Rabu, 08 Januari 2014

De Pyra Jupiter 27: Senapan Per Untuk Pemula - Bagian 2

Bagian 1 Tampilan luar senapan


Pada artikel sebelumnya saya telah memaparkan tampilan luar dari senapan ini. Pada artikel ini saya berusaha memberi catatan tentang penggunaan senapan ini.
De Pyra Jupiter 27 sendiri adalah suatu senapan yang terinspirasi dari senapan legendaris Diana 27. Senapan ini dibuat oleh PD Pipik Putra yang berbasis di Cikeruh, Jawa Barat. Secara umum bisa dikatakan jika senapan ini bukanlah jenis senapan yang dapat langsung dinikmati sejak awal (out of the box). Perlu beberapa penyesuaian untuk memunculkan karakter sesungguhnya dari senapan ini. Memang secara umum sebuah senapan baru memerlukan proses break in. Namun pengalaman saya menggunakan senapan ini dari mulanya hingga saat ini, di mana proses break in saya anggap telah terjadi, menimbulkan kesan yang jauh berbeda. Dalam artikel ini tidak akan saya bahas perbedaan awal dan akhir yang saya dapat. Saya akan fokus pada pencatatan pengalaman saya setelah melewati 300 kali tembakan saja.
Apakah senapan lokal ini hanya akan menjadi pajangan dengan tampilan luarnya yang indah? Dan apakah senapan ini sungguh-sungguh dapat berfungsi?


Siklus Menembak
Untuk menggunakan senapan ini, kita harus melakukan kokang dengan cara mematahkan dan menarik laras yang berfungsi ganda sebagai tuas pengokang. Untuk mematahkan laras ini sendiri tidaklah sulit. Kita perlu mengetuk bagian ujung laras terlebih dahulu menggunakan permukaan dalam telapak tangan kita untuk membuka sambungan laras. Setelah laras terbuka pada bagian sambungan (breech), kita perlu menarik laras ke bawah dan ke belakang dengan sudut putar 110 derajat sampai terdengar suara klik yang menandakan sear tertangkap oleh unit picu. Untuk senapan berkekuatan menengah ini diperlukan cukup banyak kekuatan. Saya catat pengukuran kekuatan mengokang senapan ini mencapai 15 kg menggunakan timbangan bagasi. Menurut Pak Ade, senapan yang saya miliki memang menggunakan per lain yang lebih kaku dari bawaan standar produksi. Mungkin inilah yang menyebabkan usaha kokang (cocking effort) yang saya dapatkan melebihi harapan saya.

Per senapan terkokang pada bukaan laras sebesar 110 derajat.

Timbangan bagasi milik saya yang murah namun cukup membantu dalam mengukur cocking effort dan trigger pull. Tidak terlalu presisi tapi cukuplah untuk memberi gambaran.

Secara umum usaha kokang senapan ini cukup lancar dan mantap. Tidak dipungkiri suara piston yang bergesekan dengan permukaan dalam silinder setelah melewati 200 kali tembakan terdengar berderak. Tampaknya seal piston telah menjadi cukup kering ataupun permukaan kontak piston dengan silinder kehilangan pelumasannya. Namun selama dalam proses break in, senapan ini tidak pernah gagal dalam mengunci per dalam posisi terkokang.
Untuk memasukkan mimis tidak perlu tenaga atau membuat jari menjadi kapalan akibat mendorong rok mimis agar rata di dalam breech. Pangkal laras yang di-reaming cukup lebar (sekitar 4.6 mm) membuat mimis mudah masuk ke dalam laras. Namun masalahnya jika kita menutup laras dengan posisi laras di atas, besar kemungkinan untuk mimis kembali keluar akibat kurangnya cekatan pada kepala dan rok mimis. Pada pengujian kecepatan mimis nanti akan terlihat bagaimana konsistensi senapan ini terpengaruh akibat posisi mimis yang tidak tercekat dengan baik. Namun saat breech dalam posisi tertutup kembali, sulit rasanya untuk membuka kembali saat menembak. Setidaknya hingga saat ini, di mana saya sudah menembakkan setidaknya 300 buah mimis, tidak pernah laras terbuka kembali secara spontan.
Membidik dengan visier bawaan dirasakan cukup mudah. Coakan pada visier belakang cukup rapat dan mudah bagi mata saya untuk mendapatkan gambaran yang jelas dari visier depan dan gambaran yang kabur pada sasaran dan visier belakang. Sayangnya dengan kecepatan yang dihasilkan senapan ini, saya harus memasang ketinggian visier belakang pada tingkat tertinggi. Bahkan untuk jarak tembak yang hanya sejauh 10 meter. Lebih jauh dari 10 meter, maka visier belakang tidak akan mampu mengakomodasi jatuhnya mimis tepat pada titik bidik.
Kelemahan lainnya pada pengaturan horisontal (windage) juga saya rasakan walaupun hingga saat ini mimis masih jatuh pada sumbu vertikal yang dekat dengan titik bidik. Itupun dengan praktek teknik menembak yang sangat-sangat ketat. Jika ditembakkan secara gegabah, grouping mimis cenderung berlari ke sebelah kanan akibat kerasnya usaha menarik picu dan recoil.
Picu sendiri memang dirasa cukup keras untuk ditarik. Dibutuhkan usaha menarik picu sebesar 2.2-2.5 kg yang diukur dengan timbangan bagasi yang saya miliki. Picu dengan jenis pelepasan satu tingkat ini sulit diprediksi dan membuat kita harus ekstra hati-hati juga konsisten dalam menarik picu. Ketidaksiapan dalam menarik picu dapat menyebabkan grouping tercipta sangat lebar.
Salah satu keluhan saya dan partner pengujian saya mengenai picu adalah kelengkungan bilah picu. Kelengkungan bilah ini terlalu sempit. Ditambah dengan materi picu yang halus dan licin akibat penambahan minyak, membuat jari secara tidak sadar tergelincir ke sudut atas picu di mana momen putar yang dibutuhkan untuk mengungkit picu dirasakan lebih berat. Lebih baik rasanya apabila bilah picu ini dibuat lebih lurus dan panjang untuk mengatasi kekerasan picu satu tingkat ini. Bahkan kalau bisa senapan ini mengadopsi sistem picu dua tingkat.
Pengalaman menembak pada senapan ini bisa dikatakan menyenangkan. Dengan posisi menembak tanpa sandaran, tangan akan mudah untuk menopang senapan dengan bobot kosong hanya 2.9 kg ini. Sedikit lebih berat daripada senapan Sharp Tiger yang saya pernah coba. Recoil jelas dirasakan namun tidak sampai membuat ujung laras bergeser jauh dari posisi awalnya. Vibrasi dirasakan cukup bermakna sehingga saat saya menembak cukup lama, jari telunjuk penarik picu maupun tangan depan saya mulai merasa kesemutan. Senapan dengan langkah hentakan (stroke) yang pendek ini tidak menimbulkan suara twang yang keras. Entah bagaimana menjelaskannya sebagai pemula, namun suara yang dihasilkan senapan ini sangat solid. Suara saat piston menghantam bantalan udara terdengar mantap. Tidak seperti HW 77 standar saya yang menimbulkan suara twang cukup nyaring, suara senapan ini lebih terdengar seperti thud yang mantap. Dan seperti senapan springer lainnya, senapan ini relatif tidak berisik saat ditembakkan. Setidaknya setelah fase detonasi pada dieseling ini terlewati dalam proses break in. Namun pada masa awal-awal senapan ini baru saya tebus, suara cukup keras terdengar disertai kepulan asap tebal yang menandakan kamar kompresi dan seal mendapat pelumasan yang berlebihan.

Kecepatan pada Berbagai Mimis Impor
Untuk menguji kecepatan mimis pada ujung laras (MV, muzzle velocity) saya gunakan mimis impor yang sudah diketahui kualitasnya dengan baik. Sewaktu saya membawa pulang senapan ini, Pak Sugeng di PD Pipik Putra telah melakukan uji kecepatan bagi saya menggunakan Shooting Chrony, yang merupakan pengujian standar untuk senapan yang perusahaan ini produksi. Waktu itu pengujian dilakukan menggunakan mimis RWS Superdome dengan berat 8.3 grain. Dari hasil pengujian resmi yang diberikannya, saya tampilkan dengan analisis statistik deskriptif standar dalam tabel di bawah ini.

Hasil chrono test out of the box De Pyra Jupiter 27 dari produsen. Sekitar 5.7 fpe atau 7.73 J.

Pada data di atas tampak kecepatan senapan cukup baik namun disertai sebaran kecepatan yang sangat lebar. Cukup baik karena saya bisa mendapatkan kecepatan mimis seperti pada Sharp Tiger yang dipompa sebanyak 3 kali, namun di sini saya hanya melakukan sekali pompa (kokang). Saya sendiri tidak menyukai senapan yang mengalami dieseling terlalu kuat. Karena kebetulan saya dapati juga kondisi dalaman laras kotor, maka saya putuskan untuk melakukan pembersihan/pemolesan pada bagian dalam laras disertai penambahan minyak silikon ke dalam tabung kompresi. Diketahui pemberian minyak silikon murni dapat mengurangi proses dieseling yang menyebabkan karakter tembak menjadi kasar. Namun tentunya penambahan minyak silikon ini akan mengorbankan kecepatan.
Setelah proses pembersihan laras saya kerjakan dan minyak silikon saya tambahkan, tampak karakter tembak senapan ini menjadi lebih halus. Tidak nyata lagi suara keras disertai kepulan asap membandel yang saya dapatkan seperti sebelumnya. Dan untuk menguji pengaruhnya pada MV, saya lakukan lagi pengujian MV menggunakan mimis yang sama namun dengan chronograph milik saya yaitu ProChrono Digital. Hasilnya saya tampilkan seperti di bawah ini.

Pengujian setelah pemberian minyak silikon yang saya hentikan pada tembakan ke-7 karena kecepatan yang acak dan cenderung melambat.

Tokyo Marui Silicone Spray yang saya gunakan untuk meminyaki kamar kompresi.

Kondisi dalam laras setelah pemolesan dengan Kit Metal Polish Cream andalan saya.

Tampak kecepatan menurun cukup signifikan dibandingkan pada pengujian awal di bengkel PD Pipik Putra. Tampaknya senapan ini mendapatkan manfaat yang cukup besar dalam penciptaan kecepatannya melalui proses dieseling minyak berbasis petroleum. Produsen mengaku menggunakan oli mesin berbasis petroleum dengan kekentalan 20 sebagai pelumas piston. Namun yang menarik bagi saya, sebaran kecepatan yang sangat lebar masih belum dapat juga dipersempit walaupun dieseling telah saya kurangi.
Seperti yang saya catat dalam artikel saya sebelumnya, kecepatan mimis pada senapan per sangat sensitif dengan kerapatan rok menyekat udara dalam laras. Desain pangkal laras senapan ini yang di-reaming cukup lebar sepertinya membuat fungsi penyekatan rok mimis menjadi kurang baik. Akibatnya mimis meluncur dengan berbagai macam posisi awal yang menimbulkan variasi cukup lebar pada penyekatan udara tekan. Mungkin hal inilah yang menyebabkan konsistensi kecepatan senapan ini terganggu. Untuk mengakali hal ini, saya putuskan untuk membenamkan mimis lebih dalam lagi sehingga rok mimis tercekat dengan baik ke bagian dalam laras yang tidak di-reaming. Untuk keperluan ini saya membutuhkan alat bantu karena jari saya tidak bisa masuk lebih dalam lagi ke dalam pangkal laras. Karena saya memiliki grendel bekas yang tidak terpakai, maka saya gunakan grendel tersebut sebagai pellet seater di mana ukurannya cukup panjang untuk mendudukan mimis ke posisi yang dalam dengan tingkat kedalaman yang konsisten.

Grendel bekas proyek Bramasta Antariksa yang saya gunakan sebagai pellet seater.

Hasil pengujian kecepatan yang saya dapatkan dengan 3 jenis mimis impor, yang mewakili berbagai kelompok berat yang saya miliki, saya masukkan dalam tabel di bawah ini.

Hasil pengukuran kecepatan mimis menggunakan 3 macam mimis. RWS Superdome untuk mimis berat menengah, Beeman Kodiak untuk mimis berat, dan JSB Exact RS untuk mimis ringan.

Dari hasil di atas ditemukan bahwa konsistensi senapan ini meningkat dengan signifikan. Bahkan sebaran kecepatan dan standar deviasinya menjadi sangat sempit. Memang kecepatan masih tetap rendah, namun konsistensi kecepatan tiap tembakannya menjadi sangat menggembirakan. Dengan kecepatan ini energi yang didapatkan 4.18 fpe atau 5.66 J untuk RWS Superdome dan 3.63 fpe atau 4.93 J untuk Beeman Kodiak.
Fenomena unik saya dapatkan pada mimis JSB Exact RS. JSB Exact RS yang walaupun sudah ditempatkan secara dalam tidak mampu membuat stabil kecepatan mimis ini. Rupanya rok mimis yang tipis dan berat total mimis yang ringan membuat mimis ini tidak dapat menahan tekanan udara secara konsisten sampai mencapai tekanan kerja optimumnya pada laras berdiameter pas 4.5 mm ini. Pastinya mimis ringan ini tidak bersahabat dengan senapan ini.
Sebagai catatan rupanya ide untuk menyelamatkan rok mimis dari gencetan breech (skirt squish) dengan melakukan reaming yang cukup lebar malahan mengorbankan konsistensi kecepatan. Sedangkan konsistensi kecepatan merupakan salah satu modal untuk mendapatkan grouping yang rapat. Namun bila kita telah menemukan cara untuk mengatasi hal ini, tampaknya powerplant dari senapan ini cukup menjanjikan dalam mencapai akurasi yang baik. Kita tunggu saja sampai uji akurasi saya kerjakan untuk mengetahui apakah kualitas laras senapan ini dapat menyalurkan konsistensi yang dibekalkan oleh powerplant.

Penutup
Siklus menembak senapan ini saya rasakan cukup menyenangkan dan tanpa masalah berarti. Untuk kecepatan yang dihasilkan saya rasa usaha pompa yang dibutuhkan masih terlalu berat. Keberadaan pangkal laras yang terlalu longgar bagi mimis saya rasa cukup merugikan. Padahal potensi konsistensi powerplant cukup menjanjikan untuk mengantarkan mimis secara akurat. Ditunjang dengan recoil yang jinak dan bobot yang ringan, saya rasa senapan ini cukup menyenangkan untuk digunakan melatih menembak off hand saya. Mari berharap kekerasan picu ini tidak mengganggu dan larasnya sudah cukup akurat setelah melewati proses break in ini.
Pada artikel selanjutnya, saya akan mencoba akurasi senapan ini pada jarak dekat (10 meter) dengan menggunakan alat bidik bawaan (visier, open sight).
Semoga berguna. Terbuka untuk masukan dan pertanyaan.

Bagian 3 Akurasi dengan Visier Bawaan
Poskan Komentar