Sabtu, 03 Mei 2014

Referat Marksmanship Bagian 4: Kontrol Picu (Trigger Control)

Bagian 1 Cara Memegang Senapan
Bagian 2 Cara Membidik dan Parallax
Bagian 3 Cara Bernafas

Menarik picu adalah salah satu dasar dari kemampuan markmanship yang patut dikuasai untuk mengeksekusi tembakan yang bermutu. Begitu pentingnya kemampuan ini sehingga sub bagian ini saja memerlukan penekanan sendiri dan mendapatkan namanya sendiri yaitu teknik kontrol picu (trigger control). Dalam melakukan penekanan picu ada dua elemen vital yang terlibat yaitu (1) Penekanan picu tidak boleh mengganggu posisi senapan yang telah diatur melalui langkah sebelumnya (lihat Bagian 1 dan Bagian 2) dan (2) Penekanan picu harus dilakukan dalam periode yang sangat singkat yaitu di antara jeda pernafasan (respiratory pause, lihat Bagian 3).

Kontrol picu adalah salah satu dasar markmanship. Gambar diambil dari: http://www.outdoorlife.com/blogs/gun-shots/2013/04/dry-fire-key-better-rifle-accuracy-and-trigger-control

Tentang Tangan 
Pernahkah anda berpikir bahwa untuk melakukan tindakan rutin sehari-hari menggunakan tangan kita merupakan suatu prestasi? Merupakan prestasi tersendiri karena melibatkan begitu banyak otot-otot tangan dan kelompok otot dengan persarafannya yang kompleks. Hal yang tidak disadari ini membutuhkan koordinasi yang prima untuk dilakukan secara presisi dan merupakan satu ciri yang membedakan seorang manusia dengan spesies lain termasuk kerabat terdekatnya yaitu primata. Seorang manusia baru bisa melakukan koodinasi yang akurat dari kedua tangan untuk pekerjaan menulis saja pada umur 6 tahun. Jauh melebihi waktu yang dibutuhkan untuk mencapai fitur andalan manusia lainnya yaitu berjalan tegak dengan kedua kaki yang biasanya dapat dicapai setelah berumur 1 tahun.  
Potensi yang dapat dilakukan oleh tangan manusia begitu besar sehingga memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Potensi ini dapat dilihat dari begitu banyaknya otot yang terlibat dalam pergerakan halus tangan. Dalam pergerakan tangan dikenal dua golongan otot yaitu golongan otot intrinsik (berada di dalam tangan) dan golongan otot ekstrinsik (berada di luar tangan, terletak di bagian lengan depan). 
Menarik picu dengan terkendali bukanlah hal yang alamiah dilakukan semua orang. Untuk memegang senapan dan menarik picu juga dibutuhkan koordinasi dari dua golongan otot yang disebutkan di atas. Walaupun kemampuan ini tidaklah secara naluriah didapati namun kemampuan ini bisa dipelajari dan dilatih.


Flexor Digitorum Profundus


Flexor Digitorum Superficialis





















Kelompok otot penggerak tangan khususnya pemegang popor dan penekan picu senapan. Gambar atas kelompok otot intrinsik dan di bawah kelompok otot ekstrinsik. Perhatikan berbagai banyak dan kompleksnya konfigurasi berbagai otot ini.


Pada intinya karena sulitnya koordinasi yang harus dilakukan, setiap usaha tangan untuk menekan picu dapat menimbulkan potensi gerakan yang tidak diinginkan. Secara teknis penempatan genggaman popor (pistol grip) pada telapak tangan harus menyediakan ruang yang cukup antara pistol grip dan jari telunjuk. Berikutnya pergerakan jari telunjuk saat menekan picu tidak boleh menyebabkan penekanan ke samping saat picu bergerak mundur. Penekanan samping ini dapat menyebabkan pergerakan senapan sehingga akan mempengaruhi kualitas akhir tembakan. Secara spesifik untuk melakukan penekanan picu dengan tepat, bilah picu harus ditempatkan pada bantalan ruas jari terujung dan bukan dikaitkan ke sendi buku jari ataupun ruas jari tengah.

Penempatan bilah picu yang benar. Diambil dari: http://www.issf-sports.org/academy/trainingacademy/e_learning/rifle.ashx


Ruang yang cukup antara telunjuk dengan pistol grip. Panjang langkah picu penting pada senapan kelas pertandingan. Diambil dari: http://www.issf-sports.org/academy/trainingacademy/e_learning/rifle.ashx

Bilah picu ditekan lurus ke belakang sehingga pergerakan mundur picu pararel dengan sumbu panjang laras. Ketidakmampuan melakukan hal ini misalkan akibat menekan picu secara menyamping dapat meningkatkan kekerasan picu dan menimbulkan tekanan picu yang tidak merata. Selanjutnya tekanan yang tidak rata ini menimbulkan sentakan (jerking) akibat sudut dan tambahan friksi pada mekanisme picu. Belum lagi perpindahan titik bidik akibat gerakan otot-otot yang tidak dibutuhkan karena tambahan kekerasan picu tadi.

Posisi dan gerakan menekan bilah picu diatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan gerak picu lurus ke belakang dan sejajar sumbu panjang laras. Diambil dari: http://www.issf-sports.org/academy/trainingacademy/e_learning/rifle.ashx
Berbagai variasi ringan dari sudut pergelangan dan dampaknya terhadap arah gerak belah picu. Sedikit saja perubahan sumbu tangan terhadap lengan mempengaruhi arah penekanan bilah picu. Pada gambar tengah dan kanan tampak picu tertekan ke arah samping. Hal ini berarti tahanan tambahan dan pergerakan yang tidak diinginkan pada senapan. Diambil dari: http://www.issf-sports.org/academy/trainingacademy/e_learning/rifle.ashx

Tentang Picu
Pada umumnya senapan angin dan senjata api memiliki dua jenis picu. Berdasarkan tenaga yang dibutuhkan untuk mengaktifkan picu dikenal picu satu tingkat (single stage trigger) dan picu dua tingkat (two stage trigger). Sesuai namanya, single stage trigger memiliki satu ambang kekuatan untuk mengaktifkan picu. Kekuatan yang secara gradual diaplikasikan pada picu akan "pecah" pada satu ambang tahanan. Sedangkan pada two stage trigger yang biasanya terdapat pada kelas senapan premium akan menunjukkan dua tingkat tahanan untuk memecahkan picu. Pada tingkat pertama tahanannya akan terasa sangat ringan dan berikutnya diikuti tahanan yang lebih keras untuk memecahkan ambang tahanan picu yang sesungguhnya. Mekanisme ini membantu memperbaiki akurasi dengan jalan mengurangi tenaga relatif yang dibutuhkan untuk memecahkan ambang kekuatan picu dan membantu mempersiapkan penembak untuk mencapai timing menembak yang lebih tepat. Dengan momen persiapan ini kita dapat memprediksi kapan sekiranya tembakan akan terlepas dan hal ini juga dapat mengurangi ketegangan otot yang tidak disadari saat berusaha mengantisipasi tembakan.
Dari cara menarik bilah picu teknik menekan picu dapat dibagi menjadi:
Merata (Even)
Dikatakan praktik menarik bilah picu ini sering digunakan pada penembak muda ataupun penembak yang belum terlatih di mana periode jeda tenangnya pendek. Pada cara ini penembak akan menarik picu dengan tingkat pertambahan kekuatan yang konstan tanpa memedulikan gerakan senapan hingga ambang tahanan picu terlampaui sebelum gerakan senapan menjadi terlalu liar.

Gradual  
Cara ini lebih umum dilakukan dan biasanya dikerjakan pada penembak yang lebih berpengalaman di mana tingkat ketenangan telah lebih tinggi dan jeda kestabilan posisinya lebih lama. Penembak akan menarik bilah picu dengan kekuatan yang bertahap meningkat. Bila dirasakan gerakan senapan mulai meningkat, penembak akan menahan tarikan picunya dan menunggu gerakan ini mereda dahulu baru kemudian melanjutkan meningkatkan kekuatan tarikan picu hingga ambang picu terpecahkan.

Pulsating
Pada cara ini telunjuk penekan picu tidak pernah diam. Secara konstan dan merata telunjuk ini bergerak secara periodik menyentuh dan melepaskan/meregangkan tarikan pada bilah picu. Dengan teknik ini penembak mendapatkan keseimbangan dari proses persarafan yang melibatkan perangsangan dan penenangan sehingga menghasilkan tingkatan yang lebih tinggi pada reaksi dan koordinasi gerakan. Cara ini dikatakan hanya dilakukan pada penembak papan atas karena berpotensi melakukan sentakan pada bilah picu.

Hubungan antara tahanan picu terhadap waktu pada berbagai teknik menekan picu. Diambil dari: http://www.issf-sports.org/academy/trainingacademy/e_learning/rifle.ashx



Berbagai Kesalahan Umum saat Menekan Picu

Berbagai kesalahan yang lazim terjadi berkaitan dengan kontrol picu berkaitan dengan gerakan tubuh yang tidak disadari (involuntary body movement). Hal ini dapat terjadi saat picu ditarik (menyentak/jerking) ataupun merupakan reaksi tidak disadari setelah picu ditarik (flinching). Flinching diasosiasikan dengan reaksi tidak disadari tubuh terhadap recoil senapan seperti menguatkan pegangan senapan. Hal ini juga bisa terjadi pada penembak senapan yang tidak mengalami recoil. Baik jerking maupun flinching keduanya dapat terjadi baik secara sendiri-sendiri maupun bersamaan.

Untuk mendiagnosis kesalahan yang terjadi pada saat menekan picu, skema di bawah ini dapat membantu kita.


Berbagai kesalahan umum akibat pegangan senapan dan kontrol picu yang buruk. Diambil dari: http://www.n-ssa.org/NORTHWEST/Flinching%20and%20Jerking.htm

Pada senapan angin yang telah di-zero dengan baik beberapa kegagalan mimis mengenai titik tengah sasaran (bull's eye atau 10) akibat teknik kontrol picu dapat dijelaskan sepert di bawah ini:
1. Jatuh pada posisi pukul 3 adalah tipe umum akibat menyentak bilah picu (jerking) maupun flinching;
2. Jatuh pada posisi pukul 4-5 adalah jerking dan/atau flinching yang diikuti dengan pergerakan bahu;
3. Jatuh pada posisi pukul 6 terjadi karena tangan penyokong mengendur setelah tembakan dilepaskan;
4. Jatuh pada posisi pukul 9 terjadi karena tangan menegang akibat mengantisipasi recoil tembakan (pada senapan dengan tipe recoil seperti senapan angin per);
5. Jatuh di posisi tinggi terjadi karena gerakan ke depan sebagai antisipasi terhadap recoil setelah picu dipecahkan.

Meningkatkan Kemampuan Kontrol Picu
Seperti yang disinggung sebelumnya, kemampuan menarik picu secara terkendali adalah salah satu kemampuan dasar dalam markmanship. Kemampuan ini tidak alami didapatkan dan melibatkan berbagai macam komponen tubuh yang membutuhkan koordinasi. Maka latihan dengan semua komponen terkait dalam markmanship adalah mutlak untuk mencapai kualitas tembakan yang baik.
Untuk melatih semua rangkaian siklus menembak ini dikenal adanya istilah dry firing. Dry firing atau tembakan hampa memiliki banyak manfaat untuk meningkatkan kemampuan kita dengan pengulangan-pengulangan ritual menembak yang benar. Dalam dry firing kita akan melihat di mana kelemahan-kelemahan kita seperti bagaimana ujung laras bergerak saat kita melakukan penekanan picu. Cara ini murah dan bisa dilakukan di lahan yang terbatas. Lakukan sesering mungkin sebelum memasuki latihan dengan mimis yang berkualitas hingga kita mendapatkan refleks dan ingatan otot yang terlatih. Hanya kebosanan dan rasa cepat puas yang menjadi lawan bertanding paling tangguh kita saat dry firing dilakukan.

Bahkan peralatan sederhanan seperti bolpoin retractable dapat berguna untuk melatih memori otot terhadap penekanan picu yang benar. Diambil dari: http://blog.predatorbdu.com/2013/12/sage-dynamics-firearms-training.html

Demikian rangkuman saya mengenai topik kontol picu yang saya dapatkan dari berbagai sumber cuma-cuma di internet. Semoga berguna. Terbuka untuk masukan dan pertanyaan.
Poskan Komentar