Kamis, 14 November 2013

Referat: Menembak dengan Visier (Iron Sight)


Setelah berhasil mendapatkan grouping di bawah 10 mm pada jarak 20-30 meter menggunakan Sharp Ace saya, saya mulai kehilangan tantangan dalam menembak target. Okelah, saya sudah bisa secara konsisten menembak secara akurat dengan menggunakan rifle scope. Tapi mau ke mana visi menembak saya? Saya hanya baru menembak dengan cara termudah. Hanya duduk, menyandarkan senapan saya, mengintip rifle scope dan menekan picu setenang mungkin. Crosshair dan pemandangan ekstra besarlah yang terutama membantu saya. Bagaimana posisi saya di hirarki dunia menembak target? Hanya berada di tingkat terendah.
Sampai senapan saya yang kedua (ketiga tepatnya) datang. Springer yang membuat saya ngeri untuk menempatkan rifle scope murahan saya. Ngeri karena hentakan recoil-nya yang katanya bisa merontokkan dalaman rifle scope yang tidak didesain memenuhi grade recoil. Kekhawatiran bahwa minimal saya tidak akan mendapatkan titik acuan yang tepat kerena titik zero yang berubah-ubah akibat kocokan pada scope ini.
Setelah saya melihat melihat visier belakang HW 77 saya, timbul ketertarikan saya untuk menggunakan visier ini. Bagaimana perancang senapan ini meluangkan perhatiannya untuk merancang visier yang begitu kokoh dan memberi banyak pilihan notch. Lalu saya kembali membuka tool box saya dan melihat bagaimana visier bawaan Sharp Ace saya masih rapi tak tersentuh namun berkarat sejak pertama kali saya menebus senapan ini. Visier belakang yang berupa lubang (peep sight). Ternyata saya telah memiliki banyak pilihan untuk mengeksplorasi dunia menembak dengan visier. Kenapa tidak saya coba? Bukannya penembak terbaik tingkat olimpiade bahkan tidak memerlukan lensa di antara mata dan sasarannya. Kembali teringat komentar mertua saya saat saya sedang berlatih "Wah, Kalau pakai tele sih gak ada tantangannya." Seruan yang dulu saya anggap lalu karena merasa penembak jaman dulu tidak mengenal riflle scope dan hanya bisa bersikap sinis.
Baiklah, mungkin saya terlalu cepat melangkah di dunia menembak dan kehilangan dasar-dasar terpentingnya. Bagaimana cara penembak mula-mula menembak tanpa rifle scope dan menciptakan sejarah. Bahkan cara yang sama masih terpelihara sampai sekarang sehingga tidak ada cabang olah raga menembak resmi (kecuali field target) yang mengijinkan menggunakan rifle scope. Mundur dan kembali belajar dari dasar adalah tantangan saya berikutnya. Dan bahkan sementara ini saya tidak perlu khawatir untuk menebus rifle scope baru untuk senapan HW 77 saya.

Visier belakang Weihrauch HW 77 tipe blade sight dengan berbagai pilihan notch.


Keuntungan Menggunakan Visier
Kita tahu bahwa menggunakan visier (iron sight) tentu tidak semudah (baca: seenak) menggunakan rifle scope dalam mendapatkan akurasi nitik. Hal inilah yang menyebabkan penggunaan rifle scope saat ini lebih populer. Namun visier sendiri memiliki beberapa keunggulan. Di antaranya:
  • Ringan. Jika berat riflescope bisa mencapai beberapa ratus gram hingga di atas satu kilogram, maka visier hanya menyumbang bobot di bawah satu ons.
  • Sudah termasuk dalam paket pembelian. Untuk senapan multipump dan springer, piranti ini sudah terpasang pada senapan.
  • Tahan berbagai cuaca. Mungkin rifle scope saat ini dirancang untuk menghadapi berbagai cuaca dan kelembapan. Namun visier dari awal sudah sangat tahan menghadapi berbagai kondisi cuaca.
  • Tahan benturan. Saya sangat khawatir bila membawa rifle scope saya dalam perjalanan, namun saya tidak pernah mengkhawatirkan goncangan pada visier saya.
  • Tidak memerlukan setting parallax. Selama kita meletakkan pipi pada bagian yang sama dari popor, kita hanya perlu berfokus pada visier depan. 
  • Cepat untuk mendapatkan pandangan. Pada mata muda yang sehat (normal, atau terkoreksi baik bila ada gangguan visus selain presbiopia), daya akomodasi terkuat pada jarak 20 cm, sedangkan visier depan dapat berjarak 50 sampai 70 cm (tergantung panjang laras).
  • Tidak perlu khawatir dengan zero. Mungkin pernyataan ini tidak terlalu tepat karena sangat sulit mendapatkan akurasi nitik pada target yang terlalu kecil (atau jauh) menggunakan open sight atau peep sight kelas sporter. Namun pengguna visier dalam berburu lebih mudah mengatur kelurusan visier depan dan belakangnya dibandingkan bermain dengan titik zero maupun mildot.

Macam-macam Visier
Visier sendiri terdiri dari dua bagian, yaitu visier depan dan visier belakang. Visier depan dapat berupa bilah yang bila dilihat dari sisi penembak dapat berbentuk kotak (square post) maupun bundar (bead). Visier depan ini ada pula yang diselubungi struktur silinder yang bila dilihat akan seperti cincin. Tipe ini dinamakan juga post globe. Dalam perspektif penembak, visier depan ini akan diletakkan dalam area penglihatan visier belakang dan sasaran diletakkan di atas ujung visier depan.
Dan visier belakang ini ada yang terbuka (open sight atau blade sight) karena berbentuk coakan (notch) pada sebilah besi dan ada pula yang berupa lubang (aperture sight atau peep sight). Penggunaan aperture sight ini memiliki kelebihan dalam tingkat akurasinya. Diletakkan lebih dekat dengan mata (biasanya pada receiver). Namun penggunaannya terbatas pada bidang tembak target dan kurang praktis dalam bidang berburu karena kecilnya lubang ini (peep hole) akan membuatnya sulit terlihat pada cahaya yang kurang terang. Bermacam-macam kombinasi visier depan dan belakang dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Pilihan open sight dan satu aperture sight: A) U-notch and post, B) Patridge, C) V-notch and post, D) Express, E) U-notch and bead, F) V-notch and bead, G) trapezoid, H) ghost ring. Abu-abu mewakili sasaran. Diambil dari:  http://en.wikipedia.org/wiki/Iron_sight

Contoh bentuk peep sight atau aperture sight. http://en.wikipedia.org/wiki/Iron_sight


Gambaran yang dibentuk saat membidik melalui peep sight. Diambil dari http://www.pyramydair.com/blog/2012/01/learning-to-shoot-with-open-sights-part-2/

Berdasarkan kemampuan pengaturannya, visier dapat dibagi menjadi tipe fixed (tidak dapat diatur) dan adjustable (dapat diatur). Tipe fixed berarti visier ini tidak memungkinkan untuk diatur tingkat ketinggian (elevation) maupun pergeseran horisontalnya (windage). Tipe ini biasanya didapatkan pada visier depan. Sedangkan tipe adjustable memungkinkan untuk diatur pergeseran elevation dan windage-nya. Pengaturan ini dapat dilakukan dengan memutar knob atau menggeser unit setelah sebelumnya sekrup penahan dikendurkan.

Visier depan tipe fixed yang dimiliki Sharp Ace. Kiri yang memiliki post globe dan kanan yang hanya berupa squared post saja. Milik saya adalah yang kedua. Diambil dari: http://www10.ocn.ne.jp/~sharp/index1.html Kabar baik karena pabrik senapan angin Sharp Jepang masih berproduksi di Jepang dan saat ini mengusung nama Sharp Chiba.

Walaupun jarang, ternyata terdapat pula visier depan yang adjustable pada dua sumbu. Seperti Ballard front globe sight tahun 1876 menggunakan aperture atau diopter. Diambil dari:  http://www.pyramydair.com/blog/2012/01/learning-to-shoot-with-open-sights-part-3/

Visier belakang tipe adjustable yang sering disertakan dalam pembelian senapan. Gambar di atas adalah milik Weihrauch HW 77 dengan knob pengatur berskala.
Visier belakang tipe adjustable yang terdapat pada Sharp Ace. Visier ini bertipe aperture sight atau peep sight. Pada visier ini tidak terdapat knob pengatur berskala, namun menggunakan sekrup penahan.

FWB 300S
Walaupun sekilas tampak seperti rifle scope namun gambar di atas adalah sebuah peep sight dengan mangkuk mata untuk meminimalkan cahaya polutan yang memasuki mata. Gambar di atas adalah peep sight kelas target shooting yang diusung oleh senapan target Feinwerkbau dan penggunaannya diperbolehkan di tingkat kompetisi sekelas olimpiade. Diambil dari: http://www.pyramydair.com/blog/2012/09/some-thoughts-about-peep-sights/

Ilustrasi pandangan peep sight (globe aperture) di visier belakang dan target diopter di visier depan pada senapan angin  olimpiade sekelas  10 metre air rifle. Diambil dari http://en.wikipedia.org/wiki/Iron_sight

Visier sendiri memiliki kelemahan yaitu sering tidak terlihat pada lingkungan yang gelap atau minim cahaya. Untuk meningkatan visibilitasnya, maka sepotong batang fiber optik (dikenal dengan merk TruGlo) dapat disematkan pada bagian visier ini. Penggunaan batang fiber optik ini dapat meningkatkan tangkapan cahaya dan meningkatkan kontras pada lingkungan minim cahaya.

Cara aplikasi batang fiber optik yang lazim dilakukan. Atas pada visier depan dan bawah pada visier belakang. Diambil dari: http://www.pyramydair.com/blog/2012/03/learning-to-shoot-with-open-sights-part-5/

Tampak belakang visier Sharp Tiger TruGlo yang menggunakan fiber optik. 

Cara Menggunakan Visier
Dalam menggunakan visier, kita berusaha meluruskan 4 obyek. Mata, visier belakang, visier depan dan sasaran. Dan ada tiga obyek yang akan membingungkan mata dan otak kita karena kita tidak bisa memfokuskan pandangan kita pada 3 jarak berbeda sekaligus. Jadi bagaimana caranya menggunakan visier ini?
Dalam membidik menggunakan visier secara tidak sadar maupun harus disadari kita akan melakukan langkah-langkah berikut ini:
  • Meluruskan mata kita dengan sumbu senapan. Hal ini dilakukan dengan menempatkan pandangan visier depan tepat di tengah-tengah visier belakang. Dengan melakukan hal ini, kita menempatkan sumbu pengelihatan kita (visual axis) sejajar dan berimpit dengan sumbu panjang senapan.
  • Pastikan front post berada pada ketinggian dan keseimbangan yang sama dalam notch. Perhatikan pilar cahaya yang berada di samping kiri dan kanan harus memiliki besar yang sama. Terlalu ke kiri berarti ukuran pilar cahaya kiri akan lebih kecil dari pada yang kanan sehingga titik tumbukan (point of impact, POI) berada di sebelah kiri titik bidik (point of aim, POA). Hal ini berlaku juga sebaliknya.


Proper sight alignment has the front sight in focus and rear sights slightly blurred.
Ilustrasi di mana front post berada di tengah-tengah notch. Perhatikan bahwa saat mata berkonsentrasi untuk fokus pada front post, maka gambaran dari notch visier belakang menjadi kabur. Diambil dari: http://blog.davingranroth.com/2009/10/how-to-aim-with-iron-sights/

  • Saatnya menambahkan komponen sasaran. Letakan sasaran pada ujung atas dari front post. Dengan melakukan hal ini sasaran akan bersinggungan dengan ujung front post pada arah jam 6. Pedoman ini berguna bagi penembak pemula yang masih berusaha untuk berkonsentrasi untuk memfokuskan pandangan pada front post. Seperti yang saya catat sebelumnya, memfokuskan pandangan pada 3 jarak yang berbeda tidaklah mungkin dilakukan. Maka menggunakan pedoman front post di jam 6 sangatlah berguna. Istilah ini populer dengan nama "six o'clock hold" atau "pumpkin on post". Gambaran tajam front post dengan gambaran kabur sasaran di atasnya. 

File:Fuzzy sight picture.svg
Six o'clock hold atau pumpkin on post. Gambaran tajam front post dengan gambaran kabur notch visier belakang dan sasaran. Koreksi pada gambar ini di mana front post tidak berimpit dengan sasaran pada arah jam 6. Diambil dari: http://en.wikipedia.org/wiki/Iron_sight

Dalam melakukan langkah-langkah di atas kita akan tergoda untuk melakukan fokus pada gambar sasaran bukannya pada front post. Untuk tetap melakukan fokus pada front post atau visier depan memang dibutuhkan latihan dan disiplin.
Atau mungkin juga kita khawatir dengan POI mimis yang tidak tepat berada di tengah-tengah sasaran karena kita menyasar pada arah jam 6 sasaran. Namun hal ini mudah saja disesuaikan dengan mengatur ketinggian (elevation) dari visier belakang. Six o'clock hold memang ditujukan untuk mempermudah melakukan fokus pada front post. Namun jika kita telah menguasai teknik fokus ini, tidaklah dilarang untuk meletakan POI tepat pada ujung atas front post.
Beberapa problem membidik yang sering ditemui pada penggunaan visier ini dapat diterangkan dengan ilustrasi yang dibuat oleh Mr. Tom Gaylord dalam blognya.

Sight alignment
Gambar atas menunjukkan kelurusan yang sempurna antara notch, front post dan sasaran di mana POI jatuh tepat pada bull's eye. POI telah di-setting untuk mengenai titik tengah sasaran. Gambar tengah menunjukkan front post yang diletakkan terlalu ke kiri pada notch dan berakibat POI jatuh di sebelah kiri POA. Gambar bawah menunjukkan front post berada di tengah-tengah notch namun sasaran tidak berada tepat pada arah jam 6. Diambil dari: http://www.pyramydair.com/blog/2013/08/calling-th-shots-and-follow-through/

Mulailah berlatih pada jarak yang dekat menggunakan target yang cukup besar dan mudah terlihat. Sekedar mengingatkan bila kompetisi setingkat olimpiade sekalipun hanya memasukkan jarak 10 meter untuk senapan angin. Dan itupun sulit sekali karena kombinasi dari kecilnya sasaran dan keharusan memegang senapan off hand sambil berdiri dalam waktu lama akan mempengaruhi konsistensi akurasi yang diperoleh. Bahkan satu unit peep sight sekelas olimpiade harganya tidak murah.


Gunakan kedua mata, karena menutup mata yang tidak aktif hanya akan menyebabkan kelelahan. Otak memiliki kemampuan untuk memusatkan perspektif pada penglihatan satu mata saja walaupun gambaran yang diterima kedua mata sangatlah berbeda. Penembak olimpiade memang menggunakan penutup kepala yang berfungsi untuk sekedar menghalangi (bukannya menutup secara total) gangguan dari mata yang tidak aktif. Kemampuan otak ini dapat dilatih dan dibiasakan.

Membidik dengan mata pasif yang terbuka memungkinkan untuk dilakukan. Diambil dari: http://www.shootingillustrated.com/index.php/3785/using-iron-sights-on-an-ar-15/

Menyesuaikan POI pada Visier
Meletakkan sumbu penglihatan sejajar dan berimpit pada sumbu panjang senapan tidak serta-merta menjamin POI berada tepat di tengah-tengah sasaran. Hal ini disebabkan karena lintasan mimis tidak selalu sejajar dan berimpit dengan sumbu panjang senapan. Maka fitur pengaturan pada visier adjustable akan sangat berguna dan mudah dilakukan dalam menyamakan POA dengan POI.
Untuk menyamakan kedua titik ini (POA=POI) prinsip yang berlaku adalah selalu geser visier belakang ke arah yang hendak dituju mimis. Hal ini dapat diterangkan sebagai berikut:
  • Pada sumbu horisontal (windage), bila mimis jatuh terlalu kiri dari titik bidik dan kita hendak menggeser titik tumbukan mimis ke kanan, geser visier belakang ke arah kanan. Begitu pula sebaliknya.
  • Pada sumbu vertikal (elevation), bila mimis jatuh terlalu bawah dari titik bidik dan kita hendak menggeser titik tumbukan mimis ke atas, geser visier belakang ke arah atas. Begitu pula sebaliknya.

Penutup dan Simpulan
  • Membidik menggunakan visier (iron sight) adalah salah satu dasar menembak dan penggunaannya masih terpelihara di tingkat kompetisi dunia.
  • Visier terdiri dari dua bagian yaitu visier depan dan visier belakang.
  • Visier depan (front post) dapat berbentuk kotak (squared post), bundar (bead) atau berselubung (globe atau diopter).
  • Visier belakang dapat berupa blade sight atau open sight yang memiliki notch dan peep sight atau aperture sight yang memiliki peep hole.
  • Membidik dengan visier dilakukan dengan melakukan fokus pada front post atau visier depan.
  • Untuk melakukan pengaturan POI paling mudah dilakukan dengan menggeser posisi visier belakang.

Perbandingan 8 tembakan Sharp Ace (kiri) dengan 5 tembakan Weihrauch HW 77 (kanan).Menembak off hand saya menggunakan visier dengan jarak 7.5 m dan menggunakan mimis RWS Meisterkugeln 8.2 gr . Entah peep sight Ace memang unggul atau saya yang belum terbiasa dengan springer ataukah Hw 77 yang belum break in. Tantangan baru dalam pembelajaran saya.

Semoga berguna. Terbuka untuk masukan dan pertanyaan.
Poskan Komentar