Tampilkan postingan dengan label referat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label referat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 April 2015

Referat Balistik Bagian 3: Menembak dengan Perbedaan Sudut Ketinggian

Artikel ini dipublikasikan sebagai catatan dari seri pembelajaran saya mengenai balistik eksternal. Artikel sebelumnya dalam seri pembelajaran ini meliputi:
Bagian 1 Ballistic Coefficient dan Kecepatan Mimis
Bagian 2 Jangkauan Balistik, Lintasan Terbang Mimis dan Penggunaannya

Sudah lama saya ingin menyarikan artikel ini sebagai rangkaian dari pembelajaran balistik eksternal. Namun baru pada kesempatan saat ini, setelah sekian lama merenunginya, pikiran saya terbuka untuk mengerti tentang topik ini. Betapa landainya kurva pembelajaran saya akhir-akhir ini untuk tema rumit seperti balistik eksternal ini. Semoga saja pemahaman saya kali ini tidaklah salah.

***


Pernahkah anda menembak sasaran yang berada tidak sama ketinggiannya dengan anda? Pernahkah anda mengamati titik tumbukan mimis anda pada saat anda menembak dengan sudut ini?
Saya dan kebanyakan penembak lainnya akan melakukan zero rifle scope pada jarak tertentu dengan posisi laras datar dan sejajar dengan permukaan bumi. Namun dalam praktik menembak di lapangan semisal dalam skenario berburu, kebanyakan sasaran berada pada posisi yang lebih tinggi maupun lebih rendah dari posisi penembak. Hal ini menyebabkan perbedaan titik tumbuk mimis pada sasaran. Kadang perbedaan ini begitu kecilnya sehingga tidak disadari. Bisa juga perbedaan ini begitu besar sehingga akhirnya akurasi senapan yang disalahkan. Bagaimana sebenarnya perbedaan sudut tembak mempengaruhi perkenaan mimis? Pada artikel ini saya akan mencoba merangkumkan apa yang sudah saya pelajari.

Kamis, 26 Maret 2015

Bukan Sekedar Mengenai Sasaran: Referat Pengantar Terminal Ballistic

Setelah cukup yakin memiliki kemampuan mengenai sasaran pada jarak tertentu, saya akhir-akhir ini mulai aktif mengikuti kegiatan berburu. Pada artikel sebelumnya saya bercerita bagaimana tingkat keberhasilan saya dalam berburu. Singkat cerita ternyata tidak begitu berhasil. Memiliki senapan bertenaga dan akurat, mampu mengeksekusi tembakan dan mengenai sasaran, namun tidak berhasil menjatuhkan sasaran. Apa yang salah dengan itu?
Saya pernah merangkumkan bahwa proyektil yang ditembakkan dari senapan kaliber 4.5 mm bisa jadi mematikan. Saat itu saya menekankan bagaimana kematian dapat terjadi pada manusia akibat efek penetrasi proyektil yang menyebabkan perdarahan maupun kerusakan organ langsung seperti kerusakan pada sistem syaraf pusat. Secara cepat maupun jangka panjang. Namun pada hewan kecil, yang menjadi sasaran perburuan saya, mekanisme terjadinya kematian seketika tidak hanya terjadi melalui mekanisme tersebut di atas. Dalam bidang balistik, kematian seketika banyak disumbangkan melalui efek kejutan hidrostatis (hydrostatic shock). Jadi apa sajakah sebenarnya yang menyebabkan kelumpuhan maupun kematian instan pada hewan buruan?

Hydrostatic Shock yang ditimbulkan sebuah proyektil yang melewati medium gelatin balistik.


Jumat, 26 September 2014

Benjamin 397: Suatu Prolog

Pada blog kali ini saya mulai menulis tentang senapan-senapan yang dulu pernah populer di Indonesia. Karena komunitas saya kini bertambah luas dan semakin sering menemukan senapan-senapan lawas, mungkin sudah waktunya bagi saya untuk mempelajari sejarah dan memperkaya khasanah pengetahuan saya mengenai senapan angin. Khususnya pada senapan angin lawas.
***
Ceritanya saya berhasil memboyong senapan Benjamin Sheridan 397 PA beberapa waktu lalu. Senapan ini memikat hati saya lebih karena sejarah produksinya yang panjang dan penuh warna. Mempelajari sejarah produksinya sendiri lebih menarik lagi dari pada sekedar menembakkan senapan ini. Mengapa saya kurang suka menembakkannya? Seperti diakui oleh Robert Beeman dalam testimoninya, senapan buatan Amerika memang kalah secara kualitas jika dibandingkan dengan senapan Eropa. Itulah alasan mengapa Beeman mendatangkan senapan-senapan Eropa untuk memuaskan hasrat penembak dewasa yang haus akan kualitas.

Benjamin 397 PA milik saya.

Memiliki dan mempelajari senapan angin yang gaungnya masih dirasakan di tanah air saat ini selalu bisa memperkaya wawasan saya. Ada kekayaan pengetahuan mengenai keterampilan sang pembuat senapan dan dedikasi yang tertuang dari teknologi yang bertahan selama berabad-abad. Dan bukankah penembak jaman dahulu berhasil menjatuhkan banyak hewan buruan dengan senapan ini? Bahkan hanya dengan versi tiruan buatan pengrajin dalam negeri yang diinspirasi oleh model senapan Amerika ini?
Dari sekedar mencari informasi mengenai senapan ini, pencarian saya berubah menjadi suatu catatan panjang yang sayang untuk dilupakan. Dalam artikel ini saya akan memaparkan apa yang saya kumpulkan itu.

Kamis, 21 Agustus 2014

Referat: MOA, Mil, dan Mil Dot pada Rifle Scope. Apa Kegunaannya?

Rifle scope tidak dapat dipungkiri adalah alat bidik terpopuler saat ini untuk mendampingi keberadaan senapan. Dalam kodratnya untuk mempermudah dalam menembak maupun sekedar mempercantik tampilan senapan, ada baiknya saya mengenal lebih baik lagi fitur dari suatu rifle scope. Salah satu yang membuat kebanyakan dahi berkerut saat mengamati rifle scope adalah angka-angka di balik knob pengaturan suatu rifle scope.
Kebanyakan dari penembak pemula seperti saya akan segera melewati bagian yang rumit ini dan segera mencari jarak ternyaman untuk menempatkan lubang mimis tepat di bagian tengah cross hair. Asumsinya dalam penggunaan di lapangan tidak ada yang terlalu peduli bagaimana dan di mana suatu mimis akan mendarat nantinya. Karena jarak yang dipergunakan dalam perburuan terlalu dekat untuk variasi jatuhnya mimis dan ukuran sasaran terlalu besar. Matematika rasanya tidak terlalu bermanfaat di dunia nyata.
Namun berbeda adanya jika seorang penembak ikut serta dalam suatu kompetisi menembak dengan jarak yang sudah ditentukan seperti kompetisi metal silhouette. Tidak ada salahnya jika saya belajar sedikit sebelum nantinya ada kesempatan untuk memraktikannya.


Sebuah rifle scope dengan mil dot reticle.

Sabtu, 03 Mei 2014

Referat Marksmanship Bagian 4: Kontrol Picu (Trigger Control)

Bagian 1 Cara Memegang Senapan
Bagian 2 Cara Membidik dan Parallax
Bagian 3 Cara Bernafas

Menarik picu adalah salah satu dasar dari kemampuan markmanship yang patut dikuasai untuk mengeksekusi tembakan yang bermutu. Begitu pentingnya kemampuan ini sehingga sub bagian ini saja memerlukan penekanan sendiri dan mendapatkan namanya sendiri yaitu teknik kontrol picu (trigger control). Dalam melakukan penekanan picu ada dua elemen vital yang terlibat yaitu (1) Penekanan picu tidak boleh mengganggu posisi senapan yang telah diatur melalui langkah sebelumnya (lihat Bagian 1 dan Bagian 2) dan (2) Penekanan picu harus dilakukan dalam periode yang sangat singkat yaitu di antara jeda pernafasan (respiratory pause, lihat Bagian 3).

Kontrol picu adalah salah satu dasar markmanship. Gambar diambil dari: http://www.outdoorlife.com/blogs/gun-shots/2013/04/dry-fire-key-better-rifle-accuracy-and-trigger-control

Kamis, 13 Februari 2014

Referat Marksmanship Bagian 3: Kontrol Pernafasan (Breath Control)

Bagian 1 Cara Memegang Senapan
Bagian 2 Cara Membidik dan Parallax

Pada artikel kali ini saya akan memaparkan hasil pencarian saya terhadap teknik kontrol pernafasan. Setelah mengetahui dasar menembak tepat yaitu pegangan senapan dan membidik, langkah berikutnya yang perlu dipelajari adalah teknik pernafasan. Mengatur pernafasan penting keberadaannya dalam menembak tepat. Bernafas mutlak dilakukan. Dalam kontrol pernafasan kita berusaha mengontrol pergerakan tubuh kita agar dapat mengeksekusi suatu tembakan yang sempurna. Maka untuk melakukan hal tersebut, setidaknya kita perlu mengetahui hal apa saja yang berhubungan dengan proses bernafas.
Artikel ini ditulangbelakangi dari artikel yang diterbitkan di www.usashooting.org pada bulan Mei-Juni 2011. Artikel selengkapnya dapat disimak di sini untuk memberi gambaran dan pengalaman pembelajaran pribadi yang lebih lengkap. Terima kasih kepada kontributor.

Bagaimana Manusia Bernafas dan Pengaruhnya dalam Menembak
Semua orang juga mengerti bahwa kita perlu bernafas. Dengan bernafas kita memasok kebutuhan oksigen seluruh tubuh kita dari paru-paru untuk kemudian disirkulasikan oleh peredaran darah jantung. Dalam pernafasan juga kita membuang produk metabolisme berupa gas asam arang (karbon dioksida, CO2). Namun karena artikel ini tentang hal-hal yang berhubungan dengan ketepatan menembak, baiklah saya mengambil beberapa hal yang berhubungan saja.
Paru-paru tidak mengembang dengan sendirinya. Untuk memasukkan udara segar dengan komposisi rata-rata oksigen 21% ke dalam paru-paru, maka rongga dada perlu menciptakan kondisi vacuum atau sedikit di bawah tekanan atmosfer. Perbedaan tekanan ini yang akan menyebabkan udara mengalir masuk ke dalam rongga dada.
Sesuai dengan hukum Boyle, setiap peningkatan volume ruang akan diikuti dengan penurunan tekanan udara. Untuk menciptakan kondisi vacuum atau sub-atmosferik ini maka ruang dada akan membesar dengan dua cara. Cara pertama yaitu alas ruang yang bertambah rendah melalui mendatarnya selaput diafragma (dikenal sebagai pernafasan perut/diafragma). Dan cara kedua yaitu dinding ruang yang meluas melalui mekanisme peninggian tulang rusuk (dikenal sebagai pernafasan dada). Cara yang kedua ini menimbulkan gerakan pernafasan yang sangat mempengaruhi pegangan senapan karena jika kita menyandarkan lengan pemegang senapan kita pada dinding dada. Kita akan melihat senapan akan bergerak naik turun pada saat bernafas.

Gambaran mekanisme pengembangan rongga dada dalam bernafas. Gambar sebelah kiri adalah fase inhalasi di mana rongga dada membesar dengan cara tulang rusuk bergerak ke atas karena kontraksi otot antar rusuk dan selaput diafragma mendatar atau bergerak ke arah bawah. Pada gambar sebelah kanan adalah fase ekshalasi di mana secara pasif tulang rusuk akan kembali turun dan selaput diafragma akan bergerak naik.

Jumat, 17 Januari 2014

Referat Marksmanship Bagian 2: Cara Membidik (Aiming) dan Parallax

Bagian 1 Cara Memegang Senapan (Steady Hold)
Artikel Terkait Menembak dengan Visier (Iron Sight)

Pada artikel ini saya akan melanjutkan catatan saya mengenai topik marksmanship. Setelah mengenal cara memegang senapan dengan baik, langkah berikutnya dalam praktek dasar menembak tepat adalah membidik. Bagi para penembak, kegiatan membidik adalah suatu hal yang otomatis dikerjakan. Apalagi pada masa sekarang saat pilihan alat bidik berbasis lensa sangat melimpah dan tersedia murah. Rasanya tidak ada kesulitan berarti bagi penembak pemula sekalipun untuk melakukan proses membidik dengan mudah dan tetap menghasilkan grouping yang rapat. Begitu pula saya. Sampai saya memiliki beberapa jenis senapan dan menemukan bahwa beberapa di antaranya cukup sulit untuk dikuasai.
Dalam proses membidik, penembak berusaha meluruskan pandangan matanya terhadap alat bidik dan sasaran yang dilihatnya (rifle-sight alignment). Dalam pernyataan yang saya kutip ini terkandung berbagai komponen yang terlibat yaitu mata, alat bidik dan sasaran. Proses membidik ini akan sulit dikuasai tanpa menguasai dasar lainnya yaitu pegangan senapan.

Ilustrasi kelurusan penglihatan terhadap visier dan sasaran.

Untuk mengetahui kesulitan yang bisa timbul dalam usaha membidik, tentunya saya harus memulai untuk mengetahui karakteristik masing-masing komponen yang terlibat. Pada artikel terkait sebelumnya, saya telah menyinggung mengenai komponen alat bidik. Dalam artikel ini saya akan coba menggali lebih dalam tentang komponen mata.
Sebagian besar artikel ini saya ambil sebagai tulang punggung artikel saya dengan ungkapan terima kasih yang tak terhingga untuk para kontributor dari http://www.usashooting.org/ Silahkan untuk mempelajarinya sendiri untuk pengalaman dan masukan yang lebih lengkap.

Sabtu, 11 Januari 2014

Referat Marksmanship Bagian 1: Cara Memegang Senapan (Steady Hold)

Marksmanship sendiri dalam arti kamusnya adalah kemampuan untuk menembak sasaran secara tepat. Seorang marksman adalah seseorang yang memiliki kemampuan menembak sasaran secara tepat. Keahlian ini lahir dari pengetahuan dan disiplin latihan jangka panjang. Keahlian ini mendapatkan tempat terhormat dalam masyarakat.

Lukisan tentang keahlian menembak dengan busur panah pada jaman Cina kuno. Diambil dari: http://www.chinaarchery.org/archives/272

Pada jaman dahulu, marksmanship adalah salah satu keahlian wajib yang dipelajari oleh kaum bangsawan. Dalam berbagai lukisan dan relief terlihat bagaimana kaum bangsawan menggunakan anak panah dan busur untuk menembak berbagai sasaran. Dalam beberapa kitab dan sastra kuno kemampuan menembak jitu mendapatkan tempat terhormat. Tercatat kisah David (Daud) muda yang dapat menumbangkan raksasa Goliath dengan sekali lemparan batu menggunakan umban dan sekaligus mengakhiri peperangan dengan kemenangan. Atau dalam peperangan di padang Kurusetra dalam kisah Mahabarata di mana keahlian Arjuna melepaskan panah Pasopati menyebabkan gugurnya Adipati Karna yang menjadi antiklimaks dan kekalahan bagi pihak Kurawa.

Kamis, 02 Januari 2014

Referat: Karakteristik Senapan Per

Selamat Tahun Baru 2014. Semoga tahun ini menjadi tahun yang lebih baik bagi kita semua dan baik pula bagi perkembangan hobi yang kita cintai bersama ini.
***
Di Indonesia, senapan angin yang populer adalah senapan yang ditenagai oleh prinsip pneumatik. Senapan-senapan pneumatik ini bekerja dengan prinsip pelepasan tenaga udara yang dimampatkan. Baik senapan pompa, gejluk dan PCP semua bekerja dengan prinsip yang sama.
Sangat sulit untuk menemukan senapan per (sping piston) di Indonesia khususnya yang diproduksi di dalam negeri. Bahkan lebih sulit lagi untuk menemukan referensi yang dapat bercerita banyak mengenai senapan berjenis yang satu ini. Cara paling mudah untuk mempelajarinya bagi saya adalah, miliki satu senapan jenis ini lalu mempraktekan apa yang saya baca. Dengan demikian, pengalaman dalam menggunakan senapan jenis inilah yang akan menjadi guru saya. Tentunya dengan membandingkan dengan berbagai referensi dari berbagai sumber di dalam maupun di luar negeri.
Dalam artikel kali ini saya masukkan catatan saya yang saya rangkumkan dari pembelajaran saya mengenai karakteristik senapan per.

Senapan fixed barrel dan senapan break barrel yang saya miliki.

Sabtu, 14 Desember 2013

Referat: Bagaimana Alur Sebuah Laras Dibentuk

Pada artikel kali ini saya memasukkan rangkuman saya terhadap cara membentuk alur dalam laras (rifling). Perkenalan saya sendiri terhadap keberadaan alur dalam laras terjadi saat saya mendapatkan kuliah mengenai forensik. Dan saya saat itu benar-benar kagum bagaimana caranya membuat peluru dapat berputar saat melaju. Dan saya kagum bagaimana caranya bisa membuat alur berbentuk spiral dalam suatu silinder yang sangat sempit untuk sebuah jari dapat masuk ke dalamnya. Saya waktu itu sempat berimajinasi kalau ada sekumpulan peri kecil yang memahat bagian dalam silinder sebuah laras.
Laras beralur pada awalnya ditemukan di Ausburg, Jerman pada akhir abad ke-15. Laras beralur baru populer dan menjadi barang umum pada pertengahan abad ke-19. Sebelum kelahiran laras beralur ini, sebuah peluru yang saat itu berbentuk bola dilontarkan melalui laras yang tidak beralur (smoothbore). Penggunaan laras beralur memberi banyak peningkatan terhadap akurasi, terutama pada jarak tembak yang jauh.

Potongan melintang dan terminologi dalam alur laras. Diambil dari: http://firearmshistory.blogspot.com/2010/05/rifling-terminology.html

Perhatian! Artikel terdiri dari banyak gambar dan tautan yang akan mempengaruhi kualitas tampilan pada koneksi internet yang buruk.

Jumat, 06 Desember 2013

Referat: Canting dan Scope Level

Pernahkah anda memperhatikan posisi senapan anda saat anda menembak? Maksud saya adalah bagaimana kemiringan senapan kita, pada sudut berapa popor kita berada dari sumbu laras atau titik tengah crosshair? Tentu biasanya kita menembak atau menempatkan senapan pada posisi popor di pukul 06. Namun apakah selalu begitu? Apakah kita yakin posisi kita menempatkan popor selalu berada di pukul 06? Lalu, apa masalahnya dengan tidak menempatkan senapan pada posisi yang sama? Apakah akan menjadikan akurasi tembakan kita terganggu?
Pada artikel ini saya mencoba merangkum pembelajaran saya tentang perbedaan posisi kemiringan senapan pada sumbu laras dan pengaruhnya terhadap akurasi. Hal ini menarik perhatian saya sejak dulu dan baru saja saya temui jawabannya akhir-akhir ini. Isu ini didapatkan pada pengguna senapan yang berjenis single shot dan biasa menembak pada jarak yang sangat jauh. Sebelum saya lupa dengan apa yang saya pelajari, baiklah saya masukkan ke dalam catatan pembelajaran saya.


Pegangan senapan yang disengaja mengalami miring ekstrim terhadap sumbu laras. Diambil dari http://www.thefirearmblog.com/blog/2011/03/31/surefire-rapid-transition-sights-dd-rts-set/
Perhatian! Artikel terdiri dari banyak ilustrasi. Tampilan mungkin akan terganggu pada koneksi internet yang buruk.

Minggu, 01 Desember 2013

Referat: Memasang Telescope/Riflescope dan Permasalahannya

Artikel ini adalah catatan saya yang berisi tentang cara pemasangan rifle scope yang saya anut sampai saat ini. Pada awalnya saya hanya ingin mencatat cara saya memasang rifle scope. Namun saat saya menyusun artikel ini dan belajar kembali dari berbagai sumber, ternyata perkara sepele yang biasa saya lakukan telah berubah menjadi topik yang panjang dan kaya. Catatan ini akhirnya dibuat sebagai memoir saya dari pembelajaran saya mengenai pemasangan rifle scope sehingga bila dalam perkembangannya terdapat cara lain yang lebih baik, cara ini dapat saya koreksi di lain waktu.
Walaupun biasanya mudah, tampaknya memasang rifle scope sendiri bisa menjadi urusan yang rumit jika semakin didalami. Jadi suatu hal bisa dibuat sederhana ataupun rumit tergantung ketertarikan seseorang. Bagi saya, semakin mempelajari urusan yang satu ini, maka semakin banyak potensi permasalahan yang bisa timbul.

Rifle scope dan bagian-bagian luarnya. Diambil dari: http://www.airrifle.co.za/threads/4758-How-to-Choose-a-Scope-(RifleScope)

Sebelum membuka artikel ini perlu saya peringatkan bahwa artikel ini memiliki banyak ilustrasi atau gambar yang akan berpengaruh pada internet berbasis kuota dan mungkin sulit terlihat pada kualitas jaringan internet yang buruk.

Kamis, 14 November 2013

Referat: Menembak dengan Visier (Iron Sight)


Setelah berhasil mendapatkan grouping di bawah 10 mm pada jarak 20-30 meter menggunakan Sharp Ace saya, saya mulai kehilangan tantangan dalam menembak target. Okelah, saya sudah bisa secara konsisten menembak secara akurat dengan menggunakan rifle scope. Tapi mau ke mana visi menembak saya? Saya hanya baru menembak dengan cara termudah. Hanya duduk, menyandarkan senapan saya, mengintip rifle scope dan menekan picu setenang mungkin. Crosshair dan pemandangan ekstra besarlah yang terutama membantu saya. Bagaimana posisi saya di hirarki dunia menembak target? Hanya berada di tingkat terendah.
Sampai senapan saya yang kedua (ketiga tepatnya) datang. Springer yang membuat saya ngeri untuk menempatkan rifle scope murahan saya. Ngeri karena hentakan recoil-nya yang katanya bisa merontokkan dalaman rifle scope yang tidak didesain memenuhi grade recoil. Kekhawatiran bahwa minimal saya tidak akan mendapatkan titik acuan yang tepat kerena titik zero yang berubah-ubah akibat kocokan pada scope ini.
Setelah saya melihat melihat visier belakang HW 77 saya, timbul ketertarikan saya untuk menggunakan visier ini. Bagaimana perancang senapan ini meluangkan perhatiannya untuk merancang visier yang begitu kokoh dan memberi banyak pilihan notch. Lalu saya kembali membuka tool box saya dan melihat bagaimana visier bawaan Sharp Ace saya masih rapi tak tersentuh namun berkarat sejak pertama kali saya menebus senapan ini. Visier belakang yang berupa lubang (peep sight). Ternyata saya telah memiliki banyak pilihan untuk mengeksplorasi dunia menembak dengan visier. Kenapa tidak saya coba? Bukannya penembak terbaik tingkat olimpiade bahkan tidak memerlukan lensa di antara mata dan sasarannya. Kembali teringat komentar mertua saya saat saya sedang berlatih "Wah, Kalau pakai tele sih gak ada tantangannya." Seruan yang dulu saya anggap lalu karena merasa penembak jaman dulu tidak mengenal riflle scope dan hanya bisa bersikap sinis.
Baiklah, mungkin saya terlalu cepat melangkah di dunia menembak dan kehilangan dasar-dasar terpentingnya. Bagaimana cara penembak mula-mula menembak tanpa rifle scope dan menciptakan sejarah. Bahkan cara yang sama masih terpelihara sampai sekarang sehingga tidak ada cabang olah raga menembak resmi (kecuali field target) yang mengijinkan menggunakan rifle scope. Mundur dan kembali belajar dari dasar adalah tantangan saya berikutnya. Dan bahkan sementara ini saya tidak perlu khawatir untuk menebus rifle scope baru untuk senapan HW 77 saya.

Visier belakang Weihrauch HW 77 tipe blade sight dengan berbagai pilihan notch.

Senin, 21 Oktober 2013

Referat Balistik Bagian 2: Ballistic Range, Trajectory dan Aplikasinya.

Bagaimana sakit kepala anda setelah membaca artikel saya sebelumnya dalam seri referat balistik ini? Saya sendiri butuh banyak waktu untuk memulihkan diri dan merenung sebelum akhirnya cukup berani untuk memublikasikan artikel saya itu. Namun setelah semua sakit kepala itu, apa intinya dan tentunya apa manfaatnya buat saya? Apakah dengan mempelajari itu semua akan membuat saya menjadi penembak yang lebih baik? Itulah pertanyaan yang terbesar.

***

Pada Bagian 1 saya telah membahas gaya-gaya yang mempengaruhi kelajuan mimis dan keberadaan konsep Ballistic Coefficient (BC). Semua hal yang telah diulas sebelumnya akan bermuara pada perkiraan jarak/jangkauan balistik (ballistic range) dan lintasan terbang mimis (trajectory). Informasi BC mimis yang akurat akan memberikan perkiraan yang akurat atau setidaknya mendekati akurat dari kedua hal itu. Dalam menentukan ballistic range dan trajectory ini, saya akan menggunakan bantuan kalkulator balistik. Kalkulator balistik yang saya gunakan adalah ChairGun Pro yang banyak mendapat ulasan positif oleh para penggunanya.

Rabu, 16 Oktober 2013

Referat Balistik Bagian 1: Ballistic Coefficient (BC) dan Kecepatan Mimis

Tampaknya saat ini kita telah memasuki musim penghujan. Waktu yang tersedia bagi saya untuk melatih tembakan saya di halaman semakin terbatas dan beberapa materi observasional harus menunggu juga sampai perbaikan performa senapan saya dikerjakan. Waktu yang tepat untuk memikirkan dan belajar suatu topik yang lebih berat. Pada artikel kali ini saya berusaha memahami misteri kecepatan mimis dan istilah ballistic coefficient. Jujur banyak kesulitan dalam saya mempelajari materi ini karena seperti yang saya katakan sebelumnya; saya alergi dengan berbagai rumus matematika dan fisika. Namun demi memberi pengertian yang lengkap dan benar saya coba mencernanya pelan-pelan. Sebagian besar artikel saya kali ini saya ambil dari tulisan Profesor Mike Wright dalam kolom Technical Airgun dari majalah Airgun Sport yang entah diterbitkan pada edisi yang mana. Selengkapnya dapat anda unduh pada situs ini.
Karena ternyata pokok bahasan ini sangat sulit untuk saya ringkas, saya akan memecah pokok bahasan ini ke dalam beberapa bagian.

***

Pernahkah anda berpikir kapankah saatnya mimis mencapai kecepatan maksimalnya? Saya selalu memikirkannya saat pertama kali mempelajari senapan angin. Berpikir dan berasumsi dengan konsep fisika klasik pada gerakan parabolik benda (berdasarkan kenangan buruk saya pada soal-soal fisika semasa SMU), saya selalu berkhayal bahwa suatu mimis masih mengalami percepatan/akselerasi sepanjang lintasannya. Tapi ternyata saya salah paham. Konsep antara gerakan parabolik pada suatu benda yang diluncurkan dan pada suatu proyektil senjata api/senapan angin ternyata berbeda. Bahkan studi fenomena ini sudah menjadi suatu disiplin ilmu khusus yang digolongkan dalam studi transitional ballistic/intermediate ballistic yang merupakan bagian dari external ballistic.

Jumat, 04 Oktober 2013

Referat: Senapan Angin Kaliber 4.5 mm Itu Mematikan

Sebagai silent reader di berbagai forum senapan angin, saya sering tergelitik dengan pertanyaan yang bertema kemampuan membunuh sebuah senapan angin. Entah maksud pertanyaan tersebut sebagai concern atas masalah keselamatan (safety) atau memang ada niatan tidak baik tertentu. Tapi apapun itu sepertinya jiwa dokter dan ilmuwan saya harus urun pendapat mengenai hal tersebut.

Poster Kampanye Keselamatan Penggunaan Replika Senapan dan Senapan Angin di Kepolisian South Wales. Diambil dari: http://www.south-wales.police.uk/news/police-campaign-warns-of-air-guns-imitation-guns/

Senin, 30 September 2013

Referat: Mengapa Sebuah Mimis Dapat Stabil Meluncur?

Sewaktu saya memulai hobi senapan angin saya, timbul suatu pertanyaan. Kenapa bentuk mimis senapan angin tidak bulat sempurna atau berbentuk lonjong layaknya peluru senapan api? Bahkan sebelum saya mengenal senapan angin, saya sudah melihat gambaran mimis senapan angin ini pada gambaran foto rontgen seorang korban senapan angin dan saat itu saya terheran-heran dengan bentuk benda ini.

Sebuah mimis senapan angin pada umumnya dirancang sebagai dua buah struktur yang digabungkan menjadi satu. Struktur pertama adalah rok (skirt) dan struktur kedua adalah kepala (head). Alih-alih kedua struktur ini disatukan dalam suatu silinder yang lurus, mereka malah disatukan dengan bentuk silinder bikonkaf dan dinamakan pinggang (waist). Bentuk ini dinamakan "diabolo" atau dua bola.

Rabu, 18 September 2013

Referat: Apa Itu Grouping dan Center-to-Center?

Posting ini adalah sari pembelajaran dari berbagai situs dan forum mengenai metoda penghitungan grouping mimis. Saya merasa perlu mempelajari metoda ukur grouping untuk memberikan pengertian yang benar, hasil yang dapat dipercaya, dan akhirnya keseragaman persepsi mengenai istilah center-to-center.

Bagaimana akurasi menembak dinilai? 
Pertanyaan ini yang menjadi pemikiran saya sewaktu memulai hobi menembak ini. Saya salah satu penikmat suguhan video di Youtube. Awalnya saya sangat terkesan dengan kemampuan para penembak di sana. Sasaran yang sangat jauh dan kecil dapat ditembak dengan tepat pada "sekali" percobaaan. Saya mulai berlatih untuk mendapatkan hasil yang serupa dengan senapan yang saya miliki. Banyak waktu dan mimis saya habiskan untuk mencapai hasil seperti para penembak tersebut. Namun permasalahannya, apakah saya telah mengalami peningkatan? Adakah indikator yang dapat dipercaya untuk peningkatan akurasi menembak?

Sabtu, 14 September 2013

Referat: Apa Itu Muzzle Energy?

Pada postingan kali ini akan saya masukkan juga referat yang diambil dari beberapa sumber yang menjadi catatan saya dalam memperkaya pengetahuan mengenai hobi senapan angin.

H&N Sport Field Target Trophy. Apa yang dimaksud dengan 16 J?

Dalam pembelajaran saya, menemukan nilai standar dari potensi kecepatan suatu senapan hampir dikatakan tidak mungkin. Alasannya adalah, suatu senapan menghasilkan kecepatan yang berbeda-beda tergantung desain dan terutama berat mimis yang digunakannya. Logikanya apabila energi yang dihasilkan senapan adalah konstan, maka energi tersebut akan menyebabkan mimis yang lebih ringan melaju lebih cepat daripada mimis yang lebih berat.