Kamis, 19 Maret 2015

Diana Mod. 25D: Bakal Anak Nanti - Bagian 1

Seri artikel  ini disusun untuk mendokumentasikan pekerjaan saya pada senapan per Diana Mod. 25D produksi Jerman Barat pada tahun 1983.

Tentang Senapan Ini dan Diana
Senapan angin ini sejatinya adalah senapan yang dirancang bagi penembak pemula ataupun remaja. Dengan usaha mengokang yang minimal dan energi yang kecil, senapan ini sangat menyenangkan untuk digunakan karena tidak melelahkan dan menghasilkan recoil yang cukup nyaman. Akurasi laras Diana sangat memadai sehingga ada juga yang tergoda untuk menggunakan senapan ini dalam perlombaan senapan angin 10 meter. Dalam dunia berburu juga, khususnya di Indonesia yang tidak kaku memandang peruntukkan sebuah senapan angin, senapan ini mengumpulkan cerita keberhasilan dalam menjatuhkan berbagai burung pada masanya. Ringan dan minim perawatan membuat senapan ini mampu bersaing dengan senapan multi pump keluaran Jepang waktu itu. 
Senapan ini awalnya saya miliki untuk membina minat anak saya jikalau sudah cukup umur nantinya. Namun pada kenyataannya senapan ini sudah cukup sering saya gunakan untuk membinasakan tikus di rumah. Ringan, senyap, akurat, dan tanpa kerusakan sampingan (collateral damage) dari perabotan rumah.

Diana Mod. 25D milik saya yang sudah diganti visier belakangnya karena problem barrel droop yang berat.

Senapan ini sendiri adalah varian dari Diana model 25 yang memiliki sejarah dan rentang produksi yang sangat panjang. Menurut referensi yang saya peroleh, senapan model 25 sudah diproduksi sejak tahun 1920-an dan dihentikan pada tahun 1986. Varian 25D adalah Model 25 yang memiliki mekanisme picu "tiga bola bearing" ciri khas Diana. Mekanisme picu ini akrab dengan pemilik senapan angin Diana model 50 yang populasinya melimpah di Indonesia.
Selain mekanisme picu tersebut, tidak ada yang terlalu istimewa dari senapan ini. Kualitas finishing-nya yang istimewa dan akurasinya adalah standar dari nama besar Dianawerk. Hal lain yang istimewa dari senapan ini mungkin adalah mekanisme pengunci laras dari bola bearing. 
Daya tarik dari senapan ini adalah kesan minimalis dan bobotnya yang ringan (sekitar 2,6 kg). Hal ini mengorbankan beberapa fitur yang pada jaman modern saat ini sepertinya menjadi sebuah keharusan. Tidak ada pengaman picu otomatis yang tersedia. Bahkan untuk penempatan sebuah rifle scope sekalipun, pada kebanyakan seri awal, tidak bisa dilakukan karena ketidakadaan rel untuk mounting.
Senapan ini diproduksi dalam dua kaliber. Yaitu 4.5 mm dan 5.5 mm. Diproduksi dalam aturan ketat kepemilikan senjata api Jerman yang membatasi kekuatan energi di bawah 7.5 Joule untuk kepemilikan tanpa ijin khusus, senapan ini dijaga kecepatannya di bawah batas tegas itu. Hasilnya senapan ini dalam kondisi sehatnya menghasilkan kecepatan 525 fps pada kaliber 4.5 mm dan 380 fps pada kaliber 5.5 mm.
Senapan ini juga dapat ditemui dalam beberapa label. Dianawerk yang dimiliki Mayer & Grammelspacher dan berkedudukan di Rastatt, Jerman, sempat kehilangan hak paten terhadap merk Diana akibat gejolak Perang Dunia II. Karena peristiwa perang dunia itu, produksinya pernah berpindah keluar dari Jerman. Beberapa peralatan pabrik dan dokumentasi perusahaan ini sempat rusak akibat pengeboman tentara Sekutu.  Sisanya pernah dijual akibat pendudukan Sekutu setelah Jerman kalah perang. "Milbro" adalah merk dagang pertama yang membeli hak paten atas desain dari Dianawerk  dari Perancis, yang saat itu menguasai area Rastatt . Millard Bros sebagai pemegang merk Milbro lalu memindahkan peralatan dan produksi milik Dianawerk ke Motherwell, Skotlandia pada tahun 1949. 
Pada tahun 1950, Konsil Kontrol Sekutu (The Allied Control Council) memperbolehkan Jerman memproduksi kembali senapan angin sehingga Dianawerk, yang waktu itu telah kehilangan merk dagangnya, harus mengusung merk lain yaitu "Original". Original dipergunakan untuk pasar domestik Jerman. Nama lainnya untuk pasar ekspor negara Persemakmuran Inggris Raya hadir dalam nama "Gecado", "Condor", "Firebird" ataupun "Original Diana". 
Untuk pasar ekspor negara lainnya, Dianawerk menjual dalam spesifikasi dan rancangan tertentu bagi perusahaan pemesannya dan melabelinya dalam nama "Winchester", "Beeman", "Hy-Score", "Peerless" dan "RWS"  di Amerika, juga "Geco" sebuah eksportir di Jerman untuk pasar internasional lainnya.

Bongkar
Senapan saya sendiri saat ini memiliki performa yang sebenarnya sudah cukup memadai dan sesuai untuk peruntukannya. Untuk urusan menembak kertas 10 meter, cukup sering saya dapatkan grouping yang rapat hanya dengan mengandalkan visier saja. Untuk menembak tikus di sudut-sudut rumah juga sudah mumpuni. Pemilik sebelumnya sangat bermurah hati untuk mengganti klep piston dan per yang segar bagi senapan ini sebelum menyerahkannya kepada saya. Dalam kondisinya saat ini, senapan saya dapat memuntahkan mimis RWS Superdome .177" 8.3 grain dengan kecepatan rata-rata 401 fps. Namun godaan untuk membuatnya lebih bertenaga ada saja sehingga pada suatu saat saya beranikan diri untuk melakukan proyek bongkar pasang ini. 

Rerata kecepatan 10 kali tembakan menggunakan Superdome 8.3 grain pada saat senapan ini saya terima.

Dalam artikel ini saya akan mendokumentasikan bagaimana cara saya membongkar senapan ini. Rangkaian gambar di bawah ini akan menjelaskan sendiri bagaimana tahapannya.

Lepaskan 3 buah baut yang mengikat popor pada badan senapan. Dua buah terletak di samping depan, dan satu lagi pelindung picu bagian depan.

Lepaskan baut kecil yang menahan baut poros laras.

Karena baut ini kecil dan pendek singkirkan dan simpan dengan hati-hati.

Baut poros (pivot bolt) dapat dilepaskan dan unit laras dapat dilepaskan.

Pada bagian buritan laras (breech block) terdapat engsel laras yang dibantali oleh dua buah cincin tipis (shim). Buka cincin ini dengan menggunakan jarum bilamana masih menempel. Bersihkan dari karat dan deposit pelumas sebelumnya lalu lumasi ulang dengan gemuk/stempet agar pergerakan buka tutup laras dan usaha mengokang lebih mulus.

Sambungan lengan pengokang pada piston (cocking lever link) dapat dilepaskan lewat slot bagian depan (cocking slot) yang membesar.

Unit picu pada jenis picu "tiga bola bearing" khas Diana yang dapat diatur (adjustable). Picu ini memiliki dua tahapan (two stages). Pengaturan dapat dilakukan untuk kekerasan tahap kedua saja (second stage). Pengaturan panjang langkah tahap pertama (first stage) tidak dapat dilakukan. Baut depan berfungsi sebagai pengunci pergerakan baut belakang saja saat hentakan terjadi. Fungsi pengaturan sejati hanya dilakukan terhadap baut belakang. Semakin panjang baut belakang yang keluar, maka tarikan picu akan semakin berat. Namun senapan yang sudah dikokang akan lebih aman terhadap picuan yang tidak disengaja. 

Bilah picu ditahan oleh sebuah pin pada bagian belakang dudukan. Ketok pin untuk melepaskan.

Perspektif dari sudut yang lain memberi gambaran bagaimana nantinya bilah picu bersentuhan dengan rumah picu pada bagian dalam tabung.

Dalaman senapan ditahan hanya dengan dua buah pin baja. Salah satunya tampak dari luar, lainnya tersembunyi di balik penutup belakang yang terbuat dari besi press. Salah satu ciri senapan Diana klasik. Lepaskan penutup ini dengan ketukan ringan untuk mencapai pin penahan bilamana bagian ini rekat dengan badan senapan.

Penutup sudah terbuka dan bagian rumah bearing yang ditahan oleh dua buah pin.

Bagian dalam rumah bearing sebelum pin penahan dilepaskan. Perhatikan adanya per pendorong rumah picu. Bagian per ini bisa jadi masalah yang cukup merepotkan saat merakit kembali.

Tempatkan badan senapan yang sudah dilepaskan pada spring compressor. Saya belum memiliki spring compressor yang layak sehingga saya menggunakan trigger clamp untuk menahan lecutan per saat pin dilepaskan.

Tekan perlahan spring compressor sehingga pin dapat dilepaskan tanpa tahanan yang berarti. Terkadang bilamana pin sudah sering dibongkar dan mendapatkan pelumasan, pin ini akan meluncur keluar sendiri jikalau tekanan pada rumah bearing tepat. Bilamana hal ini tidak terjadi, ketok pin menggunakan puncher.

Pin sudah dikeluarkan dan saat ini hanyalah spring compressor yang menahan tekanan dari per utama. Perhatikan ada dua jenis ukuran lubang pin. Yang lebih ramping berada di depan sedangkan yang lebih gemuk berada di belakang. 

Sekilas tampak mirip, namun seperti gambar di atas, pin sebelah kiri lebih ramping daripada pin sebelah kanan. Perhatikan pada saat perakitan kembali kedua pin ini jangan sampai tertukar.

Setelah spring compressor dilepaskan maka rumah picu dan rumah bearing beserta per dapat terlepas.

Tegangan awal per utama (pre-tension) yang ditetapkan oleh pemilik senapan sebelumnya sejauh 5.5 cm. Hal ini dapat diukur dari jarak tepi depan lubang pin belakang di rumah bearing terhadap tepi depan lubang pin belakang badan senapan.

Konfigurasi rumah picu, per, dan rumah bearing dilihat dari atas. Pada saat senapan dikokang, cekungan pada rumah picu akan mendorong masuk bola bearing, yang berjumlah tiga buah, ke dalam selongsong rumah bearing. Akibat desakan 3 buah bearing ini, diameter selongsong menyempit dan menjepit batang piston pada bagian yang langsing. Piston yang terkokang seolah ditahan dengan kekuatan klem.

Rumah picu yang dilepaskan dari rumah bearing. Tampak salah satu dari 3 buah bola bearing. Saat picu ditarik, maka per rumah picu akan mendorong rumah picu ke depan. Akibatnya bagian cekung rumah picu kini tidak lagi mendorong masuk bola bearing. Bola bearing kini terdorong keluar dan diameter selongsong seolah melebar. Selanjutnya batang piston terlepas dari genggaman tiga bola itu dan dapat meluncur ke arah depan.

Formasi tiga bola bearing saat tertekan masuk oleh cekungan di rumah picu. Perhitungan dan tingkat kepresisian yang sangat dipuja dari sistem kerja picu andalan Diana ini. Sulit ditiru oleh pengrajin senapan dalam negeri. Sistem ini dapat dikatakan jenius dan juga eksotis. Ringannya tarikan picu pada sistem ini sepadan dengan tingkat kerumitannya.

Piston, per utama (main spring), dan pemandu per belakang (spring guide) sekarang dapat ditarik keluar. Untuk mendorong keluar piston gunakan batang panjang seperti obeng. Berhati-hatilah agar klep pada bagian ujung piston yang terbuat dari kulit tidak rusak saat mendorong keluar piston. Kita tidak dapat mendorong piston melalui lubang transfer port karena desainnya yang unik. Akan saya jelaskan mengapa pada gambar berikutnya. Lumasi dengan gemuk pada bagian piston yang kontak dengan tabung badan senapan, batang pengait piston, per utama dan spring guide. Saya menggunakan gemuk berbahan dasar minyak mineral untuk mencegah dieseling yang berlebihan.

Semua bagian senapan sudah dilucuti. Beginilah kira-kira hubungan antar komponen di dalam tabung senapan.

Keunikan transfer port senapan ini adalah posisi kedua ujungnya yang tidak tegak lurus terhadap piston. Pada bagian dalam tabung, di mana lubang masuk udara terdapat pada ujung kamar kompresi, letaknya ada di bagian tengah.

Sedangkan pada bagian luar tabung. Di mana udara keluar memasuki laras pada bagian breech, letaknya ada di bagian atas. Dapat dibayangkan bahwa sebenarnya transfer port ini menanjak ke atas. Desain ini diharapkan memberi efisiensi terbaik untuk menghantarkan aliran udara tekan. Namun untuk urusan melepaskan piston, lubang ini tidak dapat digunakan untuk mendorong piston keluar.

Pada bagian dalam tabung didapati permukaannya cukup kasar. Namun tidak perlu saya poles karena menurut Cardew; saluran-saluran mikroskopis ini akan menyediakan ruang untuk menyimpan minyak yang berguna untuk bahan bakar dieseling sebuah senapan angin tipe sporting.

Piston ini yang lebih perlu mendapat perhatian karena permukaan yang kasar dapat memberikan tambahan friksi yang dapat mengurangi efisiensi senapan ini. Perhatikan dua bagian piston yang tampak kasar dan terdapat karat maupun deposit kotoran.

Bagian yang kasar setelah dipoles hingga cukup mengilap. Saya gunakan kertas amplas dimulai dari grit 320, berhenti di grit 1,500 dan dipoles lagi dengan compound pemoles logam andalan.

Untuk pekerjaan awal ini saya hanya melakukan pelumasan ulang dan penghalusan pada bagian piston yang bergesekan dengan bagian dalam badan senapan. Sisa gemuk/stempet lama saya bersihkan dengan degreaser umum. Menurut pemilik sebelumnya, dia menggunakan gemuk komersial umum berbahan dasar minyak bumi. Saya ganti dengan gemuk Molykote BR2 Plus yang merupakan gemuk berbahan dasar minyak mineral dengan kandungan lithium dan aditif molibdenum (MoS2).



Pekerjaan lainnya adalah dengan merendam klep kulit, yang menurut pemilik sebelumnya baru diganti, namun terlihat agak kering. Saya rendam dengan minyak pelumas mesin Pertamina Enduro Matic semalaman untuk kemudian dikeringkan dengan lap bersih sebelum dipasang kembali.

Hasil dan Penutup 
Setelah semua pekerjaan di atas, saya melakukan uji chronograph ulang menggunakan mimis yang sama. Saya tunggu tembakan stabil setelah sepuluhan tembakan agar tidak merekam kecepatan yang ekstrim akibat dieseling yang berlebihan dan hanya bersifat sementara. Dari 10 tembakan yang saya catat, saya dapatkan:
490, 501, 499, 484, 492, 489, 484, 494, 483, 499
Dengan rangkaian itu saya dapatkan rerata kecepatan sebesar 491 fps, dengan sebaran `18 fps, dan standar penyimpangan 6 fps. Mendekati kecepatan yang menjadi acuan saya mengingat pengujian ini menggunakan mimis yang cukup berat bagi senapan ini. Cukup konsisten dan hentakan yang dirasakan masih cukup nyaman. 
Dengan mimis 8.3 grain ini saya dapatkan energi sebesar 4.44 ft-lbs atau 6.03 Joule. Mendekati tingkat energi 7.5 Joule yang ditetapkan di negara asalnya.
Berikutnya saya akan mencoba bermain dengan main spring baru yang lebih tebal dan kaku untuk meningkatkan tingkat energi yang diperoleh.
Semoga bermanfaat dan terbuka bagi masukan dan pertanyaan.
Poskan Komentar