiskan untuk mencapai hasil seperti para penembak tersebut. Namun permasalahannya, apakah saya telah mengalami peningkatan? Adakah indikator yang dapat dipercaya untuk peningkatan akurasi menembak?

Setelah saya pelajari, ternyata ada metoda ukur untuk menggambarkan suatu akurasi. Seperti diketahui, akurasi menembak sangat dipengaruhi oleh faktor penembak (man and method), senapan yang digunakan (machine), dan lingkungan menembak (media). Kombinasi semua faktor itu akan menghasilkan akurasi yang berbeda. Untuk mengukur akurasi sering dilakukan beberapa tembakan dengan faktor yang terkendali kepada satu sasaran yang sama. Jumlah proyektil yang lazim ditembakkan untuk pengukuran ini biasanya 5 sampai 10 kali. Sasaran yang digunakan biasanya kertas target. Proyektil yang mengenai sasaran harusnya membentuk kelompok (grouping) dan ukuran group tersebut dapat diukur besarnya. Ukuran group tersebut dapat menggambarkan tingkat akurasi tembakan, dengan kata lain semakin kecil group maka tembakan tersebut dianggap semakin akurat.
Grouping suatu tembakan biasanya ditentukan dengan jarak dari dua lubang terjauh yang dibuat proyektil pada kertas target. Jarak ini seolah-olah membentuk area berbentuk bundar dengan jarak terjauh yang diukur tersebut bertindak sebagai diameter lingkarannya.

Gambar 1. 5-shot-group. Untuk menentukan diameter group, tentukan 2 lubang terjauh dari group (warna merah). Diameter center-to-center ditandai dengan garis hitam (menunjukkan jarak dari kedua pusat proyektil yang terjauh).

Bagaimana Mengukur Diameter Group?
Dalam mengukur diameter group dikenal istilah center to center. Mengapa hal ini penting? Masalahnya adalah kaliber senapan itu beragam. Selain ukuran kaliber mimis 4.5 mm, senapan angin memiliki kaliber 5.0, 5.5 mm, dan bahkan lebih dari itu. Ukuran kaliber senapan api bahkan bisa lebih besar lagi. Kesemuanya itu memerlukan bahasa dan nilai yang sama untuk menggambarkan akurasinya. Maka digunakanlah pengukuran dari pusat proyektil menuju pusat proyektil yang lain sehingga ukuran kaliber proyektil tidak menjadi masalah dalam menggambarkan akurasi tembakannya. Bayangkan jika diameter grouping diukur menggunakan jarak terluar dari lubang proyektil di kertas target, tentu saja proyektil dengan ukuran terkecil akan memiliki keuntungan karena diameter mimisnya yang lebih kecil. Begitupun sebaliknya, bila jarak terpendek yang digunakan akan menguntungkan proyektil dengan kaliber lebih besar. Untuk lebih jelasnya, perhatikan ilustrasi yang saya buat.

Gambar 2. Ilustrasi Mengenai Efek Perbedaan Kaliber Proyektil. Pada grouping yang identik, panjang diameter terjauh dari kaliber proyektil yang lebih besar (A) akan selalu lebih panjang daripada kaliber yang lebih kecil (B). Di sinilah pentingnya pengukuran jarak didasarkan pada diameter center-to-center.

Mengukur diameter grouping biasanya menggunakan jangka sorong (caliper). Untuk pembacaan lebih teliti dan mudah, dapat juga digunakan jangka sorong digital. Penggaris berskala biasa juga dapat digunakan. Kertas target berkualitas juga sangat dianjurkan untuk urusan ini. Namun sepertinya membeli kertas khusus untuk ditembaki terasa sebagai pemborosan. Tapi pastilah ada alasan kenapa tetap ada yang memproduksi kertas target ini dan kenapa event-event resmi menggunakan kertas target ini. Kalau saya sendiri cukup puas dengan kertas karton manila yang dicetak dengan printer.

Gambar 3. Menggunakan Kertas HVS 80 gms Sebagai Target. Bisa dilakukan, namun sulit mendapat batas yang tegas. Walaupun sudah menggunakan mimis berhidung wadcutter.


Untuk mengukur diameter center to center, dari hasil pencarian saya, didapati beberapa metoda. Saya rangkumkan seperti di bawah ini. Berdasarkan alat bantu yang digunakan metoda penghitungan dibagi menjadi:
1. Metoda Langsung (Direct Measurement)
Pada metoda ini, kertas target langsung diukur menggunakan alat pengukur yang biasanya adalah jangka sorong. Sederhana, murah dan mudah dikerjakan. Kadang-kadang, tergantung bentuk grouping yang diukur, metoda ini sulit mendapat hasil yang bisa dipercaya. Terutama pada grouping yang sangat rapat sehingga sangat bertumpuk.

Gambar 4. Grouping yang Rapat dan Bertumpuk. Bagaimana cara mengukur ukuran group yang seperti ini? Diambil dari http://voices.yahoo.com/how-measure-bullet-shot-group-accuracy-thousandth-8537103.html


2. Metoda  Tidak Langsung (Assisted Measurement)
Pada metoda ini digunakan alat bantu. Penggunaan alat bantu ini dapat mengatasi permasalahan grouping yang bertumpuk di mana batas antar lubang tembakan menjadi tidak jelas. Beberapa yang saya dapati seperti menggunakan gulungan kertas berputar yang merekam setiap tembakan di belakang target utama sehingga didapatkan ukuran lubang secara individual. Ada juga yang menggunakan lempeng bundar berukuran standar sesuai kaliber proyektil yang ditembakkan untuk mempertegas batas bekas tembakan. Metoda ini biasa digunakan pada event resmi.

Metoda langsung sendiri juga dibagi menjadi beberapa cara pengukuran, yaitu (istilah bakunya tidak ada, hanya istilah karangan saya sendiri):
a. Metoda perkiraan pusat 
Ujung jangka sorong atau penggaris berskala ditempatkan pada pusat lubang dengan cara kira-kira. Cara ini paling tidak dapat dipercaya karena perkiraan pusat setiap orang bisa saja berbeda. Apalagi bila grouping bertumpuk membentuk satu lubang besar.

Gambar 5. Memperkirakan Pusat Lubang. Bagaimana bila skala pengukur lebih kecil lagi? Di mana kita akan menentukan pusat lubangnya? Diambil dari http://1000yardhunter.com/about_us


b. Diameter maksimal group dikurangi kaliber mimis
Ukur diameter terluar lubang termasuk kertas yang terdapat warna abu-abu akibat terkena mimis tapi tidak ikut robek atau berlubang. Hasil pengukuran di atas lalu dikurangi dengan kaliber mimis dalam satuan yang sama (misalnya skala yang dipakai dalam milimeter maka kaliber mimis yang dipakai juga dalam skala milimeter). Kelemahan metoda ini adalah bilamana menggunakan profil hidung mimis selain wadcutter, kertas tidak terlubangi dengan sempurna sehingga ukuran lubang bisa saja lebih kecil daripada ukuran mimis yang ditembakkan. Atau pada suatu group di mana kaliber mimisnya tidak diketahui, sulit untuk mengetahui angka pengurangnya. Tapi bisa saja hal ini diakali dengan mengukur diameter lubang secara individual kemudian ukuran diameter lubang tersebut yang digunakan sebagai faktor pengurang menggantikan ukuran kaliber mimis. Namun kekurangannya pada grouping yang bertumpuk hal ini sulit juga untuk dilakukan.

Gambar 6. Menentukan Diameter Maksimal dari Lubang Proyektil (X).


Gambar 7. Alternatif Pemecahan Masalah pada Grouping Rapat  yang Kaliber Proyektilnya Tidak Diketahui. Ukur angka acuan diameter lubang tumbukan proyektil (y). Angka ini akan menggantikan angka kaliber mimis. Nilai diameter maksimal x dikurangi  dengan nilai y adalah nilai diameter center-to-center.


c. Diameter maksimal group ditambah diameter minimal terluar group lalu dibagi dua
Cara ini tampaknya cukup adil dan dapat mengatasi permasalahan ukuran lubang apapun profil hidung mimis yang digunakan. Tapi permasalahan pada grouping yang bertumpuk masih belum bisa dipecahkan.

Gambar 8. Diameter Maksimal Group (x) Dikurangi dengan Diameter Minimal Terluar Group (y). Pada grouping yang rapat dan bertumpuk sulit untuk menentukan nilai y.


d. Jarak margin terluar ke margin dalam lubang terluar.
Sama seperti cara di atas, metoda ini cukup adil dan dapat mengatasi permasalahan ukuran lubang apapun profil hidung mimis yang digunakan. Permasalahan grouping yang bertumpuk juga sulit dipecahkan pada metoda ini.

Gambar 9. Ilustrasi Jarak Margin Terluar ke Margin Dalam Lubang Terluar (X).


Kesimpulan
Group Shot adalah bahasa universal untuk mengetahui akurasi tembakan proyektil pada suatu bidang target.
Grouping yang terukur memberikan informasi yang dapat dipahami oleh setiap orang.
Diperlukan suatu pemahaman dan metoda penghitungan diameter grouping yang rasional dan dapat dipercaya untuk menyatakan tingkat akurasi tembakan
Poskan Komentar