Kamis, 29 Agustus 2013

Having Fun @ Cirebon Part 2: Plinking Under Pressure

Suatu hari sepupu saya yang aktif dalam kegiatan olah raga golf mencoba senapan angin saya. Setelah gagal mendapatkan group yang bagus dari tembakan-tembakannya, dia berkata: "Senapan angin ternyata seperti golf. Musuh utama kita bukanlah yang berada di sebelah kita. Musuh utama dalam golf adalah diri kita sendiri." Perkataan yang bermakna dari seorang yang tahu apa yang dia kerjakan. Saya percaya karena dia sudah beberapa kali memenangkan kompetisi regional dan nasional di cabang golf.
Kali ini saya mencoba membagikan pengalaman saya bersama sahabat saya dalam menembak target. Masih dalam rangka kunjungan saya ke Cirebon beberapa waktu kemarin. Selain mencoba Chrono Connect seperti postingan sebelumnya, saya juga melakukan permainan menembak target kecil dan berburu tikus (pest control). Postingan kali ini menyorot kegiatan menembak target kecil itu.

Pada mulanya kami berusaha membuat video yang mengesankan tentang menembak target kecil dengan senapan andalan kami masing-masing. Tetapi karena tenaga kami terkuras dengan urusan pekerjaan sepanjang hari itu, kami putuskan untuk memvideokan hasil menembak kami apa adanya.
Latar belakang usaha kami sederhana. Seorang teman kami yang tidak pernah menembak pernah berkata: "Menembak dengan posisi duduk dan senapan ditopang alat itu gampang. Apalagi menggunakan tele. Kalau benar jago, coba tembak puntung rokok dari jarak jauh!" Terbakar dengan tantangan teman kami itu, kami lalu mulai tekun berlatih. Setelah melewati  2 bulan belajar senapan baru, dan berhasil menembak sasaran kecil dari jarak jauh, kami putuskan untuk memberikan video pembuktian kepadanya. Dan bahkan untuk membuatnya lebih menarik, kami memilih sasaran yang jauh lebih kecil. Yaitu jarum yang dipergunakan untuk memasang infus (kebetulan di tempat sahabat saya banyak tersedia). Dan supaya lebih spektakuler lagi, kami bukan hanya menembak satu, tapi masing-masing menembak 5 buah.

Gambar 1. Senapan Sharp Tiger Long Barrel Sahabat Saya.
Video selengkapnya dapat disaksikan di sini.


Video itu memang tidak bisa dibilang bagus baik secara penggambilan gambar maupun materi tayangan. Tapi bila diperhatikan dengan seksama ada beberapa poin pembelajaran yang bisa diambil. Beberapa yang bisa saya petik ada di sini.



  1. Mimis tidak melaju dalam posisi hidung lurus ke depan. Dalam pergerakannya, mimis dipengaruhi beberapa gaya yang mengakibatkan mimis bergerak parabolik ke arah depan bawah, berputar terhadap sumbunya, dan bergerak membentuk spiral terhadap titik beratnya (istilah untuk gerakan ini disebut yawing). Fenomena ini sudah dipelajari dalam bidang eksternal balistik dan saya sendiri kesulitan untuk mengerti bagaimana ini terjadi. Tetapi kira-kira gerakannya seperti ditunjukkan dalam gambar di bawah ini. Itulah mengapa mimis/proyektil lainnya tidak pernah jatuh tepat di tempat yang sama meskipun faktor penembak dan senapan sudah diminimalkan. Hal ini semakin terasa bila kita memindahkan titik sasaran dari titik zeroing kita ke tempat lain.
    Gambar 2.  Contoh Gerakan Yawing dari Peluru Penembus Baja kal 6.56x45. Dikutip dari http://www.nennstiel-ruprecht.de/bullfly/fig18.htm. Sumbu x-y-z dalam skala sekian kali dari kaliber peluru. Jadi jangan bayangkan gerakan ini  terjadi lebar sekali.
  2. Kecepatan bukanlah hal yang utama dalam tembak sasaran. Sangat menyenangkan melihat sasaran hancur saat terkena tembakan. Terlihat dari video, plastik yang pecah saat terkena tembakan dari Sharp Tiger. Padahal penyangga plastik hanyalah jarum yang sedikit ditancapkan dalam kayu. Terbayang momentum yang dialami plastik sehingga langsung terdeformasi dan bukannya terakselerasi. Penelitian dan pengalaman para ahli menunjukkan bahwa bukan kecepatan yang membuat suatu senapan air target itu akurat. Bahkan senapan angin target dibatasi kecepatannya di bawah 900 fps.Terlihat juga grouping dari Sharp Ace yang notabene lebih lambat tampak lebih rapat (saya menembak tanpa menggeser titik bidik karena percaya zeroing sudah pas).


    Gambar 3 Atas. Hasil Tembakan Sharp Tiger. Lingkaran merah menunjukkan sisa bagian plastik yang hancur saat terkena tumbukan mimis. Lingkaran kuning adalah nyamuk yang melintas untuk menunjukkan skala target. Gambar 3 Bawah. Hasil Tembakan Sharp Ace. Lingkaran merah menunjukkan grouping yang rapat.
  3. Pembesaran suatu objek berpengaruh terhadap akurasi menembak. Lagipula kita tidak bisa menembak apa yang kita tidak bisa lihat. Senapan saya menggunakan lensa objektif yang lebih besar daripada sahabat saya. Pembesaran yang saya gunakan mencapai 24x dengan diameter lensa obyektif 50mm. Bandingkan dengan pembesaran 10x dari lensa objektif 40 mm miliki sahabat saya. Itulah mengapa senapan field target (satu-satunya cabang olah raga menembak senapan angin yang boleh menggunakan teleskop, CMIW)  menggunakan lensa objektif 50 mm. Tapi hal ini tidak berlaku pada senapan berburu yang membutuhkan lapang pandang yang lebih luas.
  4. Paralax adalah masalah besar pada target kecil. Banyak artikel lain yang lebih baik dalam menerangkan tentang paralax. Namun yang hendak saya ceritakan di sini adalah keluhan yang dialami sahabat saya setelah lupa mengatur paralax pada jarak 22 m. Sebelumnya paralax teleskop miliknya diatur pada jarak 30 m untuk menembak tikus. Hal ini tidak terlihat di video tapi harus saya cantumkan di sini atas azas sportifitas :p. Akibat kealpaannya dia mengalami sedikit pergerakan objek saat posisi mata bergeser akibat paralax ini. Walaupun gerakan objek yang dialami sangat kecil, namun pada sasaran yang sangat kecil hal ini berarti meleset.
  5. Senapan Sharp Tiger adalah senapan yang baik. Sekali lagi saya ulangi bahwa kami, terutama sahabat saya, tidak pernah secara serius menembak menggunakan senapan angin apapun sebelumnya. Hanya sekedar bersenang-senang dengan Senapan Bramasta Antariksa tanpa tahu atau mempelajari teknik dan serba-serbi menembak. Dengan senapan Sharp Tiger ini dia berlatih dan mampu menuntaskan tantangan ini. Dengan harga senapan yang lebih murah dan hasil akhir yang sama, bisa dikatakan senapan ini value for money.
  6. Sesuai dengan tema posting saya kali ini; Musuh utama penembak adalah dirinya sendiri. Saya mau bercerita tentang apa yang kami alami saat video ini diambil. Keinginan untuk menumbangkan sasaran dengan satu kali tembakan (istilah sahabat saya: One Shoot One Kill) sangat menggebu. Rasa bangga sebagai penembak jitu di dunia maya sudah terbayangi. Berbekal pengalaman berkali-kali menumbangkan sasaran kecil dengan sekali tembak (percayalah), membuat kami cukup yakin bisa menuntaskan tantangan ini. Namun saat di bawah sorotan kamera, terasa tekanan menjadi berlipat kali dan hal ini mempengaruhi ketenangan. Setelah kegagalan pertama, terasa kejatuhan mental yang dalam sekali. Dan setelah kegagalan ke sekian kali rasanya mau menyerah saja dan mengambil ulang gambar dari awal. Tapi rupanya masih ada sisa daya juang untuk menyelesaikan tantangan ini (atau mungkin juga sudah kecapekan untuk mengulang). Intinya keinginan untuk menumbangkan sasaran dan kepercayaan diri saja tidaklah cukup. Pengalaman dan ketenangan yang lahir dari jam terbang yang tinggi akan memberi hasil yang positif. Entah tingkat kearifan apa yang dicapai seorang juara menembak sehingga saya tidak pernah melihat mereka secara narsis memposting dirinya sendiri di Youtube.
  7. Ternyata masih ada pembelajaran yang bisa diambil dari sebuah kegagalan. Mungkin akan ada poin lain yang bisa diambil lagi saat pengetahuan saya sudah bertambah. Video dibuang sayang ini mungkin tidak terlalu menghibur seperti saat menonton tembakan-tembakan sensasional dan sempurna di Youtube. Tapi inilah dunia nyata. Youtube bukan hanya milik orang berbakat seperti Justin Bieber dan golongannya, tapi juga perpustakaan inspirasi dan mungkin juga tempat sampah. 
Semoga bermanfaat. Terbuka untuk pertanyaan dan masukan.



Poskan Komentar