Jumat, 17 Januari 2014

Referat Marksmanship Bagian 2: Cara Membidik (Aiming) dan Parallax

Bagian 1 Cara Memegang Senapan (Steady Hold)
Artikel Terkait Menembak dengan Visier (Iron Sight)

Pada artikel ini saya akan melanjutkan catatan saya mengenai topik marksmanship. Setelah mengenal cara memegang senapan dengan baik, langkah berikutnya dalam praktek dasar menembak tepat adalah membidik. Bagi para penembak, kegiatan membidik adalah suatu hal yang otomatis dikerjakan. Apalagi pada masa sekarang saat pilihan alat bidik berbasis lensa sangat melimpah dan tersedia murah. Rasanya tidak ada kesulitan berarti bagi penembak pemula sekalipun untuk melakukan proses membidik dengan mudah dan tetap menghasilkan grouping yang rapat. Begitu pula saya. Sampai saya memiliki beberapa jenis senapan dan menemukan bahwa beberapa di antaranya cukup sulit untuk dikuasai.
Dalam proses membidik, penembak berusaha meluruskan pandangan matanya terhadap alat bidik dan sasaran yang dilihatnya (rifle-sight alignment). Dalam pernyataan yang saya kutip ini terkandung berbagai komponen yang terlibat yaitu mata, alat bidik dan sasaran. Proses membidik ini akan sulit dikuasai tanpa menguasai dasar lainnya yaitu pegangan senapan.

Ilustrasi kelurusan penglihatan terhadap visier dan sasaran.

Untuk mengetahui kesulitan yang bisa timbul dalam usaha membidik, tentunya saya harus memulai untuk mengetahui karakteristik masing-masing komponen yang terlibat. Pada artikel terkait sebelumnya, saya telah menyinggung mengenai komponen alat bidik. Dalam artikel ini saya akan coba menggali lebih dalam tentang komponen mata.
Sebagian besar artikel ini saya ambil sebagai tulang punggung artikel saya dengan ungkapan terima kasih yang tak terhingga untuk para kontributor dari http://www.usashooting.org/ Silahkan untuk mempelajarinya sendiri untuk pengalaman dan masukan yang lebih lengkap.

Bagaimana Mata Bekerja
Untuk mengetahui bagaimana kerja mata kita sedikitnya harus mengetahui apa itu mata. Mata adalah suatu organ sensoris yang termasuk dalam lima indera sensoris utama (panca indera). Indera ini merupakan sistem organ yang dominan penggunaannya dalam kegiatan menembak.

Anatomi dan nomenkaltur bola mata. Diambil dari: http://www.garetina.com/about-the-eye

Sinar yang masuk ke dalam mata akan diteruskan dan difokuskan oleh beberapa medium perambat cahaya (media refraksi) dengan tujuan akhir di retina. Bagian mata yang dapat merambatkan cahaya dinamakan visual axis. Visual axis ini terdiri dari kornea, cairan aqueus, lensa dan badan vitreous. Setiap bagian yang saya sebutkan tadi memiliki kelengkungan dan indeks refraksinya masing-masing. Kombinasi dari setiap indeksi refraksi tersebut akan membelokkan cahaya dan menjatuhkannya pada retina di bagian bintik kuning (fovea centralis). Setiap bagian tersebut hampir selalu tetap indeks refraksinya. Sehingga yang paling berperan dalam kemampuan pengaturan fokus adalah lensa karena hanya lensa yang memiliki persarafan dan otot untuk mengatur ketebalannya.
Pada bagian retina terdapat barisan sel-sel penglihatan yang disebut sebagai sel batang dan sel kerucut. Pada sel-sel inilah proses fotokimiawi terjadi. Sinar (foto) yang masuk dan difokuskan ke retina, akan menyebabkan reaksi kimia pada sel-sel ini. Reaksi kimia yang terjadi akan menghasilkan impuls listrik dan disalurkan sebagai impuls syaraf yang diteruskan ke otak melalui sistem syaraf penglihatan.

Gambar jaringan retina yang tersusun dari barisan sel reseptor cahaya bernama sel batang dan sel kerucut.

Bayangan terbentuk di retina akan dihasilkan terbalik. Namun setelah citra terbalik itu diteruskan ke otak melalui sistem syaraf dan diproses di otak, gambaran itu akan dipersepsikan menjadi tegak kembali.

Ilustrasi bagaimana bayangan ditangkap terbalik pada bagian retina mata. Diambil dari: http://www.gatinel.com/recherche-formation/centering-corneal-based-refractive-surgery/

Dalam proses melihat suatu benda, organ dalam mata berusaha menciptakan bayangan paling jelas melalui beberapa fitur dan proses yang dimilikinya. Jika seorang penembak yang menguasai teknik memegang senapan dengan baik akan mampu diam selama proses panjang menembak, tidak begitu adanya dengan matanya. Mata akan selalu dinamis dalam setiap siklus menembak. Sering kali kita tidak ingin proses ini dilakukan secara berlebihan karena setiap usaha berlebihan dari organ ini akan menyebabkan kelelahan.

Ketidaksempurnaan Mata
Jumlah cahaya yang masuk juga dapat mempengaruhi ketajaman bayangan yang dihasilkan. Untuk mengatur jumlah cahaya yang masuk maka terdapat fitur pengaturan bukaan celah cahaya pada mata. Organ yang bertugas untuk mengatur bukaan celah ini dinamakan sebagai iris. Dan celah yang dibentuk oleh iris ini disebut sebagai pupil. Pada bukaan cahaya yang kecil, mata dapat melihat kedalaman detail suatu obyek dengan baik. Terlalu lebarnya bukaan pupil membuat cahaya yang datang difokuskan dan jatuh pada tempat yang berbeda sehingga menghasilkan gambaran yang tidak tajam. Hal ini dinamakan sebagai spherical aberration.

Pada bukaan cahaya yang terlalu lebar, cahaya akan difokuskan tidak pada satu titik. Hasilnya citra akan terlihat kabur atau dikenal juga sebagai silau.

Dikatakan mata juga lebih menyukai perbedaan warna yang kontras. Terlalu banyak warna dan melihat warna yang tidak kontras akan menyulitkan mata mendapatkan gambaran yang jelas. Hal ini karena perbedaan panjang gelombang cahaya pada setiap warna. Dan setiap panjang gelombang ini akan dibelokkan secara berbeda juga oleh visual axis mata sehingga menghasilkan titik fokus yang berbeda-beda untuk setiap warna. Fenomena perbedaan titik fokus ini disebut sebagai chromatic abberation. Hal inilah alasan mengapa alat bidik (visier) dibuat dengan warna hitam dan sasaran dibuat dengan warna hitam-putih, karena kedua warna ini memiliki kontras yang baik.

Pada dasarnya cahaya dibentuk oleh warna merah, hijau dan biru. Oleh media refraksi ketiga warna ini akan difokuskan pada tempat yang berbeda sesuai panjang gelombang cahaya tersebut sehingga menghasilkan citra yang kabur.

Kadang kala pada penggunaan di lapangan, sasaran tidak selalu berada di latar belakang yang terang (tidak kontras). Latar belakang warna yang gelap membuat usaha membidik dengan visier menjadi sulit karena citra visier depan yang jelas menjadi sulit didapatkan. Untuk membantu proses memfokuskan pandangan pada visier depan, terdapat teknik yang disebut sebagai side aiming. Dinamakan seperti ini karena kita tidak langsung menaruh pandangan kita pada sasaran, namun menggeserkan pandangan sasaran kita di sebelah sasaran, di mana latar belakang warna terlihat lebih kontras. Setelah citra visier depan secara tajam didapatkan, barulah kita meletakkan kembali bidikan kita pada sasaran.


Ilustrasi side aiming. Pandangan sedikit digeser ke sisi sasaran untuk memberi waktu pada mata membentuk citra visier depan yang tajam. Setelah citra visier depan didapatkan baru kemudian ujung laras digeser kembali masuk ke sasaran yang lebih gelap. 
Diambil dari: http://www.armystudyguide.com/content/army_board_study_guide_topics/m16a2/four-fundamentals-of-mark.shtml

Fenomena lain yang menarik dalam penglihatan adalah difraksi cahaya (light diffraction). Fenomena ini adalah kebalikan dari chromatic aberration berdasarkan bukaan celah cahaya yang terjadi. Pada bukaan cahaya besar timbul fenomena chromatic aberration. Namun pada bukaan cahaya yang kecil dan cahaya datang yang sangat terang timbul fenomena light diffraction. Pada fenomena ini, suatu celah cahaya tampak terdiri dari lingkaran-lingkaran konsentris berwarna keabuan (misalnya pada penggunaan visier berbentuk notch ataupun peep sight). Hal ini bukanlah disebabkan oleh kotoran pada visier belakang itu. Fenomena ini timbul sebagai sifat alami cahaya yang dibengkokan secara berbeda pada masing-masing intensitas oleh media refraksi.
Fenomena ini cenderung menguntungkan dan disengaja melalui penggunaan peep sight. Karena rangkaian lingkaran konsentris ini akan membantu kita menempatkan visier depan maupun sasaran tepat pada bagian tengah visier belakang.

Difraksi cahaya tampak seperti lingkaran konsentris keabu-abuan.

Cahaya juga dapat terdifusi bila melewati berbagai media dengan indeks refraksi yang beragam. Media refraksi pada mata ini sering kali juga tidak benar-benar jernih. Difusi cahaya ini didapatkan terutama saat cahaya terang menyinari langsung ke dalam mata atau pada saat melihat obyek terang dengan latar belakang yang gelap. Fenomena ini tampak seperti semburat cahaya atau asap terang yang dapat menghalangi keutuhan lapangan penglihatan.

Fenomena light diffusion yang tampak seperti semburat cahaya. Terlalu berlebihan berakibat gangguan pada lapangan penglihatan.

Penting juga untuk membatasi jumlah cahaya yang masuk ke dalam mata. Cahaya polutan terutama yang berasal dari samping dapat menyebabkan fenomena silau tadi. Penggunaan topi dan peralatan mirip kaca mata kuda dapat berguna untuk mengatasi gangguan cahaya polutan ini.


Topi menembak yang dirancang seperti kaca mata kuda berguna untuk menghalangi sinar polutan dan memperjelas citra sasaran. Diambil dari: http://www.davidtubb.com/tubb-highpower-hat-tan

Pengelihatan terbaik dihasilkan menggunakan dua bola mata. Dikatakan  lebih baik karena jenis penglihatan ini secara normal dilakukan dan menghasilkan ketajaman penglihatan yang lebih baik. Menutup salah satu mata menyebabkan mata yang terbuka melebarkan pupilnya akibat respon syaraf simpatis. Akibatnya jumlah cahaya yang masuk berlebihan dan menimbulkan silau (spherical aberration) selain juga kelelahan akibat usaha menutup mata.
Otak memiliki tendensi untuk mengambil citra dari salah satu mata yang dominan (cross-dominant). Cara terbaik adalah menghalangi mata yang kurang dominan dengan penutup mata yang opak (keruh) atau putih. Warna hitam hanya akan menimbulkan respon syaraf simpatis berupa melebarkan pupil pada mata dominan.

Penggunaan penghalang mata yang tidak dominan menggunakan warna putih. Diambil dari: http://www.mnguntalk.com/viewtopic.php?f=52&t=47367&start=15

Menentukan mata yang dominan memiliki konsekuensi pada tangan mana yang kita jadikan sebagai tangan penarik picu. Dominasi mata kanan menyebabkan penembak lebih nyaman menggunakan tangan kanannya sebagai tangan penarik picu. Begitupun sebaliknya. Hal ini tidak berhubungan langsung dengan permasalahan kidal ataupun right-handed. Karena bisa saja seorang yang tidak kidal namun memiliki mata dominan kiri, akhirnya memutuskan lebih nyaman menembak dengan tangan kirinya.
Untuk menentukan mata mana yang dominan, ada tes sederhana yang dapat dilakukan. Dengan menggunakan dua telapak tangan kita yang diletakkan sejauh mungkin di depan mata, kita membentuk sebuah celah dengan mempergunakan ibu jari dan telunjuk. Pada celah yang terbentuk dengan kedua bagian telapak tangan ini, kita berusaha memfokuskan pandangan pada satu benda yang diletakkan jauh di belakang. Saat gambaran benda tersebut sudah fokus dan tidak terlihat ganda, cobalah untuk menutup salah satu bola mata. Pada pandangan bola mata, di mana saat menggunakan mata itu gambaran itu terlihat sama dengan gambaran saat kedua mata terbuka, itulah mata yang dominan. Pada mata yang tidak dominan, kita hanya melihat gambaran punggung tangan kita saja.

Posisi tangan saat membentuk celah pengelihatan pada tes mata dominan.

Mata dominan memiliki tendensi untuk berganti pada kondisi lelah. Tidak jarang didapatkan saat melihat dengan kedua mata pada sesi menembak yang panjang, obyek tampak terlihat ganda dan sulit difokuskan tanpa kita menutup mata kita yang kurang dominan.
Penembak pemula sering kali berusaha langsung membidik tanpa berusaha mempelajari posisi maupun cara memegang senapan dengan baik. Akibatnya, seorang penembak pemula cenderung lama membidik karena berjuang keras untuk mempertahankan posisi senapannya untuk diam. Secara tidak sadar, penembak ini akan mengalami gangguan penglihatan pada mata karena gambaran sasaran yang memiliki kontras yang tinggi menyebabkan retinanya "terbakar". Dikatakan terbakar karena memang sel-sel batang pada retina akan mengalami pemecahan zat kimia akibat cahaya yang masuk. Dengan zat kimia ini sinyal-sinyal syaraf dihasilkan dan ditransmisikan ke otak. Namun laju pembentukan zat kimia ini lebih lambat dari pada laju pemecahannya, sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk memulihkan diri untuk mata kembali sensitif terhadap cahaya lagi. 
Untuk menjelaskan fenomena ini lebih mudah dengan cara mengalaminya sendiri dengan melihat gambar di bawah ini. Cobalah melihat bagian tengah gambar di bawah ini selama 12 detik penuh lalu alihkan mata anda pada bidang kosong dengan latar belakang terang. Perhatikan apa yang anda dapatkan selama beberapa waktu.


Untuk mengatasi fenomena itu disarankan untuk tidak membidik lebih dari 10 detik. Pandangan diarahkan ke tempat jauh setiap kali habis menembak untuk mengistirahatkan retina. Kondisi ini memang tidak berbahaya dan hanya bersifat sementara. Namun kehilangan beberapa detik dalam kompetisi menembak akibat retina yang "terbakar" adalah kerugian.

Kondisi Mata yang Tidak Biasa
Mata dikatakan melihat secara normal apabila cahaya yang datang dari tempat jauh difokuskan tepat berada di retina tanpa melibatkan usaha akomodasi mata. Pada keadaan ini lensa mata berada dalam keadaan pipih dan rileks. Namun pada saat melihat dekat, lensa mata akan menjadi cembung sebagai hasil kerja otot sekitar lensa mata untuk meningkatkan indeks refraksinya, sehingga fokus bayangan tetap jatuh pada retina. Proses inilah yang disebut sebagai akomodasi mata.
Beberapa kondisi mata yang tidak biasa menyebabkan bayangan tidak ditempatkan pada retina. Hal ini dinamakan sebagai kelainan refraksi. Kondisi ini menyebabkan gambaran sasaran menjadi kabur dan dapat dikoreksi dengan berbagai peralatan optik seperti kaca mata ataupun lensa kontak.
Beberapa kondisi mata yang tidak biasa dikenal sebagai myopia (mata minus, rabun jauh), hypermetropia/hyperopia (mata plus, rabun dekat), dan astigmatism (mata silindris).


Myopia atau rabun jauh fokus cahaya terletak di depan retina. 
Sedangkan hyperopia atau rabun dekat fokus cahaya terletak di belakang retina. 
Diambil dari: http://anthonysaba.wikispaces.com/The+Difference+between+Myopia+and+Hyperopia

Astigmatism atau mata silindris berhubungan dengan kelengkungan kornea yang tidak sempurna. 
Akibatnya cahaya difokuskan berbeda-beda letaknya tergantung bidang kelengkungan yang membiaskannya. 
Diambil dari: http://www.webmd.com/eye-health/understanding-astigmatism-basics

Walaupun saat ini kita muda dan bebas dari masalah di atas, suatu saat nanti kita akan mengalami kondisi mata seperti mata plus (rabun dekat) setelah kita memasuki usia 40-50-an. Hal ini dinamakan sebagai presbyopia (mata tua) akibat lensa mata kehilangan elastisitasnya karena proses degenerasi. Namun jangan sampai hal ini menghalangi kita untuk terus menembak karena kelainan ini masih bisa dikoreksi menggunakan kaca mata baca (lensa plus).

Parallax
Kembali pada topik marksmanship sebelumnya mengenai penempatan kepala. Penempatan mata dan kepala harus dilakukan secara konsisten untuk mencegah parallax. Parallax sendiri adalah perbedaan posisi yang tampak akibat perbedaan sudut pandang. Fenomena ini lekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Contohnya adalah saya dan istri selalu ribut mengenai batas kecepatan di jalan tol. Istri saya sering memarahi saya karena melewati batas kecepatan 80 km/h sedangkan saya selalu berkeras bahwa saya telah bertahan di kecepatan 80 km/h. Rupanya istri saya melihat jarum speedometer melebihi angka 80 dari sebelah kiri saya. Menurut pemandangannya, jarum menunjuk angka 85-90 km/h.


Ilustrasi parallax. Pada titik pandang A, obyek terlihat berada di depan warna biru. Namun pada titik B, obyek terlihat berada di depan warna merah. Diambil dari: http://en.wikipedia.org/wiki/Parallax

Pada penglihatan teleskopik fenomena ini juga didapatkan. Dalam hal ini perbedaan posisi menaruh kepala sedikit saja akan mempengaruhi jatuhnya mimis pada jarak jauh. Walaupun mata kita yakin bahwa kita telah menempatkan sasaran pada pusat crosshair, namun ujung laras sebenarnya tidak menunjuk pada posisi yang sama setiap kalinya. Fenomena ini dapat diketahui keberadaannya saat kita menggeser posisi mata, tampak crosshair scope kita bergerak berlawanan dengan arah gerak mata kita.
Untuk mengerti pengaruh konsistensi penempatan posisi mata kita, marilah kita mempelajari kasus di bawah ini. Rifle scope yang tidak memiliki pengaturan parallax (adjustable objective lens), biasanya diatur bebas parallax pada jarak 100 yards. Hal ini dianggap terlalu jauh untuk jangkauan senapan angin. Untuk mendapatkan efek seperti ini saya masukkan pengaturan ini pada simulator parallax yang tersedia di situs ini.



Pada ilustrasi di atas, rifle scope telah di-zero pada kelurusan pandangan tepat di tengah dan untuk meletakkan mimis tepat pada pusat sasaran.


Pada saat menembak berikutnya, ternyata penempatan mata bergeser ke arah kiri bawah. Hal ini menimbulkan kesan bahwa crosshair telah bergeser ke arah atas kanan. Walaupun sebenarnya laras masih menunjuk ke pusat sasaran. Sebagai konsekuensinya, penembak akan menggeser ujung larasnya ke kiri bawah dan berakibat mimis mendarat di bagian kiri bawah dari pusat sasaran.

***

Demikian sedikit rangkuman saya mengenai pengantar topik membidik. Semoga berguna. Terbuka untuk pertanyaan dan masukkan.
Poskan Komentar