Tampilkan postingan dengan label marksmanship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label marksmanship. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Agustus 2014

Referat: MOA, Mil, dan Mil Dot pada Rifle Scope. Apa Kegunaannya?

Rifle scope tidak dapat dipungkiri adalah alat bidik terpopuler saat ini untuk mendampingi keberadaan senapan. Dalam kodratnya untuk mempermudah dalam menembak maupun sekedar mempercantik tampilan senapan, ada baiknya saya mengenal lebih baik lagi fitur dari suatu rifle scope. Salah satu yang membuat kebanyakan dahi berkerut saat mengamati rifle scope adalah angka-angka di balik knob pengaturan suatu rifle scope.
Kebanyakan dari penembak pemula seperti saya akan segera melewati bagian yang rumit ini dan segera mencari jarak ternyaman untuk menempatkan lubang mimis tepat di bagian tengah cross hair. Asumsinya dalam penggunaan di lapangan tidak ada yang terlalu peduli bagaimana dan di mana suatu mimis akan mendarat nantinya. Karena jarak yang dipergunakan dalam perburuan terlalu dekat untuk variasi jatuhnya mimis dan ukuran sasaran terlalu besar. Matematika rasanya tidak terlalu bermanfaat di dunia nyata.
Namun berbeda adanya jika seorang penembak ikut serta dalam suatu kompetisi menembak dengan jarak yang sudah ditentukan seperti kompetisi metal silhouette. Tidak ada salahnya jika saya belajar sedikit sebelum nantinya ada kesempatan untuk memraktikannya.


Sebuah rifle scope dengan mil dot reticle.

Sabtu, 03 Mei 2014

Referat Marksmanship Bagian 4: Kontrol Picu (Trigger Control)

Bagian 1 Cara Memegang Senapan
Bagian 2 Cara Membidik dan Parallax
Bagian 3 Cara Bernafas

Menarik picu adalah salah satu dasar dari kemampuan markmanship yang patut dikuasai untuk mengeksekusi tembakan yang bermutu. Begitu pentingnya kemampuan ini sehingga sub bagian ini saja memerlukan penekanan sendiri dan mendapatkan namanya sendiri yaitu teknik kontrol picu (trigger control). Dalam melakukan penekanan picu ada dua elemen vital yang terlibat yaitu (1) Penekanan picu tidak boleh mengganggu posisi senapan yang telah diatur melalui langkah sebelumnya (lihat Bagian 1 dan Bagian 2) dan (2) Penekanan picu harus dilakukan dalam periode yang sangat singkat yaitu di antara jeda pernafasan (respiratory pause, lihat Bagian 3).

Kontrol picu adalah salah satu dasar markmanship. Gambar diambil dari: http://www.outdoorlife.com/blogs/gun-shots/2013/04/dry-fire-key-better-rifle-accuracy-and-trigger-control

Kamis, 13 Februari 2014

Referat Marksmanship Bagian 3: Kontrol Pernafasan (Breath Control)

Bagian 1 Cara Memegang Senapan
Bagian 2 Cara Membidik dan Parallax

Pada artikel kali ini saya akan memaparkan hasil pencarian saya terhadap teknik kontrol pernafasan. Setelah mengetahui dasar menembak tepat yaitu pegangan senapan dan membidik, langkah berikutnya yang perlu dipelajari adalah teknik pernafasan. Mengatur pernafasan penting keberadaannya dalam menembak tepat. Bernafas mutlak dilakukan. Dalam kontrol pernafasan kita berusaha mengontrol pergerakan tubuh kita agar dapat mengeksekusi suatu tembakan yang sempurna. Maka untuk melakukan hal tersebut, setidaknya kita perlu mengetahui hal apa saja yang berhubungan dengan proses bernafas.
Artikel ini ditulangbelakangi dari artikel yang diterbitkan di www.usashooting.org pada bulan Mei-Juni 2011. Artikel selengkapnya dapat disimak di sini untuk memberi gambaran dan pengalaman pembelajaran pribadi yang lebih lengkap. Terima kasih kepada kontributor.

Bagaimana Manusia Bernafas dan Pengaruhnya dalam Menembak
Semua orang juga mengerti bahwa kita perlu bernafas. Dengan bernafas kita memasok kebutuhan oksigen seluruh tubuh kita dari paru-paru untuk kemudian disirkulasikan oleh peredaran darah jantung. Dalam pernafasan juga kita membuang produk metabolisme berupa gas asam arang (karbon dioksida, CO2). Namun karena artikel ini tentang hal-hal yang berhubungan dengan ketepatan menembak, baiklah saya mengambil beberapa hal yang berhubungan saja.
Paru-paru tidak mengembang dengan sendirinya. Untuk memasukkan udara segar dengan komposisi rata-rata oksigen 21% ke dalam paru-paru, maka rongga dada perlu menciptakan kondisi vacuum atau sedikit di bawah tekanan atmosfer. Perbedaan tekanan ini yang akan menyebabkan udara mengalir masuk ke dalam rongga dada.
Sesuai dengan hukum Boyle, setiap peningkatan volume ruang akan diikuti dengan penurunan tekanan udara. Untuk menciptakan kondisi vacuum atau sub-atmosferik ini maka ruang dada akan membesar dengan dua cara. Cara pertama yaitu alas ruang yang bertambah rendah melalui mendatarnya selaput diafragma (dikenal sebagai pernafasan perut/diafragma). Dan cara kedua yaitu dinding ruang yang meluas melalui mekanisme peninggian tulang rusuk (dikenal sebagai pernafasan dada). Cara yang kedua ini menimbulkan gerakan pernafasan yang sangat mempengaruhi pegangan senapan karena jika kita menyandarkan lengan pemegang senapan kita pada dinding dada. Kita akan melihat senapan akan bergerak naik turun pada saat bernafas.

Gambaran mekanisme pengembangan rongga dada dalam bernafas. Gambar sebelah kiri adalah fase inhalasi di mana rongga dada membesar dengan cara tulang rusuk bergerak ke atas karena kontraksi otot antar rusuk dan selaput diafragma mendatar atau bergerak ke arah bawah. Pada gambar sebelah kanan adalah fase ekshalasi di mana secara pasif tulang rusuk akan kembali turun dan selaput diafragma akan bergerak naik.

Jumat, 17 Januari 2014

Referat Marksmanship Bagian 2: Cara Membidik (Aiming) dan Parallax

Bagian 1 Cara Memegang Senapan (Steady Hold)
Artikel Terkait Menembak dengan Visier (Iron Sight)

Pada artikel ini saya akan melanjutkan catatan saya mengenai topik marksmanship. Setelah mengenal cara memegang senapan dengan baik, langkah berikutnya dalam praktek dasar menembak tepat adalah membidik. Bagi para penembak, kegiatan membidik adalah suatu hal yang otomatis dikerjakan. Apalagi pada masa sekarang saat pilihan alat bidik berbasis lensa sangat melimpah dan tersedia murah. Rasanya tidak ada kesulitan berarti bagi penembak pemula sekalipun untuk melakukan proses membidik dengan mudah dan tetap menghasilkan grouping yang rapat. Begitu pula saya. Sampai saya memiliki beberapa jenis senapan dan menemukan bahwa beberapa di antaranya cukup sulit untuk dikuasai.
Dalam proses membidik, penembak berusaha meluruskan pandangan matanya terhadap alat bidik dan sasaran yang dilihatnya (rifle-sight alignment). Dalam pernyataan yang saya kutip ini terkandung berbagai komponen yang terlibat yaitu mata, alat bidik dan sasaran. Proses membidik ini akan sulit dikuasai tanpa menguasai dasar lainnya yaitu pegangan senapan.

Ilustrasi kelurusan penglihatan terhadap visier dan sasaran.

Untuk mengetahui kesulitan yang bisa timbul dalam usaha membidik, tentunya saya harus memulai untuk mengetahui karakteristik masing-masing komponen yang terlibat. Pada artikel terkait sebelumnya, saya telah menyinggung mengenai komponen alat bidik. Dalam artikel ini saya akan coba menggali lebih dalam tentang komponen mata.
Sebagian besar artikel ini saya ambil sebagai tulang punggung artikel saya dengan ungkapan terima kasih yang tak terhingga untuk para kontributor dari http://www.usashooting.org/ Silahkan untuk mempelajarinya sendiri untuk pengalaman dan masukan yang lebih lengkap.

Sabtu, 11 Januari 2014

Referat Marksmanship Bagian 1: Cara Memegang Senapan (Steady Hold)

Marksmanship sendiri dalam arti kamusnya adalah kemampuan untuk menembak sasaran secara tepat. Seorang marksman adalah seseorang yang memiliki kemampuan menembak sasaran secara tepat. Keahlian ini lahir dari pengetahuan dan disiplin latihan jangka panjang. Keahlian ini mendapatkan tempat terhormat dalam masyarakat.

Lukisan tentang keahlian menembak dengan busur panah pada jaman Cina kuno. Diambil dari: http://www.chinaarchery.org/archives/272

Pada jaman dahulu, marksmanship adalah salah satu keahlian wajib yang dipelajari oleh kaum bangsawan. Dalam berbagai lukisan dan relief terlihat bagaimana kaum bangsawan menggunakan anak panah dan busur untuk menembak berbagai sasaran. Dalam beberapa kitab dan sastra kuno kemampuan menembak jitu mendapatkan tempat terhormat. Tercatat kisah David (Daud) muda yang dapat menumbangkan raksasa Goliath dengan sekali lemparan batu menggunakan umban dan sekaligus mengakhiri peperangan dengan kemenangan. Atau dalam peperangan di padang Kurusetra dalam kisah Mahabarata di mana keahlian Arjuna melepaskan panah Pasopati menyebabkan gugurnya Adipati Karna yang menjadi antiklimaks dan kekalahan bagi pihak Kurawa.

Jumat, 06 Desember 2013

Referat: Canting dan Scope Level

Pernahkah anda memperhatikan posisi senapan anda saat anda menembak? Maksud saya adalah bagaimana kemiringan senapan kita, pada sudut berapa popor kita berada dari sumbu laras atau titik tengah crosshair? Tentu biasanya kita menembak atau menempatkan senapan pada posisi popor di pukul 06. Namun apakah selalu begitu? Apakah kita yakin posisi kita menempatkan popor selalu berada di pukul 06? Lalu, apa masalahnya dengan tidak menempatkan senapan pada posisi yang sama? Apakah akan menjadikan akurasi tembakan kita terganggu?
Pada artikel ini saya mencoba merangkum pembelajaran saya tentang perbedaan posisi kemiringan senapan pada sumbu laras dan pengaruhnya terhadap akurasi. Hal ini menarik perhatian saya sejak dulu dan baru saja saya temui jawabannya akhir-akhir ini. Isu ini didapatkan pada pengguna senapan yang berjenis single shot dan biasa menembak pada jarak yang sangat jauh. Sebelum saya lupa dengan apa yang saya pelajari, baiklah saya masukkan ke dalam catatan pembelajaran saya.


Pegangan senapan yang disengaja mengalami miring ekstrim terhadap sumbu laras. Diambil dari http://www.thefirearmblog.com/blog/2011/03/31/surefire-rapid-transition-sights-dd-rts-set/
Perhatian! Artikel terdiri dari banyak ilustrasi. Tampilan mungkin akan terganggu pada koneksi internet yang buruk.

Kamis, 14 November 2013

Referat: Menembak dengan Visier (Iron Sight)


Setelah berhasil mendapatkan grouping di bawah 10 mm pada jarak 20-30 meter menggunakan Sharp Ace saya, saya mulai kehilangan tantangan dalam menembak target. Okelah, saya sudah bisa secara konsisten menembak secara akurat dengan menggunakan rifle scope. Tapi mau ke mana visi menembak saya? Saya hanya baru menembak dengan cara termudah. Hanya duduk, menyandarkan senapan saya, mengintip rifle scope dan menekan picu setenang mungkin. Crosshair dan pemandangan ekstra besarlah yang terutama membantu saya. Bagaimana posisi saya di hirarki dunia menembak target? Hanya berada di tingkat terendah.
Sampai senapan saya yang kedua (ketiga tepatnya) datang. Springer yang membuat saya ngeri untuk menempatkan rifle scope murahan saya. Ngeri karena hentakan recoil-nya yang katanya bisa merontokkan dalaman rifle scope yang tidak didesain memenuhi grade recoil. Kekhawatiran bahwa minimal saya tidak akan mendapatkan titik acuan yang tepat kerena titik zero yang berubah-ubah akibat kocokan pada scope ini.
Setelah saya melihat melihat visier belakang HW 77 saya, timbul ketertarikan saya untuk menggunakan visier ini. Bagaimana perancang senapan ini meluangkan perhatiannya untuk merancang visier yang begitu kokoh dan memberi banyak pilihan notch. Lalu saya kembali membuka tool box saya dan melihat bagaimana visier bawaan Sharp Ace saya masih rapi tak tersentuh namun berkarat sejak pertama kali saya menebus senapan ini. Visier belakang yang berupa lubang (peep sight). Ternyata saya telah memiliki banyak pilihan untuk mengeksplorasi dunia menembak dengan visier. Kenapa tidak saya coba? Bukannya penembak terbaik tingkat olimpiade bahkan tidak memerlukan lensa di antara mata dan sasarannya. Kembali teringat komentar mertua saya saat saya sedang berlatih "Wah, Kalau pakai tele sih gak ada tantangannya." Seruan yang dulu saya anggap lalu karena merasa penembak jaman dulu tidak mengenal riflle scope dan hanya bisa bersikap sinis.
Baiklah, mungkin saya terlalu cepat melangkah di dunia menembak dan kehilangan dasar-dasar terpentingnya. Bagaimana cara penembak mula-mula menembak tanpa rifle scope dan menciptakan sejarah. Bahkan cara yang sama masih terpelihara sampai sekarang sehingga tidak ada cabang olah raga menembak resmi (kecuali field target) yang mengijinkan menggunakan rifle scope. Mundur dan kembali belajar dari dasar adalah tantangan saya berikutnya. Dan bahkan sementara ini saya tidak perlu khawatir untuk menebus rifle scope baru untuk senapan HW 77 saya.

Visier belakang Weihrauch HW 77 tipe blade sight dengan berbagai pilihan notch.

Senin, 21 Oktober 2013

Referat Balistik Bagian 2: Ballistic Range, Trajectory dan Aplikasinya.

Bagaimana sakit kepala anda setelah membaca artikel saya sebelumnya dalam seri referat balistik ini? Saya sendiri butuh banyak waktu untuk memulihkan diri dan merenung sebelum akhirnya cukup berani untuk memublikasikan artikel saya itu. Namun setelah semua sakit kepala itu, apa intinya dan tentunya apa manfaatnya buat saya? Apakah dengan mempelajari itu semua akan membuat saya menjadi penembak yang lebih baik? Itulah pertanyaan yang terbesar.

***

Pada Bagian 1 saya telah membahas gaya-gaya yang mempengaruhi kelajuan mimis dan keberadaan konsep Ballistic Coefficient (BC). Semua hal yang telah diulas sebelumnya akan bermuara pada perkiraan jarak/jangkauan balistik (ballistic range) dan lintasan terbang mimis (trajectory). Informasi BC mimis yang akurat akan memberikan perkiraan yang akurat atau setidaknya mendekati akurat dari kedua hal itu. Dalam menentukan ballistic range dan trajectory ini, saya akan menggunakan bantuan kalkulator balistik. Kalkulator balistik yang saya gunakan adalah ChairGun Pro yang banyak mendapat ulasan positif oleh para penggunanya.