Sabtu, 11 Januari 2014

Referat Marksmanship Bagian 1: Cara Memegang Senapan (Steady Hold)

Marksmanship sendiri dalam arti kamusnya adalah kemampuan untuk menembak sasaran secara tepat. Seorang marksman adalah seseorang yang memiliki kemampuan menembak sasaran secara tepat. Keahlian ini lahir dari pengetahuan dan disiplin latihan jangka panjang. Keahlian ini mendapatkan tempat terhormat dalam masyarakat.

Lukisan tentang keahlian menembak dengan busur panah pada jaman Cina kuno. Diambil dari: http://www.chinaarchery.org/archives/272

Pada jaman dahulu, marksmanship adalah salah satu keahlian wajib yang dipelajari oleh kaum bangsawan. Dalam berbagai lukisan dan relief terlihat bagaimana kaum bangsawan menggunakan anak panah dan busur untuk menembak berbagai sasaran. Dalam beberapa kitab dan sastra kuno kemampuan menembak jitu mendapatkan tempat terhormat. Tercatat kisah David (Daud) muda yang dapat menumbangkan raksasa Goliath dengan sekali lemparan batu menggunakan umban dan sekaligus mengakhiri peperangan dengan kemenangan. Atau dalam peperangan di padang Kurusetra dalam kisah Mahabarata di mana keahlian Arjuna melepaskan panah Pasopati menyebabkan gugurnya Adipati Karna yang menjadi antiklimaks dan kekalahan bagi pihak Kurawa.
Kemampuan menembak jitu sering kali menjadi penentu dalam suatu pertempuran atau bahkan peperangan.
Di era modern ini, di mana peperangan tidak dilakukan secara terbuka, posisi penembak jitu masih mendapatkan posisi yang terhormat. Pada pertempuran jaman modern ini, di mana hanya diperlukan segelintir tentara yang tergabung dalam tim elit militer untuk menuntaskan suatu misi spesifik, keberadaan penembak jitu mendapat posisi yang terhormat dan sering kali menjadi penentu keberhasilan misi.
Di negara-negara maju kemampuan marksmanship ini diajarkan dan dikembangkan juga di kalangan sipil terutama bagi kalangan muda. Dengan adanya program pelatihan Civilian Marksmanship, negara diuntungkan dengan berlimpahnya sumber daya manusia untuk kepentingan bela negara di samping untuk melatih kedisiplinan dan tanggung jawab di kalangan pemudanya.
Marksmanship sendiri adalah ilmu yang sangat luas dan dalam. Tidak mungkin memasukkan semuanya dalam artikel singkat di blog karena keterbatasan referensi online yang bisa secara gratis saya dapatkan. Namun dari beberapa sumber, dapat disarikan bahwa secara umum dasar-dasar marksmanship yang dikenal meliputi: steady hold, aiming, breathing control dan trigger control. Keempat dasar ini bersama-sama disebut sebagai The Four Marksmanship Fundamentals. Pada artikel sebelumnya telah saya singgung sekilas mengenai membidik menggunakan visier di mana membidik dengan cara itu adalah salah satu bagian dari dasar-dasar marksmanship ini.
Dalam artikel kali ini akan saya masukkan catatan saya mengenai steady hold atau memegang senapan dengan mantap. Steady hold sendiri berbeda dengan posisi menembak. Walaupun saling berhubungan, namun shooting position (yang dikenal sebagi The Three Shooting Positions) sendiri tidak dimasukkan dalam topik ini.
Secara umum senapan dipegang dengan secara nyaman dan mantap. Pegangan yang nyaman membuat tidak terlalu banyak otot terlibat dalam usaha mempertahankan posisi. Ketidaknyamanan membuat otot dipaksa berkontraksi terus menerus. Akibatnya otot akan mengalami kelelahan dan mulai mengalami getaran halus (tremor) dan berdampak pada akurasi.
Secara umum tangan depan memegang senapan dengan meletakkan pegangan senapan pada permukaan telapak tangan. Pegangan depan diletakkan pada telapak tangan di celah berbentuk huruf V yang dibentuk oleh ibu jari dan jari telunjuk. Pegangan dilakukan dengan ringan namun mantap untuk mencegah kontraksi berlebihan pada otot.
Bagian pangkal popor diletakkan pada kantung bahu. Kantung ini dibentuk oleh tulang belikat dan otot bahu. Karena berbentuk cekungan, struktur ini dapat secara stabil menahan pergerakan senapan.
Pada tangan belakang atau tangan yang digunakan untuk menarik picu, pegangan dilakukan pada pistol grip (bagian pinggang popor). Celah berbentuk huruf V pada tangan satunya ini diletakkan dengan telunjuk masuk ke dalam pelindung picu dan ibu jari berada di belakang pistol grip. Ketiga jari sisanya memeluk permukaan depan pistol grip dengan memberi sejumlah tekanan ke arah belakang untuk mendorong popor masuk ke dalam kantong bahu.

Kantong bahu (shoulder pocket). Tempat di mana ujung atas pangkal popor diletakkan. Terletak di bawah tulang belikat yang merupakan perbatasan antar pangkal lengan dan otot dada. Diambil dari: http://thewarriorliving.blogspot.com/2011/05/shoulder-pocket.html

Siku tangan depan diletakan senyaman dan sestabil mungkin tergantung posisi menembak yang digunakan. Siku tangan belakang berfungsi sebagai penyeimbang. Posisi siku ini harus memungkinkan agar kedua bahu dalam keadaan lurus.
Pipi yang menempel pada popor harus diletakkan (dijatuhkan) sealamiah mungkin sehingga leher tidak tegang akibat menahan kepala yang posisinya tidak alami. Pandangan mata harus berada pada garis yang menghubungkan kedua visier. Posisi ketinggian pipi menentukan sudut bidik yang dihasilkan. Maka untuk menjaga pipi selalu jatuh pada posisi yang sama di popor, maka kita harus peka menentukan pertemuan sisi atas popor dengan bibir atau hidung. Bibir atau hidung kita yang menjadi penanda ketinggian yang diperlukan untuk mencapai konsistensi.

Posisi dan pegangan senapan jenis match. Empat bagian yang kontak dengan tubuh penembak disorot dalam ilustrasi ini. Diambil dari: http://www.issf-sports.org/academy/trainingacademy/e_learning/rifle.ashx

Artillery Hold
Pengujian sebenarnya terhadap cara kita memegang senapan adalah di kala kita menembak dengan senapan yang memiliki karakter recoil. Jenis senapan angin yang memiliki karakter recoil adalah senapan angin jenis spring piston atau disebut juga senapan per.
Pada jenis senapan per kita tidak memegang senapan dengan erat. Melainkan kita mengijinkan senapan ini untuk bergerak sesuai dengan gerak alamiahnya. Kondisi ini sepertinya kontra intuitif, di mana saat kita memegang senapan, kita ingin senapan sebisa mungkin mendiamkan setiap gerakan dengan memegangnya lebih erat. Tapi fenomena paradokspada senapan per ini telah diuji dan teruji oleh waktu. Tom Gaylord dalam laporannya menyebutkan perbaikan dari ukuran grouping saat merubah pegangan senapan per-nya menjadi sangat longgar. Kondisi ini menyerupai cara sebuah senjata artileri berat ditembakkan sehingga disebut sebagai artillery hold.

Sebuah senjata artileri berat. 
Diambil dari http://www.fas.org/man/dod-101/sys/land/row/arty.htm
Sebuah senjata artilleri berat seperti meriam, memiliki recoil yang sangat besar. Hampir mustahil bagi sebuah penyangga meriam untuk membuat meriam ini diam saat proyektil diluncurkan. Alih-alih membuat meriam ini diam, penyangga meriam mengijinkan gerakan ini terjadi dengan menyediakan rel atau bantalan khusus untuk mengarahkan gerakan ini secara konsisten. Maka saat meriam ditembakkan dan proyektil keluar dari ujung laras, penyangga akan mundur ke belakang sesuai arah rel atau bantalan tadi.


Ilustrasi gerakan laras artileri terhadap penyangga. 
Diambil dari: http://www.pyramydair.com/blog/2007/07/artillery-hold.html
Dalam menembak sebuah senapan per, kondisi recoil serupa juga dialami. Massa dan kecepatan piston/seher saat bergerak menimbulkan momentum yang hampir mustahil untuk ditahan oleh tubuh manusia seorang diri. Bahkan semakin erat kita memegang senapan per ini dengan sekuat tenaga, maka semakin liar recoil ini dirambatkan dan akibatnya akurasi menjadi buruk. Belum lagi kelelahan akibat usaha menggenggam erat ini akan membuat akurasi semakin menderita.
Untuk mengadaptasi kerja penyangga artileri berat dalam pegangan senapan kita, maka beberapa penyesuaian perlu dilakukan. Tangan depan sebagai penopang senapan dibiarkan terbuka atau secara rileks memegang bagian bawah senapan di sekitar pusat berat senapan. Tangan inipun tetap menyangga senapan walaupun kita menggunakan sandaran seperti sand bag. Usahakan menempatkan setiap jari pada bagian yang sama setiap kali menembak untuk memberikan ruang gerak yang identik selama menembak. Bagian pangkal popor dibiarkan melekat pada kantong bahu tanpa ditekan sehingga gerakan rotasi senapan saat recoil diijinkan terjadi. Tangan penekan picu tidak menggenggam erat pistol grip, dan ibu jari tidak menyilang pada bagian belakang pistol grip.

Tom Gaylord menunjukkan artillery hold pada penggunaan sandaran senapan. 
Diambil dari: http://www.pyramydair.com/blog/2012/09/the-beeman-r1-supermagnum-air-rifle-18-years-later-part-4/

Posisi ibu jari pada artillery hold tidak menekan keras maupun menyilang pada pistol grip. Diambil dari: http://www.pyramydair.com/blog/2010/03/the-bronco-from-air-venturi-part-5/

Artillery hold pada posisi berdiri dan tanpa sandaran (off hand). 
Diambil dari: http://www.airgundepot.com/how-to-get-a-springer-to-shoot-straight-article.html

Tangan depan penyangga senapan diletakkan sesuai kenyamanan dan karakter senapan. Beberapa rekomendasi mengatakan tangan penyangga sebaiknya diletakkan pada pusat berat senapan. Namun beberapa pengalaman lain mengatakan recoil dapat dikurangi dampaknya saat senapan dipegang jauh di depan ataupun tepat di depan pelindung picu. Pengalaman setiap penembak dan karakter senapan adalah pribadi seperti layaknya memilih mimis terbaik untuk setiap senapan.

Pegangan tangan depan yang diletakkan di ujung depan. Cara ini diyakini dapat meredam gerakan recoil senapan. Diambil dari: http://www.ar15.com/archive/topic.html?b=9&f=5&t=232004

Sekian pengantar topik steady hold dari rangkuman saya. Pengalaman setiap orang bisa sangat berbeda. Namun setidaknya apa yang saya pelajari cukup membantu saya dalam usaha menembak senapan-senapan saya. Semoga berguna. Terbuka untuk pertanyaan dan masukan.

Posting Komentar