Rabu, 18 Desember 2013

R. Ade Supriatna Pipik: Dongeng dan Harapan dari Cikeruh

Tidak terasa sudah setengah tahun saya menulis di blog ini. Sudah lumayan juga jumlah artikel yang berisi catatan pembelajaran saya mengenai hobi saya yang satu ini. Terima kasih kepada semua pembaca yang telah berkunjung di blog saya dan bahkan beberapa menyempatkan diri memberi komentar dan apresiasi yang membuat saya tersanjung dan bersemangat untuk terus menulis. Bahkan catatan pribadi saya tentang aktifitas saya di dunia senapan angin sudah menjadi referensi bagi yang lain. Semoga saja tetap berguna dan tidak salah-salah amat.
Saat ini, Pancanaka Airgun Works ikut meramaikan channel di Blackberry Messenger. Bagi pembaca yang menggunakan BBM versi 8 bisa subscribe channel saya dengan add PIN C00410169 atau mencarinya dengan nama Pancanaka-airgun On The Move. Sesuai namanya, isinya adalah catatan-catatan kecil inspirasi yang didapat dari keseharian saya menjalani hobi yang satu ini.
***
Menuju blog hari ini. 
Saya berkesempatan berjalan-jalan ke Cikeruh, Sumedang dalam rangka mengembalikan senapan Bramasta Antariksa saya yang kurang memuaskan pengerjaannya ke gunsmith daerah Cipacing. Sudah lama saya tertarik dengan nama salah satu perusahaan di daerah Cikeruh. Suatu perusahaan yang berkembang turun temurun dari perintis usaha senapan pada jaman kolonial Belanda dulu. Karena keterbatasan pengetahuan geografi di daerah Jatinangor (Cikeruh dan Cipacing adalah desa yang bertetangga dalam kecamatan Jatinangor, kabupaten Sumedang) dan begitu tertutupnya para pedagang senapan yang berada di sekitaran jalan raya Cipacing, saya baru bisa menemukan tempat ini beberapa minggu kemarin.

Santai, ramah dan terbuka.  Itulah kesan yang bisa ditemui dari R. Ade Supriatna Pipik. Pemilik dan Pemimpin PD Pipik Putra Cikeruh.


PD. Pipik Putra
Perusahaan Dagang ini berlindung di bawah koperasi Bina Karya yang menaungi para pengrajin senapan di daerah Cipacing, Cikeruh, dan Galumpit. Saat ini di bawah kepemimpinan Bapak R. Ade Supriatna Pipik, perusahaan ini  berkegiatan di bidang kerajinan senapan angin dan jual-beli senapan maupun perlengkapannya.
Dalam kesehariannya, perusahaan ini memproduksi senapan yang datang dari pesanan tangan bandar senapan maupun perseorangan. Di bawah kepemimpinan Pak Ade, perusahaan ini bisa terus mendapatkan pesanannya bahkan hingga ke pelosok daerah di Nusantara. Pak Ade sendiri mengakui bahwa fokus pemasaran perusahaannya lebih ditujukan ke arah timur Indonesia karena senapan buatannya diserap baik oleh pemburu dan petani di wilayah itu untuk membasmi hama. Beliau tidak terlalu memusingkan pemasaran di wilayah barat karena wilayah barat Indonesia sudah cukup jenuh dengan banyaknya produk senapan angin di sana. Dan lagi pula jumlah lahan hutan dan pertanian di wilayah barat semakin berkurang, sehingga menyurutkan minat para pemburu dan petani di wilayah itu.

Showroom sekaligus workshop di lingkungan yang tenang dan asri. Membuat pengunjung betah berlama-lama ngobrol dengan sang empunya. 

Perusahaan ini mampu menghasilkan senapan angin dari berbagai jenis powerplant. Jika saat ini para pengrajin senapan kenamaan negeri berlomba-lomba membuat senapan angin berjenis PCP (Pre Charged Pneumatic) atau senapan gas, maka Pak Ade tetap juga memperhatikan jenis senapan lain seperti multipump pneumatic atau pompa tangan/uklik dan spring piston atau senapan per. Maka bisa dikatakan, perusahaan ini memiliki lini produk yang cukup lengkap.
Saat ini aktifitas perusahaan memang disokong oleh senapan-senapan yang diborong oleh bandar dalam keadaan polos (tanpa merk) dan beberapa dipasarkan dengan merk Binka yang merupakan merk yang berhak disandang oleh para pengrajin di bawah naungan Koperasi Bina Karya. Tidak jarang pula datang pemesan yang minta untuk diberikan merk sendiri seperti misalnya Ari Wibowo Air Rifle. Namun, Pak Ade sendiri tetap menyisakan bagi perusahaannya sendiri suatu merk khusus yang diberi nama De Pyra. Merk yang mewakili senapan dengan kualitas pengerjaan prima dan bahan-bahan terbaik yang dapat ditawarkannya.
Inspirasi desain dari merk De Pyra sendiri lahir dari senapan-senapan legendaris pada masa lalu yang bertahan dan menjadi buah bibir hingga saat ini. Dengan ilmu senapan yang diwariskan turun temurun dan kemampuan belajarnya, senapan-senapan legendaris itu diterjemahkan menjadi jajaran produk senapan dengan kandungan lokal tinggi namun tetap terjaga kualitasnya. Dan tentunya ditawarkan dengan harga yang sangat terjangkau. Nama-nama besar seperti BSA Meteor yang sempat booming di Indonesia pada tahun 90-an dapat ditranslasikan menjadi De Pyra Mercury dengan beberapa ubahan yang mencirikan karya perusahaan ini. Sebut juga Benjamin Multi Pump yang terkenal jaman dahulu dengan nama Benjamin Franklin dan populer di daerah Bandung dengan produk tiruan bernama Benyamin Cap Kuda, dapat dimetamorfosis menjadi Enggang Rekor dengan kelebihannya tersendiri. Semuanya disajikan dengan kualitas yang istimewa di atas rata-rata produksi lokal Cipacing dan sekitarnya.



Sosok R. Ade Supriatna Pipik
Kisah Pak Ade sendiri dimulai dari tahun 1977-an. Dengan modal pemberian orang tua berupa 20 liter beras, uang 10,000 ribu rupiah dan 2 bahan senapan, Ade muda meninggalkan rumah dan menempati rumah neneknya. Orang tua Pak Ade sendiri bukanlah orang yang berkekurangan. Namun sikap bandel Ade muda waktu itulah yang memaksa orang tuanya untuk "mencobai" anaknya yang satu ini. Merasa kewajiban mereka sebagai orang tua sudah cukup dengan membekali si anak dengan pendidikan formal setingkat SMU, ilmu senapan dan magang seumur hidup di bengkel senapan miliknya, akhirnya Ade muda diijinkan meninggalkan rumah atas kemauannya sendiri setelah sebelumnya menikah pada tahun 1976. Ternyata dengan modal terbatas yang diberikan, terbukti dapat mendewasakan si anak. Dalam waktu 1 minggu, jadilah dua pucuk senapan dari tangan Ade muda sendiri. Dan dari kedua pucuk senapan itulah beranak menjadi banyak pucuk senapan seperti pada saat ini.
Kemajuan Ade muda waktu itu tidak lantas membuatnya mendapatkan kartu pass dari orang tuanya. Pinjaman modal yang diajukan oleh Ade muda waktu itu untuk meningkatkan produksinya ditolak oleh sang ayah. Sang ayah bahkan melibatkan anaknya untuk memiliki tanggung jawab lebih besar lagi. Sang Ayah menyarankan agar anaknya meminjam uang di bank, yang mana saran itu akhirnya diikutinya dan berbuah manis. Pak Ade hingga sekarang tetap dipercaya oleh pihak bank dan menjadi nasabah yang setia di salah satu bank milik pemerintah.
Pada awal masa perjuangannya, pemikiran Ade muda terbilang out of the box. Pengrajin yang pada masa itu cukup nyaman menggantung nasib pada permintaan para bandar membuat Ade muda miris. Beliau merasakan ketidakadilan akibat lebarnya perbedaan nasib antara si pengrajin dan bandar/pengepul. Ade muda yang saat itu harus memikul sendiri 5 senapan di pundaknya, harus rela menerima bayaran yang dicicil untuk senapan yang dibawanya itu. Si pengepul hanya bersedia membayar 2 senapan dari 5 senapan yang dibawanya. Minggu depannya saat membawa 5 senapan lagi, bayaran hanya turun untuk 3 senapan yang minggu sebelumnya dibawa. Bukan karena si pengepul miskin, karena beliau tahu betul betapa si pengepul bisa membangun rumah dan memiliki mobil. Ketidakadilan inilah yang membuatnya terpacu untuk keluar dari lingkaran kenyamanannya dan berusaha untuk merubah nasib dengan menjadi pengrajin sekaligus pedagang. Minimal untuk barang yang dibuatnya sendiri.
Salah satu titik balik yang berkesan dalam metamorfosisnya menjadi pengrajin pengusaha terjadi saat kunjungan para guru dan kepala sekolah STM se-Indonesia di Bandung. Saat itu Ade muda yang sedang memikul senapan untuk dimasukkan ke salah satu toko di Dalem Kaum kota Bandung terlihat oleh seseorang dari rombongan guru ini. Setelah janji dibuat oleh salah satu guru itu untuk berkunjung ke tempat Pak Ade, datanglah berduyun-duyun rombongan guru dari seluruh Indonesia.ke tempatnya. Dari sinilah koneksi dengan orang luar pulau mulai terbuka. Dari penjualan awal ini, Ade muda dapat meraup 400 ribu yang waktu itu bisa digunakan untuk membeli motor Honda Bentley yang saat itu dikenal sebagai motor dinas BRI.
Pak Ade namun tidak lekas puas. Dengan pemikirannya yang tidak biasa, beliau memberanikan diri untuk mengikuti berbagai pameran. Waktu tahun 1985-1986, Pak Ade minta ijin dan modal dari orang tuanya sendiri untuk berangkat mengikuti Pameran Produksi Indonesia (PPI) di Jakarta. Hal ini terpaksa dilakukannya karena saat itu niatan beliau untuk menjadi duta produk kerajinan dari daerahnya, tidak mendapatkan sambutan dari pemerintah daerah saat itu. Alhasil dengan modal nekat dan restu orang tuanya, beliau berhasil membukukan penjualan yang spektakuler dan berhasil membeli sebuah mini truck bekas (pick up) untuk keperluan operasionalnya dari hasil penjualannya di pameran waktu itu. Mulai saat itu, Pak Ade yang terbiasa membonceng 15 pucuk senapan di motornya sudah tidak perlu kerepotan lagi.
Masuknya Pak Ade pertama kali menggarap senapan PCP terjadi pada tahun 1996. Kisahnya juga terbilang unik. Walaupun bertepatan dengan rangkaian tragedi kerusuhan sekitar penggulingan Orde Baru, ternyata (maaf) peristiwa ini mendatangkan keuntungan tersendiri baginya. Senapan PCP yang saat itu terbilang baru digarap di tanah air, dapat langsung cepat diserap oleh pasar. Walaupun tidak pernah menawarkan senapan api, namun "keberuntungan" berpihak padanya karena banyak dari kelompok minoritas yang terancam waktu itu berebutan untuk memiliki senapan PCP buatannya. Bahkan pada saat PPI tahun 1997, di mana ruang pamer kosong setengahnya karena peristiwa kerusuhan di Jakarta, Pak Ade berhasil pulang dengan membukukan penjualan 300 pucuk senapan. Dan setelahnya, pesanan senapan bagaikan lelang di mana calon pembeli berlomba-lomba menawarkan harga untuk mendapatkan jatah pengiriman paling cepat.
Saat ini dikatakannya animo masyarakat pada senapan angin sudah tidak seramai dulu. Dengan banyaknya peraturan baru yang membatasi penggunaan senapan angin dan perbedaan implementasinya di daerah yang bisa sangat berbeda-beda, dirasakan sangat menekan bagi kelangsungan permintaan pada sebagian besar pengrajin senapan di Cipacing dan sekitarnya. Bahkan pernah suatu kali Pak Ade harus berkunjung sendiri ke Sumatera untuk bertemu dengan aparat kepolisian setempat karena pesanan senapan dari daerah itu hilang sama sekali. Suatu daerah yang tidak pernah dia tahu dan pijak karena begitu tertutupnya para bandar masa itu. Namun berkat ketulusan motivasi dan mungkin pesonanya, maka pejabat polisi itu sendiri mau membuka ijin kepemilikian senapan angin yang secara sepihak dulu pernah tertutup akibat salah implementasi. Bahkan hingga saat ini, hubungan antar si pengrajin dan sang aparat kepolisian ini masih terjalin baik.

Pak Ade dengan koleksi senapan kebanggaannya. Telah banyak orang-orang besar di dunia senapan angin mampir ke rumahnya.

Menghadapi kemajuan jaman dan serbuan industri senapan dari daerah Jawa Timur tidak lantas membuatnya patah semangat. Walaupun Pak Ade sudah mulai menua, namun dia percaya kualitas produksi senapannya yang akan berbicara baginya dan beliau yakin masih mampu bersaing dengan produksi pabrikan yang lebih murah dan presisi. Dalam usianya yang sudah menginjak 61 tahun, tongkat estafet sudah mulai diserahkan pada anak laki-lakinya yang bernama Sugeng. Di tangan anaknya, beliau berharap usaha ini tetap lestari dan membawa manfaat bagi keturunannya dan bagi para pengrajin beserta keluarganya yang menyandarkan nafkah di bawah bendera perusahannya. Tidak jarang Pak Ade harus menumpuk stok karena tidak rela menurunkan produksi karena itu berarti mengurangi pemasukan pekerjanya yang sebagian besar dibayar secara borongan.
Usaha-usaha penjualan langsung tetap ditekankannya dan menjadi fokusnya saat ini. Untuk menghadapi kemajuan teknologi informasi saat ini, putranya ditunjuk untuk memasarkan produk usahanya secara langsung di dunia maya. Pak Ade merasa anaknya lebih cocok untuk menghadapi media baru yang bernama internet.
Sekitar 6 tahun yang lalu di suatu pameran, lahirlah De Pyra yang merupakan akronim dari Ade Pipik Putra. Tampilan wajah baru yang mewakili kualitas terbaik dari jajaran produk yang dimiliki oleh perusahaan Pak Ade. Dan berkat bantuan seorang kenalan yang ditemuinya dari suatu pameran, lahirlah website yang sangat menarik untuk disimak. Dari sanalah diharapkan semakin banyak pehobi senapan angin muda dan melek teknologi bisa mengenal keberadaan karya perusahaan ini. Untuk website-nya sendiri dapat disimak di sini.

Penutup
Demikianlah dongeng dan harapan dari seorang pengusaha dan pengrajin asal Cikeruh. Dengan keuletan dan keinginan untuk terus berkembang, Pak Ade berusaha memberikan kehidupan yang halal bagi keluarga dan pekerjanya sekaligus menyuguhkan warna dalam dunia senapan angin di tanah air. Banyak hal menarik dapat dipelajari dari cerita kehidupan seorang Ade Supriatna. Dan jika anda ingin meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita-cerita yang begitu lancar dan tulus keluar dari mulutnya, beliau membuka lebar pintu rumahnya bagi anda seperti pada saya saat ini.
Jika anda ingin berkunjung ke rumah sekaligus show room dan bengkelnya, anda dapat menuju arah Cikeruh. Yaitu suatu desa di kecamatan Jatinangor, kabupaten Sumedang. Perbatasan timur kota Bandung. Anda bisa mencari Jalan Sayang (Kini bernama Jalan Kolonel Achmad Syam). Dari sana anda bisa bertolak masuk ke arah timur sejauh kurang lebih 2 km. Banyak pula barang-barang menarik yang terpajang dan ditawarkan di dalam showrom-nya itu, seperti koleksi rifle scope dan mimis impor.
Semoga berguna. Terbuka untuk pertanyaan dan masukan.
Posting Komentar