Selasa, 03 Desember 2013

Having Fun @ Cirebon Part 3: Benchrest Shooting

Pada kunjungan kali ini terasa agak istimewa karena saya membawa senapan baru saya yang telah dipasang scope dan sahabat saya juga telah menyelesaikan penggantian larasnya. Namun ternyata banyak permasalahan melanda pekerjaan sampingan kami masing-masing sehingga tidak banyak aktifitas hobi kami ini yang bisa dieksploitasi. Terutama sahabat saya, di tengah permasalahan usaha sampingannya maka beberapa proyek senapan angin belum berhasil diwujudkan. Bahkan laras barunya tidak pula tersentuh untuk proses break in. Turut prihatin ya, Bro.
Namun esensi hobi dan silaturahmi adalah untuk memberi hiburan dan kesenangan dalam rutinitas. Maka dalam kunjungan kami kali ini menembak tetap dapat memberikan keasyikan tersendiri. Mencoba senapan baru dan scope baru bagi sahabat saya dan mencoba laras baru bagi saya. Dan untuk mengisi kegiatan kami kali ini selain mencoba menembak menggunakan senapan yang asing bagi kami, kami isi juga dengan menembak target. Dan seperti  biasa, benchrest shooting adalah kegiatan favorit kami. Sedikit teknik dan stamina tapi banyak waktu untuk mengobrol.

Bench rest
Suasana kompetisi menembak benchrest pada Pangdam Jaya Cup 2013. Wah, PCP semua. Diambil dari: http://gadeblazz.com/2013/02/14/hw77-is-no-match-for-this/



Entah kenapa akhir-akhir ini saya banyak mendapat inspirasi tentang benchrest shooting. Dan salah satu channel langganan saya di Youtube bahkan ikut meliput kegiatan kompetisi benchrest shooting di US (lihat tayangan ini). Cabang menembak yang saya pikir awalnya dipandang sebelah mata karena kurangnya gengsi dan tidak adanya organisasi resmi yang menaungi dan menyelenggarakan kompetisi, saat ini ternyata mulai menunjukkan kebanggaannya dan bahkan di beberapa negara telah memiliki organisasi penaungnya sendiri. Rupanya kegiatan benchrest shooting sudah dilirik menjadi sesuatu yang menguntungkan juga. Dalam liputan itu terlihat banyaknya sponsor yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan Extreme Benchrest Competition itu. Bahkan blogger tulisan dan video internasional yang saya amati, ikut diundang dan berpartisipasi dalam kegiatan akbar yang terorganisir dengan baik itu. Saya pikir simbiosis ini sangat menarik. Tidak seperti cabang menembak lain yang menuntut raga yang prima dan peralatan yang sangat spesifik juga mahal (misalnya cabang olimpiade 10 m air rifle), kegiatan benchrest shooting relatif lebih luas diikuti spektrum umur (dari remaja hingga manula) dan dapat menggunakan senapan (angin) apapun. Hal ini berarti lebih banyak perusahaan produsen senapan angin atau aksesorisnya maupun para stakeholder yang dapat dilibatkan (baca diuntungkan). Dan di tengah menjamurnya internet dan perilaku konsumen yang memilih sendiri tayangan yang ditontonnya seperti saat ini, maka strategi pemasaran dan iklan untuk pasar spesifik seperti para pehobi senapan angin akan sangat tepat disasar dengan event yang potensi pasarnya luas seperti benchrest shooting dan yang diliput oleh wartawan/reporter jenis baru bernama blogger.

Apa itu Benchrest Shooting
Seperti namanya, benchrest shooting berarti menembak menggunakan bench (kursi/bangku) dan rest (sandaran). Tidak seperti kebanyakan cabang olah raga menembak yang resmi dilombakan di tingkat dunia maupun nasional, di mana posisi menembak sangatlah terbatas dan sangat penting untuk dilatih dan juga tidak memperbolehkan menggunakan sandaran bagi senapan, maka cabang menembak ini si penembak hanya perlu duduk dan diperbolehkan menggunakan sandaran senapan. Dan bila penggunaan scope di kebanyakan cabang menembak diharamkan (kecuali field target dan kelas perlombaan khusus di metallic silhouette), maka benchrest shooting sangat memerlukan alat ini walaupun terdapat pembatasan kekuatan perbesaran lensa. Intinya adalah bagaimana caranya mendapatkan tembakan tepat di tengah target sebanyak mungkin. Anda pikir itu mudah? Cobalah menembak 25 target seukuran 2 mm dalam jarak 25 meter. Dan semua target itu dicetak pada kertas target yang sama di mana kita tidak menembak hanya di satu titik. Akan saya tunjukkan maksud saya di akhir artikel ini.

BR250 Target
Gambar yang bagus sekali dari http://gadeblazz.com/2013/02/14/hw77-is-no-match-for-this/ untuk menggambarkan kertas target yang digunakan dan perbandingannya dengan reticle. Itu baru 25 meternya.

Benchrest shooting sendiri menurut penelusuran saya berakar dari kelas menembak berburu. Referensi yang saya baca menyebutkan US sebagai awal dari kelahiran cabang menembak ini. Mungkin di US banyak pemilik lahan perkebunan yang biasa menembak sejenis mamalia kecil (varmint, sejenis musang) yang dianggap sebagai hama. Para penembak ini biasa menunggu buruannya dengan duduk dan mengawasi lahan perkebunannya dari kejauhan sambil menyiapkan senapannya dalam posisi menembak di atas meja. Dan tidak seperti sepupunya di Eropa (khususnya Inggris) di mana field target menjadi cabang yang populer, benchrest shooting benar-benar hanya duduk bukannya mencari target dengan berpindah-pindah jalur menembak (firing lane) dengan berbagai posisi menembak. Pokoknya gaya Amerika modern sekali lah. Lamban dan gemuk (maaf).
Menariknya dalam cabang ini, pembagian kelas yang dipertandingkannya bisa dikatakan sangat longgar. Bahkan bisa dikatakan hampir tidak ada pada kelas unlimited. Pembatasan secara prinsip yang didapatkan pada beberapa kelas hanya pada besarnya energi yang dihasilkan senapan (maksimal 35 fpe) di mana jauh di atas rata-rata energi senapan kaliber .177"/4.5mm (menggunakan H&N Sport Baracuda Match 10.65 perlu di atas 1200 fps) dan pembatasan berat senapan beserta kelengkapan (20 pounds). Semua jenis powerplant dari springer hingga pneumatik dapat ikut serta (walaupun yang akan mendapat keunggulan pastinya jenis PCP). Untuk aturan yang berlaku di US dan digunakan pada event kelas dunia dapat disimak dari situs ini. Hal ini membuka kesempatan bagi penembak rumahan seperti saya untuk berlatih dan menciptakan catatan pencapaian sendiri (sambil berharap kalau-kalau bisa bergabung di club atau kompetisi serupa di negeri sendiri).
Untuk target sendiri biasanya diletakkan pada jarak 25 meter (25 yards untuk indoor) dan 50 meter. Namun ada juga event khusus yang meletakkan target pada jarak 75 meter. Untuk kertas target yang digunakan pada jarak 25 meter dapat dilihat dan disalin tanpa melakukan ubahan pada ukuran cetak di tautan ini. Dari 25 sasaran ini hasil terbaik akan meraih nilai 250 (25 sasaran semuanya mencetak nilai 10) dan nilai minimal yang jatuh di luar lingkaran hitam (diameter luar 2 cm) adalah 5. Di ujung kolom terdapat sighter yang dapat ditembak maksimal 5 kali. Kurang lebih untuk menilai atau memperkirakan jatuhnya mimis pada pergeseran titik bidik yang sebidang. Percayalah, kita membutuhkan sighter ini.




Contoh kertas target yang digunakan di Inggris. Untuk mencetak nilai 10 seluruh lingkaran di tangah yang berdiameter 2 mm harus tertutupi. Diambil dari: http://www.ukbr22.org.uk/index.php/home/ukbr22-targets

Kembali ke Cerita Saya
Seperti saya ceritakan dalam kunjungan saya kali ini kami mencoba hal baru (konsep kompetisinya saja yang baru). Intinya adalah benchrest shooting dan kompetisinya berhadiah makan malam dibayar oleh yang kalah. Pada intinya saya ingin membuat kompetisi yang cukup adil sambil berusaha menghibur sahabat saya. Kami menembak dengan senapan yang asing bagi kami masing-masing. Saya dengan senapan HW 77 yang belum saya kuasai teknik menembaknya dan sahabat saya dengan Sharp Tiger Long Barrel yang sudah ganti laras ST II tapi belum juga break in. Cukup adil karena kami sama-sama belum mengenal karakter (baru) senapan kami. Jarak diukur 25 yards outdoor dan karena kami belum mengenal deatil benchrest shooting sampai artikel ini saya susun, kami gunakan sasaran seadanya. Namun intinya adalah sama, mengenai sasaran sebanyak mungkin pada jarak yang tetap namun bidang yang berbeda dengan sekali tembakan.
Walaupun tampaknya mudah, namun ternyata cukup sulit juga. Bahkan bisa dikatakan sangat sulit. Berbagai sasaran yang coba kami tembak seringnya meleset.
Aturan main asal-asalan saja sih. ada 3 jenis sasaran dengan berbagai ukuran. Terkecil antara 8-10 mm bernilai 20, yang sedang sekitar 20 mm bernilai 10, dan terbesar sekitar 40 mm bernilai 5. Kami menggunakan mimis yang sama yaitu RWS Superdome 8.3 gr. Waktu tidak dibatasi hanya kadar gula darah kami yang semakin menurunlah yang menjadi pace maker menembak kami. Saya mendapat kesempatan pertama sebagai tamu dan hasilnya seperti yang terlihat di bawah. Amburadul. Dan nasib naas menimpa sahabat saya yang bahkan jauh lebih buruk lagi. Jadi, sulit bukan?

Hasil benchrest shooting saya menggunakan senapan per HW 77. Tidak menjanjikan.

Hasil benchrest shooting sahabat saya menggunakan senapan Sharp Tiger Long Barrel Laras ST II. Sudah pikiran kacau, harus bayar makan malam pula.

Pesan Cerita
Di tanah air sendiri kegiatan bersenapan angin identik dengan kegiatan berburu. Walaupun tidak dipungkiri banyak penembak baru yang kurang beruntung seperti saya yang tinggal di perkotaan dengan persediaan hewan buruan yang sangat terbatas. Namun semua itu tidak menghalangi saya untuk menikmati senapan angin sebagai sarana penghibur dan pelarian dari rutinitas walaupun hanya menembak dari pekarangan perkotaan yang terbatas luasnya. Dan walaupun menembak dari bangku saya pikir awalnya sangat tidak bertantangan dan tidak memiliki wadah untuk berkembang, tapi mungkin suatu saat saya bisa menemukan komunitasnya di luar sana. Mungkin yang perlu saya mulai adalah keluar dan mencoba bertemu dengan orang lain yang sehobi. Atau saya berpikir bagaimana jika saya memulai club benchrest shooting saya sendiri? Mungkin sesama penembak senapan angin dari Bandung mau bergabung? Menarik...
Posting Komentar