Minggu, 01 Desember 2013

Referat: Memasang Telescope/Riflescope dan Permasalahannya

Artikel ini adalah catatan saya yang berisi tentang cara pemasangan rifle scope yang saya anut sampai saat ini. Pada awalnya saya hanya ingin mencatat cara saya memasang rifle scope. Namun saat saya menyusun artikel ini dan belajar kembali dari berbagai sumber, ternyata perkara sepele yang biasa saya lakukan telah berubah menjadi topik yang panjang dan kaya. Catatan ini akhirnya dibuat sebagai memoir saya dari pembelajaran saya mengenai pemasangan rifle scope sehingga bila dalam perkembangannya terdapat cara lain yang lebih baik, cara ini dapat saya koreksi di lain waktu.
Walaupun biasanya mudah, tampaknya memasang rifle scope sendiri bisa menjadi urusan yang rumit jika semakin didalami. Jadi suatu hal bisa dibuat sederhana ataupun rumit tergantung ketertarikan seseorang. Bagi saya, semakin mempelajari urusan yang satu ini, maka semakin banyak potensi permasalahan yang bisa timbul.

Rifle scope dan bagian-bagian luarnya. Diambil dari: http://www.airrifle.co.za/threads/4758-How-to-Choose-a-Scope-(RifleScope)

Sebelum membuka artikel ini perlu saya peringatkan bahwa artikel ini memiliki banyak ilustrasi atau gambar yang akan berpengaruh pada internet berbasis kuota dan mungkin sulit terlihat pada kualitas jaringan internet yang buruk.

Permasalahan yang berpotensi timbul dari pemasangan rifle scope (atau yang biasa disebut tele atau scope saja) yang saya dapatkan yaitu:
1. Perbedaan arah sumbu antara komponen yang berkaitan (misalignment)
Dalam memasang sebuah scope, kita mencoba menempatkan sumbu pengelihatan kita sejajar dengan lintasan mimis. Namun dalam praktiknya, ternyata untuk menyatukan dua garis ini ternyata tidaklah sesederhana yang diharapkan. Dalam memasang scope kita berurusan dengan beberapa komponen yang memiliki sumbunya sendiri, yaitu mulai dari sumbu base rail, sumbu mounting, sumbu pengelihatan telescopic, sumbu laras, dan lintasan mimis. Untuk menyatukan semua sumbu ini walaupun tidak sederhana namun seringkali mudah dilakukan karena kita biasanya mengabaikan beberapa sumbu yang ada dan tinggal melakukan pengaturan pada rifle scope untuk meletakkan cross hair pada titik tumbukan mimis (POI, point of impact). Kita baru sadar ternyata banyak faktor yang berperan saat batas pengaturan rifle scope (elevation dan windage) telah mencapai batasnya, namun kita belum dapat menemukan titik temu antara cross hair dan POI.
Dalam pemasangan scope, kita akan menemukan beberapa komponen yang saling berkaitan dan setiap komponen itu memiliki sumbu panjangnya sendiri yang kadang berbeda-beda arah atau sudutnya. Untuk menjelaskan keadaan itu dapat disimak pada ilustrasi di bawah ini.

Ilustrasi perbedaan arah berbagai sumbu panjang komponen yang terlibat dalam pemasangan rifle scope dilihat secara dua dimensi. Ilustrasi ini dilebihkan untuk menerangkan maksud. Perbedaan sudut antar komponen seringkali sangat kecil untuk diamati.

Perbedaan arah sumbu itu disebut juga misalignment. Kondisi misalignment ini bisa ditemukan antara laras, reciever, scope mount base, bahkan lintasan mimis. Kondisi misalignment ini akan jarang atau tidak ditemui pada produk yang berkualitas baik. Baik senapan maupun mountingnya.

Misalignment pada scope mount two-pieces. Dengan kondisi seperti ini, scope yang dipasang akan mengarah ke sebelah kanan laras dan menyebabkan keterbatasan untuk menggeser POI ke sebelah kiri. Diambil dari http://senapananginplus.blogspot.com/2013/04/cara-pemasangan-scope-pada-senapan.html


Laser bore sight
Untuk membuktikan adanya perbedaan antara lintasan mimis dan laras kita dapat menggunakan suatu alat yang dinamakan laser bore sight. Alat ini digunakan untuk membantu melakukan zero pada senapan. Alat ini telah dikalibrasi oleh pabrik sehingga sinar laser berjalan pararel ataupun berimpit dengan sumbu panjang laras. Setelah dipasang pada ujung laras kemudian scope diatur (di-zero) sehingga cross hair berada di tempat laser menunjuk. Secara logis, mimis yang ditembakkan akan jatuh pada cross hair ataupun di atas atau di bawah cross hair (tergantung jarak zero). Namun pada kenyataannya terdapat variasi di mana mimis jatuh di sebelah kanan maupun kiri dari cross hair. Penjelasan yang mungkin untuk fenomena tersebut adalah antara arah laras menunjuk dan arah lintasan mimis pada bidang horisontal tidaklah sama/pararel.

Laser telah berada di tengah cross hair. Namun group jatuh di sebelah kanan atas POI pada lingkungan indoor. Trajectory-Barrel misalignment?

Misalignment sering tidak disadari karena pengaturan windage (posisi horisontal, ke kanan atau ke kiri) pada scope masih dapat mengompensasi gejala ini. Namun pada perbedaan sudut yang terlalu besar, hal ini tidak dapat dilakukan karena pengaturan windage pada scope memiliki keterbatasan. Saat pengaturan telah mencapai batasnya, berapapun putaran yang diberikan pada knob turret, tidak akan menggeser cross hair. Bahkan disarankan tidak memutar knob sampai maksimal karena dapat menyebabkan tabung bagian dalam scope menjadi bengkok.
Solusi untuk masalah ini adalah menggunakan mounting yang memiliki misalign compensator (tapi jenis ini jarang sekali tersedia). Hal yang mudah dilakukan adalah mengganjal ring bagian belakang menggunakan karton/kartu nama/plat tipis. Ganjal ini diletakkan di bagian sisi yang mana pengaturan windage scope sudah tidak mungkin lagi ditambahkan. Sederhananya, jika pengaturan windage ke kanan sudah maksimal, maka ganjal diletakkan pada bagian sisi kanan dalam dari ring scope mount yang belakang.
Mounting yang terdiri dari dua bagian (two pieces) sering sekali mengalami masalah misalignment ini. Sedangkan pada mounting yang terdiri dari satu bagian (one piece) misalignment biasanya lebih jarang. Namun mounting two pieces memiliki keunggulan dalam penempatan di reciever di mana mounting jenis ini lebih fleksibel. Sedangkan mounting jenis one piece biasanya dihadapkan pada permasalahan penempatan di mana kadang kala menghalangi tempat untuk memasukkan mimis.

2. Posisi reticle pada rifle scope terhadap posisi senapan
Posisi reticle sendiri terhadap senapan diharapkan tegak lurus antara bidang horisontal senapan dengan garis vertikal reticle. Atau yang paling diharapkan, posisi reticle vertikal berada segaris dengan pusat/sumbu dari laras. Maksudnya agar pengaturan pada salah satu komponen rifle scope (elevation saja atau windage saja) hanya menggeser POI pada satu bidang saja. Namun sering pada prakteknya saat kita hanya ingin memanipulasi salah satu knob turret pada rifle scope, ternyata POI jatuh pada bidang yang tidak diharapkan.

Posisi scope yang ideal. Reticle vertikal berpotongan dengan sumbu laras. Pada gambar ini dicapai dengan menggunakan bantuan instrumen vertikal reticle. Diambil dari: http://www.riflescopelevel.com/vertical_retical_instrument.html 

Contoh kasus: Misalnya saat kita memutar knob turret sebanyak 10 klik ke arah kanan untuk mendapatkan pergeseran sebanyak 2 mm ke arah kanan, ternyata mimis jatuh 2 mm ke arah kanan namun  juga menyimpang 1 mm ke arah atas. Konsekuensinya kita memutar lagi 5 klik turret untuk mengatur elevation ke arah bawah. Hasilnya POI memang turun kembali ke bidang asal namun juga sedikit bergeser kembali ke arah kiri. Membuat frustasi dan makan waktu untuk melakukan zero.
Untuk meminimalkan pergeseran POI ke bidang yang tidak dinginkan, maka pemasangan scope diusahakan separalel mungkin terhadap laras. Sebenarnya jika memungkinkan, dilakukan separarel mungkin dengan lintasan mimis. Namun karena hal ini sulit dilakukan, maka memposisikan reticle vertikal tegak lurus dengan bidang horisontal senapan adalah pilihan yang paling mudah.
Untuk kepentingan ini maka kita membutuhkan alat bernama water pass. Alat ini dapat membantu memposisikan suatu bidang datar pada bidang yang dibentuk sudut 0 dan 180 derajat (arah pukul 9 dan 3 laras). Dengan memosisikan laras/receiver dan scope pada bidang yang sama, diharapkan kedua arah komponen ini pararel pada bidang horisontal.

Menggunakan 2 buah water pass untuk memararelkan bidang horisontal receiver dan garis horisontal reticle scope. Jika garis horisontal telah pararel, maka garis vertikal reticle akan tegak lurus. Perhatian pada laras yang tidak lurus benar (misalign) dengan receiver, misalnya pada senapan yang telah diganti receiver-nya atau melakukan penggantian laras. Sebaiknya water pass diletakan pada laras apabila terdapat bidang datar yang cukup. Diambil dari: http://senapananginplus.blogspot.com/2013/04/cara-pemasangan-scope-pada-senapan.html.

3. Pergeseran kedudukan mounting terhadap mount base
Sebuah rifle scope yang telah ditempatkan dengan baik bahkan dapat mengalami perubahan posisi seiring waktu. Permasalahan ini dapat disebabkan oleh desain mounting dan base yang kurang dapat menolerir hentakan senapan (recoil) maupun guncangan saat transportasi atau mobilisasi. Pergeseran yang sering didapatkan adalah pergeseran ke depan ataupun ke belakang dari mounting terhadap rel base. Akibatn pergeseran ini POI akan bergeser ke atas atau ke bawah. Akibat lain dari pergeseran ini adalah perubahan luas area pengelihatan (lapang pandang) maupun ketajaman reticle dalam scope akibat perubahan jarak exit pupil dan eye relief.

Ilustrasi eye relief dan hubungannya dengan exit pupil. 
Semakin besar pembesaran objek, semakin pendek eye relief 
dan semakin kecil exit pupil. Diambil dari:
http://en.wikipedia.org/wiki/Eye_relief
Exit pupil sendiri dapat dijelaskan sebagai diameter bukaan cahaya yang melewati bagian paling belakang dari sistem scope. Prinsipnya semakin besar pembesaran scope maka diameter exit pupil akan semakin kecil. Sedangkan eye relief dapat dijelaskan sebagai jarak maksimal antara bagian paling belakang dari lensa menuju bagian terdepan mata (kornea), di mana pada jarak ini didapatkan lapang pandang yang penuh. Prinsipnya semakin besar pembesaran, maka eye relief akan semakin pendek jaraknya.
Pada senapan dengan recoil yang jelas dirasakan seperti senapan jenis spring piston/per, mount base biasanya dilengkapi dengan beberapa lubang yang berguna untuk menancapkan sekrup yang berfungsi sebagai jangkar. Sekrup ini dinamakan stopper dan lubangnya dinamakan stopper hole. Jangkar ini akan mencegah mounting bergeser terutama ke belakang pada siklus menembak senapan jenis ini. Pada senapan jenis pneumatik seperti PCP (Pre Charge Pneumatic, senapan gas) dan multi pump (uklik), hal ini biasanya tidak menjadi masalah sehingga tidak ditemukan adanya stopper hole.


Three holes
Dove tail rail pada senapan spring piston Air Arm TX 200 dengan 3 stopper hole di permukaannya. Jenis mount base ini umum didapatkan pada senapan angin. Kebanyakan lebar dari kedua alur itu sekitar 11 mm. Diambil dari: http://www.pyramydair.com/article/All_about_scopes_Part_2_February_2005/21

2 piece rings
Mounting berjenis two-piece. Sebelah kiri diletakkan di belakang karena memiliki sekrup stopper. Diambil dari: http://www.pyramydair.com/article/All_about_scopes_Part_2_February_2005/21 

1 piece ring
Mounting berjenis one-piece. Pada jenis mounting ini biasanya tidak ada misalignment di antara kedua cincinnya. Kelemahannya adalah fleksibilitas penempatannya yang terkadang menghalangi tempat memasukkan mimis. Diambil dari: http://www.pyramydair.com/article/All_about_scopes_Part_2_February_2005/21

Cara lain yang biasa dilakukan untuk mencegah mounting meluncur sepanjang base adalah dengan menggunakan mounting yang memiliki dua sekrup pengencang, ataupun menggunakan mounting panjang (one-piece).
Mount base yang kita kenal dinamakan dovetail rail dan biasa digunakan pada kebanyakan senapan angin. Selain mount base berbentuk dove tail, juga dikenal desain lain yang biasanya digunakan pada senjata api, misalnya weaver rail dan picatinny rail.



Mount base berbentuk picatinny rail. Diambil dari: http://www.pyramydair.com/blog/2005/11/picatinny-weaver-dovetail-scope-bases.html

Dengan serangkaian permasalahan yang berpotensi timbul, maka pemasangan scope tidak lagi sesederhana yang saya biasa lakukan selama ini. Untuk memasang rifle scope baru saya ke atas senapan per maka saya perlu melakukannya dengan lebih baik lagi. Langkah-langkah yang saya kerjakan sampai sejauh ini adalah.


  1. Menempatkan senapan pada meja yang kokoh dan jepit dengan ragum.
    Menempatkan senapan pada meja dan ragum untuk mencegah pergerakan senapan selama pemasangan scope.
  2. Pilih mounting yang berkualitas baik, ukuran diameter cincin yang cocok dengan diamater tabung scope (1" atau 30 mm), memiliki rancangan yang sesuai dengan mount base (beratap rata atau melengkung), memiliki ketinggian yang sesuai dengan diameter lensa, dan memiliki stopper pada unit mounting belakang (khusus/terutama pada senapan per). Lalu pasang unit mounting belakang pada stopper hole. Sebelumnya lepas cincin mounting bagian atas. 
  3. Kencangkan sekrup pada mounting secukupnya namun jangan terlalu kencang untuk memungkinkan pengaturan maju mundur mounting pada rel mount base.
  4. Karena pada bagian senapan HW 77 tidak terdapat bidang datar, saya letakkan water pass pada mounting. Lakukan penyesuaian posisi kemiringan senapan dengan memutar badan senapan sehingga gelembung udara pada water pass terletak tepat di tengah-tengah. 
    Mounting pada permukaan stopper hole setelah dilakukan penyesuaian kemiringan senapan.
    Water pass sama rata di posisi cincin mounting dengan posisinya di atas stopper hole. Menandakan permukaan cincin memang datar.
  5. Pasang scope pada mounting dan atur posisi maju-mundur scope sehingga lensa belakang (okuler) enak di mata. Enak berarti pada posisi menembak yang biasa digunakan kita bisa mendapatkan fokus gambaran reticle dengan cepat dan lapang pandang yang lengkap/penuh menggunakan pembesaran lensa yang terkuat. Hal ini menandakan posisi mata telah berada pada jangkauan eye relief scope dan diameter exit pupil sesuai dengan diameter pupil mata. Kebetulan scope saya tepat pada posisi stopper hole yang paling depan.
  6. Geser mounting depan ke arah depan sampai terletak pada ujung pinggang scope lalu kencangkan sekrup penjepit base. Pada scope saya, kedua mounting bisa saya tempatkan tepat berada di ujung tabung utama scope (main tube). Hal ini dimaksudkan untuk menahan scope terhadap pergeseran dalam cincin mounting. Namun tidak jarang juga ditemui panjang rel base tidak cukup untuk meletakkan cincin mounting sampai di kedua ujung tabung scope. Tidak menjadi masalah juga bila posisi cincin mounting tidak berada di kedua ujung tabung scope..
    Posisi mounting sebisa mungkin diletakkan di ujung-ujung tabung utama scpe untuk menahan pergerakan scope sepanjang cincin mounting.
  7. Pasang water pass pada permukaan atas turret yang digunakan untuk mengatur elevation. Jika posisi gelembung udara telah berada di tengah, maka posisi garis horisontal reticle hampir dipastikan sejajar dengan bidang horisontal senapan. Sebaiknya kita memiliki 2 buah water pass untuk diletakkan pada scope dan pada senapan. Tapi sebuah water pass saja untuk kepentingan ini sudah cukup dan biasanya memakan biaya juga.
    Water pass kali ini dipindahkan pada permukaan atas turret. Putar scope sampai didapatkan posisi gelembung udara tepat di tengah untuk menyamakan/memaralelkan posisi scope pada bidang horisontal senapan. Tetap letakan di posisi ini saat meletakkan dan mengencangkan tutup cincin mounting.
  8. Pasang belahan cincin yang atas dan kencangkan semua sekrupnya menggunakan prinsip menyilang dengan urutan seperti gambar di bawah ini. Gunanya supaya tidak memberikan tekanan berlebihan di salah satu bagian scope. Pada masing-masing sekrup jangan sampai langsung kencang sekali, namun bertahap dan sedikit-sedikit. Lakukan pengencangan hingga kunci L tidak bisa diputar lagi dengan jari menggunakan bagian lengan kunci yang pendek. Tidak perlu menggunakan lengan kunci yang panjang untuk mengencangkan, karena akan menyebabkan tabung utama scope menjadi penyok. Pada tahapan ini usahakan water pass tetap berada di permukaan atas turret knob untuk mengantisipasi gerakan rotasi scope saat sekrup ring dikencangkan.
    Urutan mengencangkan sekrup cincin mounting untuk mencegah tekanan berlebih dan tidak merata pada tabung scope. Diambil dari: http://www.pyramydair.com/article/All_about_scopes_Part_2_February_2005/21
  9. Lakukan pengujian pada jarak yang pendek dulu misalnya 5-7 meter untuk melihat POI. Biasanya pada tahapan ini POI akan berbeda dengan titik bidik (Point of Aim, POA). Lakukan tembakan lebih dari sekali, 2-3 kali untuk hasil minimal yang dapat dipercaya.
  10. Lakukan penyesuaian POI dengan mengatur elevation dan windage sehingga jatuh tepat pada POA. Namun untuk jarak yang pendek, biasanya saya memilih mengutamakan kesesuaian windage dulu (arah kiri dan kanannya) dan saya biarkan POI berada di atas POA.Untuk membantu mengingat ke arah mana knob diputar, maka ingatlah: putar knob ke arah di mana POI akan dituju. Putar knob ke arah kanan apabila mimis jatuh terlalu kiri dan kita hendak membuat mimis jatuh menuju kanan. Lakukan pada salah satu bidang dulu, elevation dulu ataupun windage dulu baru kemudian melakukan penyesuaian pada bidang yang lain.
  11. Jika POI telah berada pada POA, lakukan pengujian pada jarak yang diinginkan dengan memperhitungkan jarak zero yang ideal (menggunakan prinsip PBR, artikel saya terdahulu) atau pada jarak yang sehari-hari dipergunakan (misalnya pada bench rest shooting dengan jarak target yang tetap).
Semoga bermanfaat. Terbuka untuk masukan dan pertanyaan.
Poskan Komentar