Senin, 28 April 2014

Refinish Popor Kayu dengan Wiping Varnish

Beberapa waktu belakangan ini saya sedang tertarik dengan topik-topik dalam tema pertukangan kayu. Awalnya saya terinspirasi dengan rekan-rekan di Lembang Air Rifle Club (LARC) yang begitu terampil dalam memodifikasi bahkan membuat popor sendiri terutama dari kayu-kayu sisa. Hasilnya sungguh mencengangkan. Karena bagi saya yang awam, tampilannya sudah seperti hasil pekerjaan profesional. Walaupun para punggawa di LARC itu sendiri sejatinya bukanlah pengrajin senapan. Dari sanalah muncul ide untuk membuat popor sendiri. Namun karena kemampuan hasta karya saya sangat terbatas dan sebelum  frustasi karena ketidakmampuan saya, baiklah saya mulai dengan proyek sederhana. Yaitu melakukan finishing ulang (refinish) popor senapan saya.

Salah satu karya popor dari Bapak Eddy Winardi di LARC. Membuat saya terinspirasi. Menggunakan kayu sisa dan bagian mata kayu yang kritis namun memiliki tampilan yang indah.

Ceritanya lagi saya memiliki popor kayu mangga untuk senapan Sharp Ace saya. Namun karena popor ini di-finishing seadanya dan terburu-buru oleh pengrajinnya, maka kesan indah yang diharapkan tidaklah tampak darinya. Maka popor ini adalah kandidat cocok untuk dijadikan bahan percobaan saya. Sebenarnya tujuan akhir saya adalah melakukan refinish pada senapan Benjamin Sheridan 397 PA lawas milik saya yang terbuat dari kayu Walnut. Kayu ini semakin langka digunakan pada senapan-senapan keluaran terbaru. Jadi anggap saja proyek ini sebagai langkah latihan sebelum melakukan proyek refinish yang lebih serius.


Sekilas Mengenai Materi Finishing Kayu
Materi finishing pada kayu sendiri sangatlah banyak dan dikatakan tidak ada metoda/materi tunggal yang sempurna. Secara umum pembagian materi finish pada kayu terdiri dari materi yang alami dan sintetik. Pada materi alami, bahan-bahan yang digunakan merupakan bahan-bahan yang didapatkan dari alam. Materi alami ini dapat berupa minyak yaitu Linseed Oil, Tung Oil, atau berupa shellacs (pelitur). Sedangkan material sintetik sesuai namanya didapatkan melalui pencampuran bahan-bahan seperti resin sintetik (alkid, fenolik, uretan dan selulosa), akrilik, maupun urea formaldehid (melamin) dengan bahan lain seperti minyak, agen pengering, maupun berbagai pengencer kimia yang mudah menguap. Contoh meterial sintetik ini adalah varnish (campuran resin alkid, fenolik, maupun uretan dengan minyak seperti Linseed Oil maupun Tung Oil) dan lacquer (campuran resin alkid maupun nitroselulosa dengan pengencer yang mudah menguap).
Selain materi finish yang mengandung pengencer minyak dan bahan kimia mudah menguap seperti yang disebutkan di atas, dikenal pula materi finishing lain yang berbahan dasar air. Intinya adalah campuran resin alkid maupun uretan ataupun akrilik dengan pengencer kompleks berbahan dasar air. 
Setiap materi finishing di atas memiliki fitur-fitur khusus yang seringkali tidak dimiliki oleh jenis materi yang lainnya. Hal inilah yang menyebabkan setiap materi di atas masih bertahan dan memiliki penggemarnya tersendiri (walaupun tidak semuanya populer dan tersedia luas di Indonesia). Beberapa pertimbangan dalam memilih material finish yang digunakan adalah:
  • Tingkat penetrasi (film coating/hanya menutup permukaan ataupun berpenetrasi dengan menyerap ke dalam serat kayu dan bereaksi);
  • Kecepatan pengeringan (dalam menit hingga membutuhkan waktu mingguan);
  • Teknik penerapan (mudah karena hanya dengan dikuas atau digosok maupun sulit karena membutuhkan investasi alat penyemprot);
  • Tingkat kekuatan yang diharapkan (ketahanan terhadap air, panas, zat pelarut, maupun perlakuan mekanik seperti goresan maupun benturan).
  • Tampilan yang diharapkan (kesan alami maupun seperti plastik).
  • Kemudahan pemeliharaan dan restorasi setelah beberapa waktu.
  • Isu kesehatan (pengencer kimia dianggap beracun dibandingkan dengan yang berbahan dasar air).

Sampai sini saya baru membahas tentang materi finish saja. Masih banyak lagi seluk-beluk finishing kayu yang off context dengan topik utama seperti persiapan bahan, metoda aplikasi, dan lain sebagainya.

Bahan yang Saya Gunakan
Untuk proyek refinish ini saya menggunakan wiping varnish. Sebenarnya saya tidak sengaja merencanakan menggunakan material ini. Namun karena saya menemukan produk ini dan menemukan beberapa keunggulan yang saya bisa saya terima, maka saya pilih materi ini untuk proyek saya kali ini.
Wiping varnish sendiri intinya adalah varnish (material sintetik) yang dapat diaplikasikan dengan cara dioles atau digosok menggunakan kain lap (wiped). Dalam hal ini tidak dibutuhkan peralatan mahal seperti kompresor dan spray gun yang tidak saya miliki. Untuk kualitas varnish sendiri dikatakan cukup baik. Bahkan dikatakan terbaik untuk metoda penerapan yang tidak menggunakan alat penyemprot. Fitur yang saya senangi dari varnish ini adalah penetrasinya yang baik ke dalam serat kayu  dan ketahanan yang sangat baik terhadap air, panas,dan zat kimia. Namun fitur yang tidak saya senangi adalah kecepatan pengeringannya yang lama (harian hingga mingguan) dan kurang kuat untuk benturan maupun abrasi (walaupun sifat ketahanan mekanik ini tergantung resin yang digunakan produsen).
Produk yang saya gunakan telah dilengkapi dengan pigmen pewarna (wood stain) untuk memperkaya dan memperdalam tampilan serat kayu dan mengandung minyak Linseed yang dikatakan memberi warna yang lebih kaya sekaligus hasil akhir yang agak lunak.

Produk finish yang saya gunakan. Secara umum produsen biasanya tidak secara gamblang menyampaikan jenis dan kandungan produk yang mereka tawarkan. Pengetahuan mengenai komposisi produk dapat memrediksi sifat dan cara penerapan finish walaupun tanpa pengalaman penggunaan sebelumnya.

Pada produk yang saya gunakan menampilkan komposisi bahan yang digunakan. Dari komposisi ini dapat diketahui jenis finish ini adalah varnish. Cirinya adalah penggunaan resin alkid, minyak alami berbahan dasar biji Linseed, bahan pengering berupa compound zirconium, dan pada produk ini telah diberikan pigmen pewarna (wood stain) yaitu trans oxide red. 

Langkah Pengerjaan
Dalam melakukan proses refinish ini, berikut langkah-langkah yang saya kerjakan. Walaupun tertulis secara sistematis pada kenyataannya saya seringkali harus mundur beberapa langkah karena kesalahan-kesalahan yang saya lakukan. Dan seperti biasa dalam saya melakukan pekerjaan yang asing, maka saya agak panik dan sulit menggambil gambar.
Adapun langkah-langkah pekerjaan yang telah saya kerjakan yaitu:

1. Melepaskan Finish Lama
Langkah ini adalah langkah yang paling membosankan dan melelahkan. Apalagi popor senapan yang saya dapatkan telah di-finish dengan materi yang keras. Cara melakukannya adalah dengan mengamplas popor menggunakan kertas amplas. Kertas amplas yang saya gunakan adalah kertas amplas wet and dry dengan materi silikon carbid atau yang populer dengan kertas amplas duco. Saya mulai dengan grit 220 - 320 dan berakhir di 600. Saat mengamplas bagian yang lebar atau agak sempit sebaiknya menggunakan bantalan yang terbuat dari busa/spon keras (sanding pad) untuk meratakan tekanan amplas pada permukaan yang hendak diamplas.

Bantalan (pad) busa untuk mengamplas. Alat ini dapat membantu memberikan tekanan amplas yang merata.

Dalam langkah ini saya tidak melepaskan bantalan karet (recoil pad) karena ukuran popor memiliki tendensi untuk menyusut setelah proses pengamplasan sehingga menyebabkan ukuran pad menjadi kebesaran apabila ditempatkan kembali. Mengamplas karet bantalan bersama dengan popor memberikan hasil yang lebih sinkron dari kedua bagian ini.
Setelah finishing lama telah terbuka dan semua bagian kayu telah terekspos, bersihkan popor dari partikel debu dengan kain lap bersih dan lebih baik lagi jika menggunakan alkohol. Dalam hal ini saya menggunakan alkohol iso-propil 91% (IPA).

Popor depan yang telah selesai diamplas dengan kertas amplas grit 800 dan dibersihkan. Tampak motif serat dan pori-pori kayu yang halus dan longitudinal. Bukan motif terindah yang bisa dibanggakan tapi tetap berkarakter dengan penerapan finish yang baik.

2. Mengeluarkan Serat Kayu (Whiskering) dan Memperbaiki Bagian yang Mengalami Indentasi (Dented)
Setelah semua bagian kayu terekspos, langkah berikutnya yang dikerjakan adalah mengeluarkan serat kayu. Kayu memiliki sifat seperti spon yaitu dapat menyerap dan meyimpan air. Perlakuan dengan materi finish nantinya akan membuat serat kayu menjadi bengkak karena muatan cairan yang diserap oleh serat kayu. Karena sifat kayu ini pula maka beberapa cacat ringan seperti kayu yang penyok akibat benturan tumpul dapat diperbaiki. Karena kebetulan popor yang saya dapatkan memiliki cacat akibat benturan, maka saya ambil kesempatan kali ini untuk memperbaiki cacat itu.
Jika tidak ada cacat berarti whiskering dapat dilakukan dengan menyeka popor dengan kain lap basah. Namun bila terdapat cacat cekung (dented) akibat benturan, maka selain diseka bagian tersebut dapat dikompres dengan kain lap basah lalu kemudian dipanaskan. Untuk itu saya menggunakan setrika yang diatur pada panas yang paling tinggi. Lakukan penyeterikaan berulang-ulang hingga perlahan nanti tampak bagian yang cekung mulai naik dan rata karena kandungan air yang dibantu dengan panas akan membuat serat kayu tersebut menjadi bengkak. Pastikan kain cukup lembab agar kain tidak hangus atau yang lebih fatal popor menjadi hangus.

Bagian popor belakang yang cacat cekung akibat benturan. Hal ini masih bisa dikoreksi.

3. Pengamplasan (Sanding) Ulang
Setelah permukaan popor menjadi lembab dan bengkak maka diperlukan pengamplasan ulang. Hal ini dilakukan karena pori-pori kayu dan permukaan kayu terlihat menjadi lebih kasar dan kurang baik bagi hasil akhir finishing. Saya kerjakan dengan kertas amplas berukuran grit 800 tadi dan tidak lupa membersihkan sisa partikel debu dengan lap bersih dan IPA.

4. Menutup Pori-pori dan Serat Kayu
Popor yang telah menerima perlakuan di atas tidak berarti langsung terlihat mulus. Tergantung materi popor yang digunakan, biasanya terdapat pori-pori pada permukaan popor. Dalam hal ini popor kayu mangga memilki pori-pori kayu yang cukup besar dan akan mempengaruhi kualitas akhir finishing yang dihasilkan. Untuk itu diperlukan perlakuan tambahan untuk menutup pori-pori tersebut.
Cara termudah untuk melakukan hal ini adalah memberikan lapisan wood filler atau sering disebut dempul kayu. Namun karena saya tidak ingin menambah koleksi kaleng lagi maka terdapat cara lain yang sedikit lebih repot namun efektif juga dilakukan.
Popor tersebut diberikan lapisan wiping varnish menggunakan kuas. Aplikasikan berkali-kali hingga permukaan kayu jenuh dengan minyak. Hal ini ditandai dengan permukaan yang tetap basah walaupun telah dibiarkan selama 30 menit. Karena varnish bekerja dengan melakukan penetrasi dan polimerisasi di dalam serat kayu, maka lapisan permukaan kayu yang belum jenuh biasanya akan menampakkan tampilan yang kering (dull).

Pada permukaan popor yang belum jenuh dengan cairan varnish akan cepat menyerap cairan ini dan meninggalkan tampilan yang kering (dull). Terutama pada bagian-bagian ujung serat (end grain). Terus aplikasikan cairan ini sampai permukaan kayu berhenti menyerap cairan varnish.

Permukaan popor yang telah jenuh menyerap cairan akan meninggalkan tampilan yang basah dan cenderung glossy. Siap untuk dilakukan pengamplasan basah.

Setelah permukaan popor jenuh, lakukan pengamplasan basah (wet sanding). Caranya adalah dengan membasahi permukaan popor lagi dengan bahan varnish lalu diamplas dengan kertas amplas berukuran grit 1200 atau 1500. Setelah beberapa lama mengamplas akan terlihat timbul material seperti lumpur kehitaman. Materi ini adalah perpaduan resin dengan minyak yang telah mengalami polimerisasi dan serbuk kayu. Ratakan lumpur ini menggunakan telapak tangan hingga menutupi semua pori-pori kayu. Lakukan penekanan saat meratakan material ini seperti seakan mencekoki lumpur ke dalam pori-pori kayu. Langkah ini sangat mengotori tangan dan celakanya sangat awet rekatnya hingga disarankan menggunakan sarung tangan karet yang telah dibersihkan bedaknya.

Cara terbaik untuk meratakan materi penambal pori kayu adalah dengan tangan. Jika anda tidak keberatan bila tangan anda tampak kotor selama 1 minggu silahkan gunakan tangan telanjang. Namun  sebaiknya gunakan sarung tangan lateks yang bebas bedak. Selalu pisahkan cairan varnish yang akan digunakan di wadah yang terpisah untuk mencegah stok varnish yang belum terpakai terbuang percuma. Dan jika bekerja sambil minum kopi jangan sampai salah celup.

Untuk pemberian varnish disarankan menampung sejumlah kecil cairan varnish pada wadah yang berbeda. Karena cairan varnish bereaksi dengan udara dan mengalami proses autooksidasi, maka jika kita terlalu lama membuka kaleng stok varnish, akan menyebabkan stok varnish kita mengeras tanpa sempat digunakan.
Jika semua pori-pori telah tertutup dengan materi lumpur itu, hapus sisa lumpur yang masih menempel pada popor dengan kain lap dari bahan katun. Kain yang digunakan haruslah tidak meninggalkan serabut maupun benang-benang halus pada permukaan popor. Langkah ini sangatlah penting. Karena bila kita tidak membersihkan sisa lumpur ini, keesokan hari kita akan mendapati lumpur ini mengeras dan akan sangat sulit dibersihkan.
Sering kali ukuran pori-pori kayu sangat besar sehingga tidak cukup sekali saja kita melakukan hal di atas. Lakukan kembali langkah di atas dengan memberi waktu 24 jam untuk memberi kesempatan varnish tersebut bereaksi dan cukup kering untuk pengaplikasian berikutnya. Dan sering kali setelah beberapa lama beberapa bagian dari popor akan terlihat kering (dull) lagi. Hal ini menandakan permukaan atau bagian tersebut belum cukup tertutupi ataupun jenuh dengan minyak. Lakukan hal yang sama dengan memberi jeda waktu 24 jam. Nikmati proses ini dan jangan terburu-buru karena varnish sangat lambat mengering. Namun pada akhirnya kesabaran kita akan diganjar dengan tampilan popor yang tidak mengecewakan.
Gantung popor di tempat yang bebas debu dan cukup hangat. Saya menggunakan penerangan cahaya lampu pijar (bohlam) dengan kekuatan 100 watt.

Gantung popor yang telah mendapat perlakuan di tempat yang bebas debu. Jika tidak ada sumber panas dan cahaya yang cukup dapat digunakan lampu pijar 100 watt.

5. Memberi Lapisan Awal
Setelah setiap pori-pori rata dengan permukaan popor, saatnya memberikan lapisan finish yang sesungguhnya. Tampilan serat kayu yang dramatis dan dalam akan muncul apabila pigmen pewarna pada wood stain dan minyak bisa berpenetrasi ke dalam serat kayu. Hal ini sangat dipengaruhi dengan kekentalan material varnish yang digunakan. Untuk mengencerkan varnish disarankan menggunakan mineral spirit sebagai pengencer (thinner). Karena saya tidak mengetahui padanan namanya di pasaran Indonesia dan tidak begitu yakin dengan formula thinner komersial yang ada di pasaran, maka saya gunakan alternatif lain sebagai thinner yaitu terpentin.
Terpentin sendiri saya gunakan untuk mengencerkan varnish hingga mendapatkan 3 macam campuran dengan konsentrasi varnish 25%, 50% dan 75%. Saya mulai dengan konsentrasi terendah lalu diaplikasikan dengan cara dioles menggunakan kain katun. Setelah dioles rata maka saya gantung kembali dengan penghangat lampu pijar. Pastikan kain yang digunakan tidak mencemari permukaan popor dengan partikel pengotor dan lingkungan bebas debu karena setiap butiran debu kasat mata yang menempel akan sangat sulit dibersihkan jika telah menempel.

Beberapa wadah kecil untuk menampung cairan varnish yang akan digunakan akan sangat bermanfaat. Di atas adalah beberapa konsentrasi varnish setelah saya encerkan.

Hasil finish yang dibiarkan mengering tanpa kontrol debu dan menggunakan kain seadanya. Tampak partikel debu kasat mata dan serat-serat kain yang merusak kemulusan tampilan. Saya harus kembali mengamplas hingga lapisan menjijikan ini hilang semua.

Untuk pengaplikasian lapisan berikutnya maka saya lakukan pengamplasan ringan pada lapisan sebelumnya dengan menggunakan steel wool berukuran 4-0 (#0000) atau bisa digunakan alternatif lain yaitu kertas amplas halus dengan grit 1500. Langkah ini penting untuk menyiapkan landasan bagi penempelan lapisan varnish berikutnya. Jangan terlalu agresif mengamplas karena akan menghilangkan lapisan yang telah menempel. Indikator pengamplasan sudah cukup adalah lapisan mengkilap berubah menjadi agak kusam. Setiap lapisan membutuhkan waktu 24 jam untuk mengering.

Steel wool sangat berguna pada saat pemberian lapisan tambahan. Gunakan grade #0000 atau 4-0. Karena mendapatkan barang ini cukup sulit di Indonesia, bahkan pada rantai retail langganan saya, bisa disubstitusi dengan kertas amplas berukuran grit 1500 dengan bantalan amplas.

6. Memberi Lapisan Akhir
Lapisan akhir diaplikasikan dengan memberikan varnish berkekuatan penuh (tidak diencerkan). Tergantung pada intensitas warna yang diinginkan, lapisan varnish ini dapat diberikan sebanyak 3 hingga 8 lapis. Banyaknya lapisan varnish tidak akan meningkatkan kekuatan finish ini. Alih-alih semakin tebal lapisan ini akan menyebabkan sensasi memegang popor layaknya memegang karet karena agak lunak dan licin. Jadi langkah persiapan awal sangat penting untuk menjamin kualitas finish yang didapatkan benar-benar mulus dan bebas pori ataupun partikel debu kasat mata. Setiap lapis varnish seperti langkah sebelumnya membutuhkan waktu seharian untuk kering dan siap untuk lapisan sebelumnya. Jangan lupa mengamplas atau menggosok ringan dengan steel wool sebelum memberikan lapisan sebelumnya.
Jika intensitas warna yang diinginkan telah tercapai, diamkan popor tetap tergantung selama minimal 1 minggu.

Kualitas akhir yang saya harapkan dan cukup memuaskan bagi proyek pertama saya. Pori-pori yang rata tertutupi, permukaan yang mulus dan glossy, serta tingkat pewarnaan yang agak gelap.

7. Sentuhan Akhir dan Perakitan.
Setelah popor benar-benar kering yaitu ditandai dengan permukaan yang tidak lengket dan tidak meninggalkan jejak sidik jari saat disentuh (biasanya dicapai sempurna setelah 1 minggu, saya memilih menunggu selama 2 minggu), kita bisa memberikan perlakuan terakhir. Sampai tahap ini popor akan didapati permukaannya mengkilap (glossy). Beberapa perlakuan akhir misalnya untuk meningkatkan ketahanan dan kilap popor seperti dengan pemberian wax. Wax yang disarankan untuk tampilan alami adalah wax dengan kandungan carnauba. Wax sintetik juga dapat diberikan untuk meningkatkan daya tahan lapisan finish ini.
Seringkali permukaan popor senapan diinginkan tidak glossy namun lebih seperti satin (satin finish). Hal ini didapati pada senapan-senapan angin keluaran Eropa seperti Weihrauch dan popor keluaran Minelli. Untuk mencapai kualitas finish ini, pada permukaan yang telah sempurna mengering dapat diberikan perlakuan abrasif menggunakan talk atau polishing compound. Pilihlah compound yang halus sehingga kualitas akhir finish seperti satin. Sebagai pedoman di pasaran pilihlah compound yang bertuliskan polishing compound dibanding dengan rubbing compound. Aplikasikan secara ringan namun merata. Namun saya saat ini menyukai tampilan glossy.

Jika keindahan itu relatif di mata penikmatnya, maka saya puas dengan tampilan popor seperti ini.

Sebagai pembanding karena saya tidak punya gambar popor pada saat sebelum perlakuan. Popor belakang (sebelah kanan) tampak terlalu keras dan berkesan plastik tanpa kedalaman visual yang menarik. Sebelah kiri adalah popor yang baru diberi lapisan awal. Dari sini saja sudah tampak perbedaan daya tariknya.

Selagi proses polimerisasi belum berlangsung sempurna, komponen minyak yang belum berikatan sedang mengalami oksidasi dan menciptakan kondisi asam, Kondisi asam ini tidak baik bagi komponen logam karena dapat memicu oksidasi logam dan karat. Dikatakan sebaiknya menunggu lebih lama (disarankan minimal 1 bulan) sebelum popor akhirnya bisa dirakit kembali kepada badan senapan.

***

Demikian catatan saya mengenai proyek refinish popor senapan dengan menggunakan wiping varnish. Secara umum proses ini memang mudah dikerjakan dan menghasilkan tampilan finish yang mengesankan. Namun di sisi lain memakan waktu yang sangat lama terutama jika kita melakukan kesalahan. Sesuatu yang dapat dipertimbangkan bagi pecinta senapan angin yang senang melakukan sendiri hal-hal yang berkaitan dengan hobinya ini. Semoga berguna. Terbuka untuk masukan dan pertanyaan.
Posting Komentar