Rabu, 15 April 2015

Having Fun @ Home: Menebar Virus Senapan Angin

Lama juga tidak menulis pengalaman yang murni sebagai sebuah cerita. Bukannya perkara teknik dan pembelajaran. Pada hari ini ada sebuah kisah yang berkesan buat saya, sehingga rasanya patut juga dicatat dalam blog saya ini.

Transfer minat dan ilmu dari seorang penembak senapan angin pada seorang awam.

Pada siang hari ini rencananya seorang kawan hendak bertamu ke rumah. Kawan ini berasal dari sisi lain di Kota Bandung dan ingin bersua lagi dengan kawan saya dari Kabupaten Bandung Barat. Pertemuan awal tampaknya cukup berkesan namun berlangsung singkat tanpa bumbu menembak bersama, sehingga pertemuan selanjutnya sangat dinantikan. Sebagai fasilitator, pintu rumah saya buka lebar-lebar bagi sejawat sehobi. Dengan agenda utama "happy trigger" dan agenda penyerta bakar daging (namun bukan hasil buruan), kami menantikan kehadiran sang kawan. Namun ternyata sang kawan tidak bisa hadir karena khawatir dengan situasi keamanan kota Bandung yang akhir-akhir ini ramai razia Kepolisian dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi peringatan Konfrensi Asia-Afrika ke-60. Terlanjur menyediakan makan siang yang berlimpah, akhirnya daftar undangan saya tambahkan dengan kawan-kawan dari komunitas lain yang tidak pernah bersentuhan dengan senapan angin sebelumnya. Hitung-hitung mempererat tali silaturahim dari berbagai kawan dalam satu kesempatan.


Bagaimana Mempertemukan Sekumpulan Pria
Kelompok undangan kedua saya adalah para orang tua murid, teman-teman anak saya. Biasa berkumpul menanti pulang sekolah untuk menjemput anak kami, membawa keakraban jenis lainnya bagi kami. Tidak ada perkara senapan angin yang masuk dalam percakapan kami pada awalnya. Dengan perbedaan latar belakang ini, agak berisiko bagi saya untuk menyatukan dua kelompok manusia ini dalam rumah saya. Bagaimana menciptakan topik pembicaraan yang menyatukan dua jenis manusia ini adalah suatu hal yang menantang. Bagaimanapun berbicara mengenai pekerjaan bisa jadi sangat membosankan pada suatu titik.
Suatu prinsip umum bagi laki-laki adalah: mereka tidak pernah dewasa. Sebagaimanapun penampilan seorang pria, selalu saja ada mainan yang mereka butuhkan. Dalam hal ini percakapan mengenai mainan selalu manjadi ice breaker yang ampuh. Berkat maraknya fenomena batu akik dan batu mulia akhir-akhir ini, fase satu dari pertemuan yaitu ice breaking bisa dilewati dengan mulus. Melewati makan siang dengan lancar, berkat beberapa orang berkarakter sanguin sebagai pengumpan pembicaraan akhirnya koneksi mulai terbentuk.

Membuat Ikatan
Setelah perut kenyang dan pembicaraan mulai melambat, tidak butuh waktu lama untuk kelompok pertama unjuk kebolehan. Apa yang menyatukan saya dengan kelompok Kabupaten Bandung Barat telah menarik perhatian kelompok orang tua murid. Saatnya mengeluarkan koleksi mainan saya.
Kegiatan plinking rasanya sudah menjadi agenda rutin setiap kali keluarga bertamu ke rumah saya. Selain menyenangkan, entah kenapa sepertinya kegiatan mengokang senapan angin dan membidiknya selepas makan bersama dirasakan cukup sebagai penebus dosa atas banyaknya kalori yang telah masuk ke badan. Itulah yang membuat saya bertahan tidak memiliki senapan jenis PCP (pre charged pneumatic) hingga saat ini.
Sesibuk apapun anak-anak bermain dan minta diperhatikan oleh orang tuanya, rasanya para ayah akan tega meninggalkan anaknya untuk diurus oleh ibunya. Begitupun siang ini. Anak-anak usia taman kanak-kanak, yang antusias bermain bersama, sepertinya bersaing dengan para ayah yang sibuk memegang senapan angin. Tidak butuh waktu lama untuk para ayah meninggalkan anaknya dan mengikuti saya ke halaman tempat saya biasa menembak. Waktunya membuat ikatan dari kedua kelompok manusia ini.

Koleksi senapan angin yang paling gemar saya gunakan. Dari kiri ke kanan Sharp Ace, Weihrauch HW77, Walther LGV Master, dan Feinwerkbau FWB 124.

Saya keluarkan koleksi senapan angin saya yang paling menyenangkan untuk digunakan. Dengan banyaknya pilihan, suasana menjadi riuh ramai. Tampaknya cukup bersaing dengan keramaian kios pengasah batu di belakang rumah saya. Saya bebaskan kedua jenis manusia ini untuk mengeksplorasi senapan milik saya dan mencobanya. Saya sediakan siluet logam pada jarak 20 meter untuk ditembaki dengan senapan pilihannya sendiri. Di sini suasana jadi begitu hidup. Dan tanpa komando, kelompok pemburu dari kabupaten Bandung Barat sudah menjadi asisten dosen ilmu senapan angin bagi kelompok awam senapan angin ini.
Beberapa jam dan ratusan mimis meluncur dari senapan angin ini, selama itupun kedua jenis manusia ini saling tertawa dan bercakap seakan sudah kenal lama. Rupanya mainan yang satu ini cukup berhasil membuat ikatan dari orang-orang yang tidak pernah bertemu sebelumnya.

Staf pengajar ilmu senapan angin jurusan ilmu senang-senang.

Mana yang Terbaik?
Di akhir hari ini, semuanya sudah bersenang-senang dan pulang dengan perut kenyang dan juga pengalaman menyenangkan tentang senapan angin. Bagi pemburu dari kabupaten Bandung Barat, pengalaman membimbing orang yang baru pertama kali menembak senapan angin adalah suatu kepuasan tersendiri dan suatu penyadaran tentang bagaimana posisi mereka saat ini dalam hobi ini yang telah begitu tingginya. Dan malang bagi kelompok orang tua murid, setelah mereka kenyang dan puas menembak saat ini, mereka harus memikirkan cara untuk merayu para istri untuk mengijinkan mereka memiliki senapan angin.
Ya, apapun motivasi yang membuat para orang tua murid ini ingin juga memiliki senapan angin, pada akhirnya mereka harus memilih sebuah senapan angin pertamanya. Pada akhir hari ini saya bertanya, jikalau mereka boleh memiliki sepucuk senapan angin, senapan jenis apakah yang mereka inginkan dan apa alasannya? Pada akhir hari ini ternyata penembak pemula ini berkeinginan memiliki senapan angin yang murah, ringan, dan tidak menimbulkan recoil. Dari empat jenis senapan yang saya saya tawarkan, tiga di antaranya adalah senapan jenis per (Weihrauch HW77, Walther LGV dan Feinwerkbau FWB124) dan sisanya adalah senapan multi pump Sharp Ace. Dan senapan sejenis Sharp Ace-lah yang dirasakan paling mewakili kriteria pemilihan mereka. Walaupun mereka masih kesulitan untuk memompa senapan sampai 5 kali.

Memompa senapan angin multi pump bisa jadi hal yang menyulitkan bagi penembak pemula. Bagi pembimbing, "angin lepas" setelah makan adalah hal yang perlu diwaspadai.

Dari para pemburu juga, pengalaman ini membawa masukan bagi saya. Pemburu yang biasa menggunakan senapan multi pump keluaran Sharp Indonesia maupun Benjamin, merasakan hentakan dari senapan per tentunya memberikan pengalaman tersendiri bagi mereka dan memberi masukan berharga bagi saya. Bagi saya yang banyak mengamati perkembangan senapan angin lewat internet dan telah dicekoki berbagai opini dari dunia maya, tentunya pemilihan senapan pertama kali dipengaruhi oleh asal usul produsen senapan angin dan pendapat para ahli. Namun bagi pemburu yang murni belajar dari lapangan dan tidak terlalu dipusingkan dengan arus informasi internet, perasaan dan hasil akhir adalah pertimbangan utama. Kelompok pemburu ini sepakat bahwa Walther LGV adalah senapan terbaik dari kelompok senapan per yang saya miliki. Ajaibnya mereka memuji picu senapan ini melebihi Rekord trigger milik Weihrauch yang menjadi prototype mekanisme picu senapan per modern yang baik. Padahal dari sekian banyak kritik yang dilontarkan pada senapan Walther LGV ini, sektor trigger adalah kelemahan utama yang disorot dari senapan ini. Tapi itulah pendapat murni sekelompok orang yang tidak dipengaruhi oleh opini umum di internet.
Akhirnya bagi saya, yang selalu mencari pembelajaran dari segala hal yang terjadi di sekeliling saya, pengalaman hari ini membawa suatu pelajaran bahwa senapan yang terkenal dan mahal bukanlah faktor utama untuk keberhasilan menembak. Senapan adalah sarana di mana penembak sendirilah yang berperan dalam menentukan keberhasilannya. Jangan sampai suatu senapan, yang kata banyak orang bagus, menurunkan kepercayaan diri anda karena anda tidak berhasil menembaknya dengan baik. Jangan percayai blog ini, dan coba sendiri senapan mana yang cocok bagi anda. Entah itu senapan buatan dalam negeri dengan laras custom maupun senapan impor berharga puluhan juta, pengalaman menembak senapan angin harusnya menyentuh hati anda dan membawa kesenangan, sebagaimana dulu mainan favorit anda memuaskan hasrat anda. Namun tentunya saat ini anda harus membelinya sendiri dari uang yang dengan susah payah anda kumpulkan.
Sepertinya minggu depan saatnya saya harus bertanggung jawab menemani kawan baru saya di dunia senapan angin untuk meminang senapan angin pertamanya.

Saling membantu untuk mengenal fitur-fitur senapan angin dan aksesorisnya. Pemandangan yang membahagiakan.

Saya cukup bahagia karena lebih banyak lagi orang ikut merasakan kesenangan yang saya rasakan dari dunia ini. Saya berharap dengan artikel ini semakin banyak pecinta senapan angin di luar sana yang mau berbagi kesenangannya dengan banyak orang. Saya rasa semakin banyak orang terlibat, maka semakin banyak keuntungan yang kita dapatkan. Entah itu kenalan atau komunitas, akses dan ketersediaan barang, maupun dukungan regulasi. Semoga menghibur. Terbuka untuk masukan dan pertanyaan.
Poskan Komentar