Minggu, 12 Januari 2014

De Pyra Jupiter 27: Senapan Per Untuk Pemula - Bagian 3

Bagian 1 Tampilan luar senapan
Bagian 2 Siklus menembak dan kecepatan


Pada artikel kali ini, saya akan mencoba akurasinya pada jarak dekat. Senapan De Pyra Jupiter 27 ini adalah senapan per produksi dalam negeri dengan tampilan yang bagus, bobot yang ringan, dan konsistensi tembakan yang baik. Sisi lemah senapan ini adalah usaha kokang yang keras, picu satu tingkat yang keras dan bagian breech yang di-reaming terlalu longgar. Bahkan kecepatan senapan ini saya kurangi lagi dengan pemberian minyak silikon untuk menjinakkan gejala dieseling yang berlebih.
Dengan kelebihan dan kekurangannya akan saya coba akurasi senapan ini dalam uji tembak jarak dekat (10 meter) di dalam ruangan. Tidak ada bantuan alat bidik lainnya selain visier bawaan mimis.


Bagaimana Kemampuan Menembak Saya
Seperti saya katakan, baru sebentar saya menggeluti hobi menembak senapan angin. Bahkan lebih singkat lagi pengalaman saya dalam memegang senapan per. Tidak ada kompetensi saya untuk menguji bahkan memberi penilaian tentang suatu senapan. Blog ini awalnya adalah catatan pribadi terbuka milik saya dengan gaya deskriptif. Namun dalam perkembangannya banyak respon dan ekspektasi dari tulisan saya untuk mendapatkan referensi tentang suatu senapan angin. Adalah hak anda untuk mempercayai cerita saya ataupun sebaliknya.
Dalam perkembangan hobi saya, saya bersyukur diberikan kesempatan untuk merasakan bahkan memiliki senapan yang sudah terkenal baik kualitas dan akurasinya. Jadi bila saya bisa menembak senapan yang baik dan mendapatkan hasil yang baik, bolehlah saya menyatakan diri saya sudah bisa menembak dengan baik.

HW 77 dengan rifle scope Hawke Sport HD 3-9X40 milik saya. Grouping 10 mimis RWS Meisterkugeln untuk senapan 8.2 gr pada jarak 10 meter indoor menggunakan bench rest tercatat 18.5 mm CTC.

Gambar di atas bukan berbicara sebagai data pembanding untuk pengujian yang akan saya lakukan. Percayalah itu tidak akan adil karena kita tidak membandingkan rasa sebuah apel dengan buah lainnya. Data di atas lebih sebagai pernyataan diri kalau saya dapat menembak dengan senapan per. Walaupun hanya dilakukan dengan menggunakan bench rest.
Jadi bagaimana hasil yang saya dapatkan dengan senapan yang kita sorot hari ini?
Untuk menghidangkan artikel ini, saya telah mencoba melakukan tembakan setidaknya hingga 400 kali. 400 tembakan yang penuh rasa frustasi karena saya bahkan belum menemukan tanda-tanda bahwa senapan ini akan menjadi akurat. Namun pada suatu hari di mimis yang entah ke berapa, tiba-tiba saja senapan ini mulai membentuk grouping yang makin rapat. Mimis favorit saya untuk melakukan break in adalah mimis lokal seperti Beeman Super-X dan Elephant Match Maximum. Karena dua mimis ini saya rasa cukup berat, relatif bersih dan cukup akurat untuk menilai perkembangan akurasi senapan ini. Setelah melewati proses ini, saya lakukan pengencangan pada 3 sekrup yang mengikat popor pada tabung kompresi. Recoil berulang menyebabkan ketiga sekrup ini menjadi kendur dan mempengaruhi akurasi.
Senapan De Pyra Jupiter 27 Special milik saya memiliki pusat berat di tengah-tengah bagian pegangan tangan dari popor. Senapan per patah laras dikenal sensitif terhadap cara kita memegangnya (hold sensitive). Terinspirasi dengan cara Pak Sugeng dari PD Pipik Putra memegang senapan ini, saya coba terapkan tekniknya dalam cara menembak saya. Tangan depan dalam teknik menembaknya diletakkan jauh di belakang. Pegangan diletakkan tepat di depan pelindung picu.

Pada pusat beratnya, senapan akan berdiri dengan seimbang.

Pengukuran grouping 5 tembakan pada jarak 10 meter dengan mimis RWS Meisterkugeln 8.2 gr menunjukkan ukuran 22.5 mm hingga 33 mm jika flier dimasukkan. Terlihat kertas terpotong tidak rapi akibat kecepatan mimis yang rendah. Koin Rp 500 memiliki diameter 27 mm.

Dengan mimis dan jarak yang sama namun hanya mengandalkan visier bawaan, saya dapat menciptakan grouping yang cukup baik dengan 5 kali tembakan. Namun saya rasa laras senapan ini masih mampu berbuat banyak karena saya tahu dan pernah mencoba akurasi laras buatan PD Pipik Putra.
Pada posting sebelumnya telah saya singgung bagaimana problem kecepatan yang timbul akibat pangkal laras yang di-reaming terlalu besar. Saatnya menggunakan pellet seater milik saya untuk menempatkan mimis lebih dalam secara konsisten.

Hanya dengan memasukkan mimis lebih dalam menggunakan pellet seater, akurasi membaik menjadi 22 mm.

Dengan menempatkan mimis lebih konsisten ternyata akurasi senapan dapat diperbaiki. Hal ini mungkin disebabkan karena kecepatan menjadi lebih konsisten dan mimis memasuki alur laras dengan posisi kepala yang lebih terarah.
Namun saya belum cukup puas. Bagaimana bila ternyata akurasi bisa membaik bila saya menggeser sedikit saja pegangan tangan depan saya ke pusat berat senapan.

Grouping terbaik saya hari itu. Terukur 13 mm dengan hanya memindahkan pegangan tangan depan saya ke titik pusat berat senapan.

Setelah saya memegang senapan pada pusat beratnya, grouping menjadi lebih rapat lagi. Ternyata senapan ini menyukai pegangan yang ringan di pusat beratnya. Hari itu saya mengakhiri sesi menembak saya dengan bahagia. Ratusan mimis dan usaha membersihkan laras tampaknya terbayar sudah dengan akurasi yang baik hanya dengan menggunakan visier bawaan.
Keesokan harinya saya mencoba kembali untuk menembak senapan ini. Kali ini saya berpikir mengenai pegangan saya kembali. Bagaimana seandainya pegangan saya majukan ke ujung popor. Bukankah cara ini dimaksudkan untuk mengurangi recoil pada senapan?


Grouping agak melebar (17.7 dan 16.3 mm) setelah saya memindahkan pegangan tangan depan saya jauh ke depan. Grouping juga cenderung bergeser ke kanan POA.

Dua gambar di atas menunjukkan hasil yang didapatkan setelah saya memindahkan pegangan saya ke ujung popor. Tampaknya grouping agak melebar kembali dan cenderung berlari ke arah kanan. Rupanya senapan ini tidak terlalu menyukai gaya pegangan terakhir. Melalui rangkaian seri menembak ini saya jadi benar-benar menghayati apa yang saya pelajari tentang bagaimana suatu senapan per, terutama jenis patah laras, sangat sensitif terhadap cara kita memegangnya.

Kunjungan Saudara
Pada kesempatan ini saya mendapat kunjungan dari saudara-saudara ipar saya. Sebagai warga urban di Jakarta yang memiliki keterbatasan lahan untuk menembak, menemukan berbagai senapan dan lahan yang cukup untuk menembak membuat mereka antusias untuk ikut terlibat dalam pengujian yang saya kerjakan.
Untuk kesempatan ini saya libatkan kakak dan adik ipar saya untuk mencoba dua senapan per yang saya miliki.
Seperti judul yang saya angkat, yaitu senapan per untuk pemula, maka saya ingin mengetahui bagaimana kemampuan dan respon seseorang yang tidak pernah menembak senapan jenis ini untuk dapat sekedar mendapatkan grouping yang layak. Dari sana semoga ketertarikan muncul untuk dapat menguasai teknik menembak dengan baik. Dan syukur-syukur ikut keracunan untuk memiliki senapan per yang lebih serius lagi.
Pada kesempatan pertama saya biarkan kakak ipar saya bersenang-senang dengan senapan-senapan saya. Dia sendiri sangat antusias dan sering menembak kertas menggunakan senapan pompa milik saya. Senapan Sharp Ace milik saya sejauh ini adalah favoritnya. Untuk senapan jenis per yang baru saya miliki belumlah pernah dia sentuh. Maka untuk kesempatan ini, saya ingin agar dia membuat grouping 10 tembakan untuk masing-masing senapan.

Usaha kakak ipar saya menembak 10 mimis RWS Meisterkugeln dengan HW 77 dan scope Hawke Sport HD 3-9X40 AO menghasilkan 39.4 mm CTC.

Grouping 10 tembakan menggunakan visier bawaan Jupiter 27 dan mimis tidak didorong masuk menggunakan pellet seater. Grouping tampak jatuh melebar secara horisontal  di sebelah kanan POA. Hasil diperparah dengan robeknya kertas akibat pantulan mimis yang tidak tertangkap oleh pellet stopper. Tapi saya sudah menghitungnya buat kita dan menunjukkan angka 66 mm.

Grouping membaik dengan menggunakan pellet seater dan kali ini menunjukkan 51.5 mm.

Kesempatan kedua adalah adik ipar saya. Dia sama sekali baru dalam menembak dengan senapan angin. Setelah pengarahan singkat tentang menembak dengan rifle scope dan visier, maka saya biarkan dia membuat grouping 5 tembakannya sendiri.

Adik ipar saya menggunakan HW 77 dengan setting yang sama. Grouping menunjukan angka 24.4 mm CTC. Cukup berbakat juga untuk orang yang belum pernah menembak dengan senapan angin apapun.

Grouping 5 tembakan milik adik ipar saya menggunakan Jupiter 27. Terukur 52.8 mm CTC. Mirip dengan hasil yang didapatkan kakak ipar saya sebelumnya.

Hasil tembakan kedua saudara saya ini cukup identik. Namun hasil grouping yang didapatnya jauh dari hasil yang saya dapatkan. Sekilas banyak teknik menembak yang perlu diperbaiki melalui latihan. Hal ini memberi feedback yang berharga bagi saya bagaimana pengetahuan dan latihan yang terarah bisa memberi banyak perbedaan dalam hasil akhir menembak.

Penutup
De Pyra Jupiter 27 adalah senapan yang akurat untuk penggunaan 10 meter hanya dengan menggunakan visier bawaannya saja. Namun senapan ini sangat sensitif terhadap cara memegangnya. Praktek marksmanship yang baik dapat membuat perbedaan dalam ukuran group yang dihasilkan. Hal ini menjadikan senapan ini menjadi senapan latih yang baik bagi pemula untuk menguasai teknik menembak yang baik sebelum akhirnya memutuskan untuk memiliki senapan per yang lebih kuat ataupun relatif lebih mahal. Ya, senapan ini memang memiliki kecepatan yang rendah. Hal ini membuat pengukuran grouping menjadi bermasalah. Namun hal ini tidak menghalangi senapan ini membuat grouping yang baik pada kondisi terkendali seperti lintasan indoor pribadi yang saya miliki.
Pada kesempatan berikutnya saya akan menaikkan scope saya untuk menguji akurasi senapan ini pada jarak yang lebih jauh (20 meter) dengan kondisi lingkungan luar ruangan. Semoga cuaca mendukung karena akhir-akhir ini hujan angin sangatlah tidak bersahabat.
Semoga berguna. Terbuka untuk pertanyaan dan masukan.

Bagian 4 Akurasi jarak jauh
Poskan Komentar